Bahasa Jawa Zaman Now

453
Oleh: Anita Irfani
Oleh: Anita Irfani

RADARSEMARANG.COM – BUDAYA Jawa semakin kurang diminati, dan cenderung terpinggirkan oleh masyarakatnya sendiri. Hal ini menjadi kemirisan bagi kita semua masyarakat Jawa. Kurang populeranya budaya sendiri memiliki latar belakang yang beragam. Dari yang tidak tahu akan tradisi nenek moyang sampai yang tidak menyukainya karena dianggap kuno. Seringkali kita melihat generasi kita tidak merasa bangga dengan mewarisinya.

Ambil contoh budaya Jawa dalam bertutur kata.  Menjadi perbedaan yang mencolok dengan bahasa daerah lain karena adanya unggah-ungguh kosakata bahasa Jawa. Unggah-ungguh kosakata menunjukkan ketinggian bahasa dan ketinggian budaya itu sendiri. Namun demikian sulit bagi kita mendapati putra-putri Jawa dalam menuturkannya. Terlebih lagi dalam era digital seperti sekarang ini. Komunikasi cenderung menggunakan bahasa nasional bahkan juga bahasa asing. Banyak kata-kata serapan yang sudah sangat lazim kita dengar. Dalam penggunaan tehnologi sendiri, belum kita dapati alat komunikasi ataupun elektronik yang menggunakan bahasa jawa sebagai petunjuk penggunaannya karena keterbatasan kita.

Hal ini bisa terjadi salah satu faktornya karena kekurangseriusan dalam mendalami bahasa dan budaya Jawa. Di samping itu tingkat kesulitan dalam mempelajari unggah ungguh kosakata bahasa Jawa pun menjadi kendala, dimana berkurangnya teladan penutur bahasa Jjawa. Penutur bahasa Jawa mulai berkurang karena usia sehingga keteladanan yang dapat kita ambil di lingkungan kita pun berkurang.  Akan menjadi semakin lengkap kendala tersebut ketika kita enggan menggunakan bahasa Jawa dalam keseharian kita. Ini termasuk pemicu menurunnya nilai luhur kearifan lokal sebagai identitas masyarakat Jawa. Berbagai fenomena lunturnya budaya di masyarakat ini kita rasakan bersama dan bahkan sering kita dengar di media cetak dan elektronik. Baik dari menurunnya pelaksanaan upacara seremonial sesuai adat Jawa maupun nilai-nilai luhur yang tercermin dari masyarakat Jawa.

Para orangtua masyarakat Jawa merasa bangga ketika putra-putrinya mampu menggunakan bahasa nasional bahkan internasional dalam kesehariannya. Dan tidak merasa menjadi masalah besar jika putra-putrinya tidak bisa berbahasa Jawa ataupun berunggah-ungguh sesuai adat Jawa.  Ini dimungkinkan bahasa nasional memudahkan untuk diajarkan ke putra-putrinya karena tanpa memperhatikan strata nilai penggunaan kosakata. Dengan berbahasa Jawa anak-anak cenderung takut salah dalam mengucapkan atau memilih kosakata. Sehingga penutur berbahasa Jawa semakin berkurang.

Faktor budaya erat kaitannya dengan faktor pendidikan. Berkaitan dengan budaya dan perilaku masyarakat di era digital ini yang mulai luntur esensi kejawaannya karena pengaruh media dan budaya lain. Banyaknya perubahan kultural di zaman sosial media ini yang perlu  disesuaikan ke kaum muda. Ini diupayakan agar dapat menarik minat mempelajari bahasa jawa dan menambah nilai jual bahasa Jawa bagi kaum muda di masyarakat. Demikian juga dalam penyampaian bahasa Jawa di ranah pendidikan dasar khususnya sekolah dasar. Pengemasan kurikulum yang menarik dan tidak membebani siswa hendaknya harus segera dilakukan untuk membudayakan bahasa Jawa. Banyaknya muatan pada  kurikulum bahasa Jawa telah menjadi momok bagi siswa sehingga belajar bahasa Jawa tidak lagi menyenangkan. Disamping itu inovasi pembelajaran bahasa jawa mutlak dilakukan sehingga tidak lagi menjadi mata pelajaran yang  dikesampingkan. Karena bahasa Jawa merupakan warisan budaya yang menunjukkan tata nilai. Tata nilai yang kita sebut sebagai Tata Krama. Tata krama merupakan sebuah komunikasi dengan penghormatan, rasa penghargaan, strata sosial, dan kasih sayang. Tata krama yang kita harapkan muncul di diri siswa kita dalam menapaki zaman baru zaman kekinian. (as3/bas)

 Guru SD Negeri 1 Bangsri, Jepara