BERSIHKAN SISA BANJIR : Sejumlah warga dibantu petugas Dinas Kebakaran dan unsur lainnya membersihkan lumpur sisa banjir di SD Negeri Wonosari 01 Semarang. (kanan) Ruang kelas yang penuh lumpur. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERSIHKAN SISA BANJIR : Sejumlah warga dibantu petugas Dinas Kebakaran dan unsur lainnya membersihkan lumpur sisa banjir di SD Negeri Wonosari 01 Semarang. (kanan) Ruang kelas yang penuh lumpur. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG  Ribuan rumah warga di Kelurahan Wonosari, Kacamatan Ngaliyan, serta di Kelurahan Mangkang Wetan, Mangkang Kulon dan Mangunharjo, Kecamatan Tugu belum bisa beraktivitas normal pasca diterjang banjir bandang, Jumat (9/2) malam. Selain itu, banjir juga merendam sejumlah sekolah di dua kecamatan tersebut hingga proses belajar-mengajar Sabtu (10/2) kemarin terpaksa diliburkan.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, di wilayah Jalan Kuda, Kelurahan Wonosari, sempat tergenang air setinggi 1,5 meter karena tanggul Sungai Beringin di wilayah tersebut jebol. Selain itu, limpasan air di Sungai Plumbon juga membuat ratusan rumah di Perumahan Mangkang Indah, Kelurahan Wonosari juga terendam banjir yang cukup dalam. Bahkan limpasan air kedua sungai tersebut sempat menggenangi Jalan Pantura Semarang-Kendal hingga lumpuh total, dan menyebabkan kemacetan panjang dari kedua arah, baik ke arah Semarang maupun ke arah Kendal.

“Ini adalah banjir terparah sejak 5 tahun terakhir, mungkin saja terjadi karena hutan di daerah atas dijadikan jalan tol. Sehingga resapannya berkurang, ” kata Ismar Rohandik, warga Kelurahan Wonosari.

Sebelumnya, lanjut dia, banjir bandang sampai melumpuhkan jalur pantura terjadi pada 2010 lalu. Selain sendimentasi Sungai Beringin yang sudah sangat parah, diduga pembangunan proyek tol Semarang-Batang punya andil membuat wilayah Mangkang kembali terendam banjir.

“Sebelumnya tidak pernah separah ini, berkali-kali wilayah Mangkang banjir sejak dibangun tol. Belum lagi sendimentasi di Sungai Beringin dan Sungai Plumbon yang sudah sangat parah,” keluhnya.

M Kuaseni, warga RT 3 RW III Kelurahan Mangkang Wetan mengaku masih trauma atas musibah banjir yang baru saja terjadi. Pasalnya, limpasan air datang secara tiba-tiba dan dalam hitungan menit, rumah miliknya langsung terendam dengan ketinggian air mencapai 1 meter. “Banjir kali ini adalah yang terparah dibandingkan kemarin, air sungai langsung merangsek ke perkampungan secara cepat. Bahkan barang-barang berharga tidak ada yang bisa diselamatkan,” katanya.