10 C
Semarang
Jumat, 20 November 2020

Praktik Pemasangan Behel Harusnya Dilakukan Dokter Gigi

Menarik

Semut Raksasa

RADARSEMARANG.COM-DUNIA tidak jadi geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa satu perusahaan mendapat suntikan dana sebanyak Rp 500 triliun (USD 35 miliar) secara tiba-tiba. Itulah dana yang akan...

Ivanka Lincoln

PENYAKIT ini disebut ''Trauma 2016''. Penyakit itulah yang sekarang melanda pendukung Partai Demokrat Amerika Serikat. Waktu itu jelas, semua survei mengunggulkan Hillary Clinton. Dan itu...

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan perubahan pola latihan untuk menyongsong...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

RADARSEMARANG.COM – PRAKTIK pemasangan behel atau kawat gigi yang dilakukan Sepdina Dwi Pertiwi, mahasiswi Fakultas Ekonomi Jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Negeri Semarang (UNNES) dinilai ilegal. Pemilik usaha Redina Beauty itu juga dinilai melanggar UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.

Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Cabang Semarang Dr drg Diyah Fatmasari MDSc menyayangkan adanya berita pemasangan behel yang tidak dilakukan oleh dokter gigi seperti dimuat Jawa Pos Radar Semarang edisi Selasa (23/1) kemarin. Menurut dia, kabar tersebut sudah viral di kalangan dokter gigi seluruh Indonesia dan menimbukan keresahan, dan mendesak pihaknya untuk melakukan langkah nyata dalam menyikapinya.

Dr drg Hargianti Dini MM. (DOKUMEN PRIBADI)
Dr drg Hargianti Dini MM. (DOKUMEN PRIBADI)

“Kami menyesalkan berita yang dimuat Radar Semarang sebagai media massa yang sudah dikenal masyarakat luas karena memuat informasi tentang perawatan gigi yang dilakukan bukan oleh dokter gigi, sehingga dapat menimbulkan opini di tengah masyarakat bahwa perawatan behel boleh dilakukan oleh siapa saja dan dapat memberikan kursus kepada siapa saja,” katanya dalam hak jawab yang diterima Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (23/1) tadi malam.

Dikatakan, PDGI sendiri rencananya akan menempuh jalur hukum atas segala tindakan medis yang dilakukan, termasuk mereka yang memberikan kursus ilegal pemasangan ortodonsi yang dipublikasi di media sosial.

Selain itu, pihaknya juga mengingatkan kepada seluruh masyarakat Kota Semarang agar lebih berhati-hati dalam melakukan perawatan ortodonsi karena yang mempunyai kewenangan dan kompetensi melakukannya adalah dokter gigi spesialis ortodonsi.

“Masyarakat kami imbau tidak mudah percaya kepada harga yang murah tapi dampak dari perawatan tersebut tidak dapat dinilai dengan harga berapapun,” ungkapnya.

Alumnus Jurusan Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogja dan Master of Dental Science di University of Melbourne ini mengingatkan kepada seluruh masyarakat yang melakukan perawatan kedokteran gigi secara ilegal bisa dijerat pasal 78 UU No 29 Tahun 2004 tentang praktik kedokteran.

“Dalam pasal itu disebutkan, setiap orang yang dengan sengaja menggunakan alat, metode atau cara lain  dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang menimbulkan kesan  seolah-olah yang bersangkutan adalah dokter atau dokter gigi yang telah memiliki  surat tanda registrasi dokter atau surat tanda registrasi dokter gigi atau surat izin  praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 ayat (2) dipidana dengan pidana  penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak Rp 150 juta,” paparnya.

Baca Juga:

Pasang Behel Cukup Lima Menit, Tarif Rp 500 Ribu

Terpisah, mantan Pengurus Besar (PB) PDGI, Dr drg Hargianti Dini MM mengatakan, jika adanya praktik ilegal berupa pemasangan gigi dan kawat gigi tidak dibenarkan dilakukan oleh orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang anatomi gigi. “Tentu harus dokter, nggak boleh orang biasa, itu tidak sah alias ilegal,” tegasnya.

Menurut dia, pemasangan behel adalah bagian ilmu ortodonsi dan tidak bisa sembarangan dipraktikkan. Meski punya keterampilan untuk memasang behel ataupun gigi, ia mengira banyaknya jasa pemasangan behel dan gigi tidak mengetahui tentang anatomi gigi. “Masangnya pun tidak boleh sembarangan, pergerakan gigi yang boleh maksimalnya gimana itu ada perhitungan dan ilmu tersendiri,” paparnya.

More articles

  1. Bukan masalah tau ga tau kode etik..tapi lebih kepada punya wewenang atau tidak

    Ilmu ga mumpuni ttg oengetahuan gigi tapi sok sokan langsung pasang jasa behel..nanti kalau kenapa2 gigi pasien ujung2nya pasien disuruh ke dokter gigi juga..kasihanilah pasien yang jadi korban

    Oknum sperti ini banyak dan memang harus segera ditindak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Semut Raksasa

RADARSEMARANG.COM-DUNIA tidak jadi geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa satu perusahaan mendapat suntikan dana sebanyak Rp 500 triliun (USD 35 miliar) secara tiba-tiba. Itulah dana yang akan...

Ivanka Lincoln

PENYAKIT ini disebut ''Trauma 2016''. Penyakit itulah yang sekarang melanda pendukung Partai Demokrat Amerika Serikat. Waktu itu jelas, semua survei mengunggulkan Hillary Clinton. Dan itu...

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan perubahan pola latihan untuk menyongsong...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...