Beranda Berita Semarang Melangitkan Doa untuk Darmanto Jatman

Melangitkan Doa untuk Darmanto Jatman

Others

RADARSEMARANG.COM – KEPERGIAN begawan sastra asal Semarang, Darmanto Jatman, untuk selama-lamanya masih menyisakan duka mendalam bagi para seniman. Sebab, Tak hanya Semarang, bahkan Indonesia merasa kehilangan salah satu sosok terbaik dalam sejarah sastra.

Sabtu (20/1) malam, para tokoh sastra, budayawan, seniman, berkumpul melangitkan doa untuk almarhum Darmanto Jatman di Jalan Pandanaran II, Kota Semarang. Rentang 16 Agustus 1942 -13 Januari 2018, Darmanto hidup dalam cahaya yang mampu menginspirasi generasi di bawahnya.

Emha Ainun Najib, Prie GS, Eko Tunas, Tanto Mendut, Timur Sinar Suprabana, Adi Eko P, Nurdin HK, Agoes Dhewa, Handry TM, Amirudin, tak segan-segan menyatakan diri sebagai teman sepermainan sekaligus murid. Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi juga sempat hadir dalam kesempatan tersebut.

Penyair Latre Manohara bersama putrinya, Ibiet Sukma, melempar ingatan dengan membawakan musikalisasi puisi Darmanto Jatman berjudul “Sekarang Bahwa Aku Merasa Tua” dari buku Golf untuk Rakyat 1994.

Istri Darmanto, Sri Muryati bersama empat anaknya juga hadir dalam kesempatan tersebut. Dengan membawa serangkai bunga warna putih, ia menyampaikan rasa haru. “Saya bersyukur telah menjadi perempuan pertama dan terakhir bagi Pak Darmanto Jatman,” katanya.

Para seniman senior dalam kesempatan tersebut juga mengungkapkan kesan dari Darmanto sepanjang masih hidup. Mereka mengenang romantisme ketika seniman senior macam Prie GS, hingga Emha Ainun Najib, seringkali kelaparan tak bisa makan. Di situlah, Darmanto Jatman menjadi seorang penolong. Ia menjadi sosok yang penuh kasih sayang, lembut dan dermawan.

“Aneh jika ada yang mengelukannya sebagai seorang yang baik. Ada arsitek yang merasa kehilangan. Aneh jika Cak Nun menulis bercerita Darmanto Jatman menyelamatkannya dari kelaparan, bahkan kematian. Saya tidak percaya itu. Tapi saya percaya pada sajaknya,” kata Sosiawan Leak, sastrawan asal Surakarta.

Emha Ainun Najib atau Cak Nun, dalam kesempatan tersebut mengungkapkan kegelisahannya. Sebab, Indonesia telah kehilangan banyak tokoh emas, seperti Umar Kayam, Rendra, Gus Dur, Bung Karno dan kali ini Darmanto Jatman.

Darmanto Jatman, menurut Cak Nun, adalah jimatnya Semarang baik dalam bidang ilmu maupun kesenian. Maka kepergian Darmanto Jatman harus dipelajari. “Kitalah yang harus nguri-uri jimat itu, karena pemerintah sudah tidak mengerti jimat, tidak mengerti rohani. Saya mendorong agar pemikirannya terus digali dan dilanggengkan melalui forum baik formal maupun informal, sehingga kematian yang telah terjadi secara fisik, tidak terjadi secara sebenarnya yakni kematian pemikirannya.

“Mas Darmanto harus terus hidup dalam cinta kita. Dia tidak pernah mati,” katanya. (abdul mughis/zal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

12,298FansSuka
35PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Latest News

Tesla Halmahera

Related News