15.6 C
Munich
Sabtu, 31 Oktober 2020

Pelaku Masih Sekolah Sebelum Ditangkap

Menarik

Ivanka Lincoln

PENYAKIT ini disebut ''Trauma 2016''. Penyakit itulah yang sekarang melanda pendukung Partai Demokrat Amerika Serikat. Waktu itu jelas, semua survei mengunggulkan Hillary Clinton. Dan itu...

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan perubahan pola latihan untuk menyongsong...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Dua pelaku pembunuhan sopir taksi online yang ditemukan tewas tergeletak di Jalan Cendana IV Sambiroto, Tembalang, Semarang, diketahui masih tercatat sebagai siswa di salah satu sekolah menengah kejuruan (SMK) Negeri di Semarang. Mereka ditangkap di kediamannya masing-masing, Senin (22/1) sekitar pukul 21.00.

Informasi yang didapatkan koran ini, kedua pelaku IBR, 16, warga Lemah Gempal, Kelurahan Barusari dan TA, 15, warga Kelurahan Kembangarum, Semarang Barat diketahui duduk di kelas yang sama pada satu jurusan.

Kepala Sekolah, ST, mengaku tidak menyangka bahwa kedua siswanya menjadi pelaku pembunuhan sadis terhadap sopir taksi online. Sebab, berdasarkan data kedua anak tersebut di sekolah, bersih dari catatan buruk. “Kedua anak itu rajin. Di sekolah juga berperilaku baik,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (23/1) kemarin.

Bahkan, kata ST, daftar kehadirannya pun tidak ditemukan kecacatan. Namun, baik IBR maupun TA tidak memiliki prestasi yang menonjol alias rata-rata siswa sekolah pada umumnya. “Artinya tidak ada yang mencurigakan dan tidak ada kasus yang dialami kedua anak ini,” jelasnya.

Ditanya terkait motif IBR dan TA yang melakukan kejahatan tersebut untuk membayar uang SPP, pihak sekolah membeberkan bahwa keduanya telah membayarkan separuh dari jumlah total yakni RP 510 ribu. Artinya, jumlah tersebut belum lunas dari total RP 1.020.000. “Pembayaran itu per bulan Rp 170 ribu. Data kami, kedua anak ini sudah bayar tiga bulan,” terangnya.

ST juga mengatakan bahwa latar belakang orangtua kedua siswa tersebut merupakan keluarga mampu, karena statusnya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pihaknya meragukan kebenaran pernyataan pelaku dengan bukti dan data yang ada di sekolah.

“Saya belum konfirmasi langsung, belum ketemu dengan anak-anak itu. Tapi kalau dari sisi ekonomi saya rasa keduanya tidak dari golongan kurang mampu,” tuturnya.

Bahkan, lanjutnya, pada hari Senin (22/1) pagi, keduanya tercatat masuk, meskipun keduanya hadir terlambat, namun mereka mengikuti kegiatan sekolah hingga akhir. “Senin pagi, keduanya masuk tapi terlambat dan mendapatkan sanksi disiplin dari guru BP. Mereka ikut pembelajaran sampai selesai pukul 15.15,” ungkapnya.

Pihaknya tidak mengetahui terkait tiga orang lain yang rencananya ikut dalam aksi sadis pelaku. Ia tidak bisa memastikan bahwa yang akan diajak merupakan teman sekolah atau teman di lingkungan rumahnya. “Kami tentu saja kaget, tidak menyangka. Tetapi kami tidak akan menutupi informasinya,” tandasnya.

Pantauan koran ini di lapangan, suasana belajar mengajar di satuan pendidikan tersebut tampak tidak terganggu sama sekali. Bahkan, sejumlah siswa tampak tidak mengetahui bahwa rekan satu sekolahnya menjadi pelaku pembunuhan sadis terhadap Deni Setiawan.

Sementara itu, salah satu siswa satu jurusan yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa kedua pelaku dikenal baik dan berperilaku biasa saja. Bahkan saat bertemu hari Senin, sikap pelaku juga tidak mencurigakan. “Nggak aneh, biasa saja. Sama kayak hari biasa. Saya tahunya dia (pelaku) anaknya baik-baik,” pungkasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Provinsi Jawa Tengah Gatot B Hastowo, mengaku prihatin atas kejadian tersebut. Pihaknya yang mengelola pendidikan tingkat SMA/SMK menegaskan harus muncul pembenahan dalam upaya mencetak siswa-siswi berkarakter. Pendidikan karakter, lanjutnya, sangat penting salah satunya memberikan penguatan moral dan iman. “Kami masih butuh berkoordinasi dengan sekolah. Selebihnya, kami turut menghormati proses hukum yang berjalan,” katanya. (tsa/ida)

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Terbaru

Ivanka Lincoln

PENYAKIT ini disebut ''Trauma 2016''. Penyakit itulah yang sekarang melanda pendukung Partai Demokrat Amerika Serikat. Waktu itu jelas, semua survei mengunggulkan Hillary Clinton. Dan itu...

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan perubahan pola latihan untuk menyongsong...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...

Resesi

HARAPAN apa yang masih bisa diberikan kepada masyarakat? Ketika pemerintah secara resmi menyatakan Indonesia sudah berada dalam resesi ekonomi? Yang terbaik adalah menceritakan keadaan apa...