Pasar Simongan (IST)
Pasar Simongan (IST)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–Sejumlah kontraktor yang mengikuti lelang di Kota Semarang patut diwaspadai. Mereka merusak anggaran Pemkot Semarang dengan cara mengikuti lelang pekerjaan proyek, dengan berani menawar harga paling rendah dan waktu singkat. Sehingga kontraktor tersebut memenangkan lelang tersebut.

Tetapi dalam teknis pelaksanaan, ternyata pekerjaan tidak selesai. Mereka dibayar sesuai persentase hasil penyelesaian pekerjaan pun tidak merugi. Tetapi anggaran Pemkot Semarang menjadi rusak. Pasalnya, telah menyebabkan sisa anggaran pembangunan tersebut menjadi Silpa (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan) dan pekerjaan pembangunan terancam mangkrak karena tidak selesai.

“Begini, saya percaya teman-teman di jajaran Pemkot Semarang telah bekerja sesuai aturan. Saking takutnya menyalahi aturan, mereka tidak berani memenangkan kontraktor yang berkualitas,” kata Wali Kota Semarang Hendrar Pihadi, kemarin.

Mengapa demikian? Karena sesuai aturan, kontraktor yang dimenangkan adalah kontraktor yang menawar dengan harga terendah, sesuai aturan administrasi. “Tapi karena dlosor-dlosoran menawar harga teredah, ternyata ada kontraktor yang mampu menyelesaikan pekerjaan, dan ada kontraktor yang tidak mampu menyelesaikan pekerjaan,” katanya.

Dalam teknis pelaksanaan kegiatan, kata Hendi sapaan akrab Hendrar Prihadi, Pemkot Semarang hanya mengawasi saja. Mulai dari pemakaian konstruksi baja, besi, semen, dan lain-lain, harus sesuai dengan ukuran sebagaimana perencanaan. “Misalnya memakai konstruksi baja, ketebalan 10 sentimeter ya harus pakai 10 sentimeter. Tidak bisa dikurangi ukuran yang telah direncanakan. Kalau kemudian dalam pelaksanaannya kontraktor bilang wah nggak bisa pak, karena harganya rendah. Yang seperti itu ya urusanmu,” ujarnya.

Hendi menyayangkan kalau kemudian kontraktor tidak berani menjalankan karena takut merugi. Apalagi hingga pekerjaan tersebut tidak berjalan. Menurutnya, hal itu murni kesalahan kontraktor. “Ini salah siapa? Ya pasti salah kontraktor. Dia berani menawar dengan harga rendah. Mestinya kalau dia berani menawar, otomatis harus berani memertanggungjawabkan dokumennya. Kalau dia nggak berani, nggak usah menawar rendah,” tegasnya.