Berobsesi Mengalahkan Pramoedya Ananta Toer

  • Bagikan
BERADA DI PATABA: Soesilo Toer sedang memperlihatkan lukisan Pramoedya Ananta Toer kepada wartawan Jawa Pos Radar Kudus Noor Syafaatul Udhma di Perpustakaan Pataba Blora. (DOK. RADAR KUDUS)

Soesilo Toer yang menjadi pemulung sampah adalah adik Pramoedya Ananta Toer. Dia ingin mengalahkan kakaknya dalam berbagai sisi kehidupan. Sebagian telah tercapai.

NOOR SYAFAATUL UDHMA,Blora

”AKAN saya kalahkan Pram,’’ kata Soesilo Toer dengan lantang ketika ditanya mengenai obsesi hidupnya. Bibirnya yang tertutup kumis putih tampak bergetar. Sorot matanya menajam. Ditegakkan badannya dari sandaran kursi. Nyaris dia berdiri.

”Pram hanya menikah dua kali, saya tiga kali,” katanya berkelakar disertai tawa lepas. Dilirik Suratiyem, istri yang duduk menyerong di depannya. Sang istri yang mengenakan jilbab dan baju lengan panjang warna cokelat hanya mesam-mesem.

Pram yang dimaksud Soesilo adalah Pramoedya Ananta Toer. Seorang penulis terkenal di tanah air yang karyanya menjadi bacaan wajib di sebagian sekolah di Amerika Serikat. Seorang sastrawan yang dituding beraliran kiri oleh pemerintah orde lama dan orde baru. Pram adalah kakak kandung Soesilo yang menginspirasi adik-adiknya.

Sama dengan Pram, Soesilo juga dituding antek komunis. Dia pernah dijebloskan ke penjara tanpa pengadilan. Itu memengaruhi perjalanan hidupnya sampai akhirnya Soesilo menjadi pemulung. Meski demikian, Soesilo menerimanya dengan lapang dada. Sama juga dengan Pram. ”Ini kan perkara sudut pandang. Jadi tidak masalah,” ujarnya. Suaranya tiba-tiba melirih, kalah dengan derasnya hujan.

Sore itu ketika Soesilo ditemui wartawan Jawa Pos Radar Kudus, hujan mengguyur nyaris sepanjang siang sampai sore. Tak ada sejengkal tanah di halaman yang tidak tergenang air. Rumahnya bocor di mana-mana. Bahkan di dekat Soesilo duduk, ada dua panci yang dipergunakan menadahi tetesan air dari plafon. Beberapa tetesan lainnya dibiarkan.

Di rumah tua yang tak terawat itu Soesilo membangga-banggakan Pram. Namun, foto-foto Pram masih menempel di dinding ruang kerjanya yang lebih cocok disebut gudang. Di samping ruang itu juga ada kamar Pram yang dilestarikan. ”Dalam menulis pun saya sudah bisa mengalahkan Pram,” ujarnya lagi.

Kalau Pram menulis empat seri (tetralogi) novel, Soes berhasil membikin lima seri buku (pentalogi). Buku-buku Soes yang terkenal antara lain, Pram dari Dalam, Pram dalam Belenggu, Pram dalam Kelambu, Pram dalam Tungku, dan Pram dalam Buku. Semua tentang Pram. ”Pram itu pengarang. Sedangkan saya penulis. Ini dua pekerjaan yang berbeda,” tuturnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *