33 C
Semarang
Minggu, 12 Juli 2020

Jemur Jersey Hingga Lelang untuk Amal

Lebih Dekat dengan Komunitas Jersey Semarang

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

RADARSEMARANG.COM – Kecintaan terhadap sepakbola, melahirkan hobi mengoleksi jersey. Para kolektor jersey klub bola yang jadi idola ini pun tergabung dalam komunitas. Namanya Komunitas Jersey Semarang. Seperti apa?

NURUL PRATIDINA

KOMUNITAS Jersey Semarang beranggotakan lebih dari 300 orang. Komunitas yang dibentuk pada pertengahan 2016 ini merupakan hasil merger para kolektor jersey dari dua genre, yakni jersey original dan lokal.

“Karena memiliki hobi yang sama  mengoleksi jersey, kenapa kita nggak jadi satu saja. Entah itu jersey ori atau lokal, entah mengoleksi jersey klub luar negeri maupun dalam negeri. Intinya, kita sama-sama suka mengoleksi jersey dan ingin lebih guyub antara satu dengan yang lainnya,” ujar Koordinator Komunitas Jersey Semarang, Muhammad Faisal Rachmansyah kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Berangkat dari kecintaan terhadap sepakbola, beberapa kegiatan yang digelar oleh komunitas ini pun tidak jauh-jauh dari olahraga yang cukup merakyat ini. Di antaranya, fun soccer yang rutin diadakan setiap minggu pagi.“Para kolektor jersey ini biasanya memang suka bermain bola, karena itu seminggu sekali kita main bola ramai-ramai,” kata cowok yang rajin mengumpulkan koleksi jersey sejak 2014 ini.

Bagi yang hanya suka menikmati permainan bola dan mengoleksi jersey, sebulan sekali juga diagendakan gathering. Pertemuan yang dihadiri oleh anggota dari berbagai usia dan latar belakang ini pun kerap membahas berbagai hal.

Selain itu, ada juga open booth. Lokasinya bisa di mana saja, seperti yang belum lama ini digelar di salah satu hotel di Semarang. Salah satu kegiatan dalam open booth yakni memajang sejumlah koleksi atau istilahnya jemur jersey.

 “Tujuannya untuk lebih mengenalkan jersey, hobi, serta komunitas kita pada masyarakat. Kalau fun soccer biasanya didominasi pria. Kalau dalam agenda ini, member cewek juga sering ikutan. Nah, dalam gelaran tersebut juga kita pernah bagi-bagi jersey dengan syarat upload foto di Instagram dan tag kita di @kjsmg_official. Saat itu, animonya juga cukup bagus,”ujar alumnus Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro (Undip) ini.

Bila musim pertandingan bola, lanjutnya, sebagian dari kami juga sering ramai-ramai ke stadion untuk nonton langsung dan memberi dukungan untuk klub kebanggaan. Namun demikian, komunitas ini juga tak melulu berkutat di seputar bola, ada kalanya mereka juga turut serta dalam kegiatan amal melalui kegiatan lelang jersey. “Pernah satu ketika terjadi bencana, lalu kami mengadakan lelang jersey. Hasil lelang kami sumbangkan untuk para korban. Jadi, biar ada faedahnya juga, tidak sekadar mengoleksi,” kata pria kelahiran Semarang, 14 April 1992 ini.

Ke depan, komunitas yang memiliki jargon jersey is pride, solidarity is forever ini berencana melakukan awayday atau berkunjung ke kota-kota lain untuk bertemu dengan komunitas sesama kolektor jersey. (*/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Masak Menu Takjil di Mal

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Ada pemandangan tak biasa di Drop Off Yudhistira Artos Mall Magelang, Kamis (31/5) sore. Para chef yang bekerja di Grand Artos...

Deny Ikut Bantu Aniaya saja Dihukum 7 Tahun

VONIS 6 bulan penjara yang dijatuhkan majelis hakim PN Semarang kepada 9 terdakwa taruna tingkat III Akpol Semarang dinilai ‘super ringan.’ Koran ini mencoba...

Layani Masyarakat yang Kurang Paham Hukum

RADARSEMARANG.COM - Dio Hermansyah Bakri. Pria kalem yang pernah mengelola sebuah harian di bawah bendera Jawa Pos Group di Kota Semarang ini, sekarang menekuni...

Pembebasan Lahan Tol Capai 99 Persen

SEMARANG - Sekitar 99 pesen dari 2.555 bidang tanah di 9 kelurahan dan 2 kecamatan di Kota Semarang untuk pengadaan lahan tol Semarang-Batang sudah...

Komisaris Utama BPR Arto Moro Terima Leadership Award 2017

RADARSEMARANG.COM - Jawa Pos Radar Semarang dan Radar Kedu yang pada akhir tahun ini menggelar program apresiasi bertitel Leadeship Award 2017, memberikan penghargaan kepada...

Terkendala Terminal Bayangan 

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Kebijakan pemindahan Terminal Terboyo ke Terminal Mangkang dan Penggaron yang dilakukan oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang masih menemui banyak kendala. Permasalahan...