32 C
Semarang
Rabu, 23 Juni 2021

Saya Ingin Imlek Lebih Membumi

Harjanto Halim

“Kalau saya, Tionghoa Indonesia, bukan Tionghoa di China, bukan Tionghoa di Singapura.”

RADARSEMARANG.COM – Dalam sejumlah peristiwa—utamanya politik—isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) kerap mencuat. Masyarakat etnis Tionghoa, seringkali menjadi sasaran isu SARA. Padahal, mereka juga berperan dalam mengusung rasa kebangsaan, sama dengan etnis lainnya.

Apa pendapat Harjanto Halim, seorang tokoh Tionghoa di Kota Semarang mengenai hal ini? Berikut petikan wawancara Jawa Pos Radar Semarang dengan pria yang juga menjabat sebagai Ketua Perkumpulan Sosial Boen Hian Tong, akhir pekan lalu.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini, bagaimana pandangan komunitas Tionghoa, terutama dalam hal nasionalisme dan persatuan Indonesia?

Jadi sebenarnya sebagai minoritas itu sudah keniscayaan untuk mendukung keberagaman, kebangsaan yang sudah diusung sejak Indonesia merdeka. Jadi, kalaupun ada Tionghoa yang tidak (memiliki rasa nasionalisme), menurut saya mungkin sekarang sudah menjadi bagian yang kecil, sudah jadi pendapat pribadi. Jadi secara umum, (masyarakat) Tionghoa, mereka akan mengusung tema nasionalisme dan keberagaman yang ada di Indonesia.

Dalam beberapa hal, sering ada provokasi-provokasi yang menyasar komunitas Tionghoa. Bagaimana Anda melihat hal seperti ini?

Mungkin ada (provokasi-provokasi terhadap etnis Tionghoa). Tapi, sekarang ini, yang saya lihat, mungkin lebih ke arah agama. Kalau (diskriminasi) etnis, sekarang sudah tidak (banyak). Makanya, dalam Pasar Imlek kali ini, kita juga melihat bahwa Tionghoa, terutama di Semarang ini, sebenarnya sudah membumi sekali. Banyak kearifan lokal yang sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Makanya, ini coba kita angkat lagi, kita ingatkan kembali untuk komunitas Tionghoa maupun komunitas di luar Tionghoa. Seperti (penggunaan) tebu, daun jati.

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here