Beranda Untukmu Guruku Wulangreh untuk Anak Generasi Gawai

Wulangreh untuk Anak Generasi Gawai

Others

RADARSEMARANG.COM – Kurikulum 2013 pada materi tembang macapat dikenalkan Serat Wulangreh karya Pakubuwana IV. Pada tingkatan SMP yang diajarkan adalah pupuh Pangkur, Sinom, Gambuh, Kinanthi, Dhandhanggula, dan Durma. Wulangreh mempunyai makna ajaran mencapai hidup yang harmoni atau sempurna. Tujuan hidup akan tercapai apabila mempunyai karakter mulia bukan hanya mempunyai ilmu pengetahuan saja. Ajaran akhlak, moral dan budi pekerti harus ditanamkan sejak dini.

Tema utama dalam ajaran serat Wulangreh ada 8, yaitu ajaran memilih guru, kebijaksanaan dan bergaul, kepribadian, tata krama atau toleransi, menghormati keluarga dan guru, ajaran Ketuhanan, berbakti kepada pemerintah, dan pengendalian diri. Serat Wulangreh mengajarkan supaya kita mempunyai sikap pengendalian diri, rendah hati (andhap asor), sopan dalam sikap maupun bertutur kata, tata krama, saling menghormati, tolong-menolong, dan mempunyai akhlak yang baik.

Materi Serat Wulangreh sangat cocok diajarkan untuk siswa pada masa sekarang. Pada saat ini pendidikan karakter sedang digalakkan, karena banyak yang beranggapan karakter anak-anak tentang etika dan tata krama sudah tergerus oleh pola pergaulan barat. Karakter semakin luntur dan mengalami kemerosotan. Etika, tata krama dan unggah-ungguh semakin tersisih. Globalisasi memang merubah segalanya, baik sikap, tutur kata, maupun gaya hidup. Apabila hal ini dibiarkan berlarut-larut maka bisa menghancurkan moral bangsa. Siswa tingkatan SMP adalah masa pubertas yang sedang mencari jati diri maka mereka cepat sekali meniru hal yang baru. Sesuatu yang menjadi tren akan cepat mereka tiru biar dianggap anak “gaul”. Mereka tidak mempertimbangkan hal itu baik atau tidak, maka peran guru dan orang tua disini sangat penting untuk mengarahkan dan membimbing

Anak masa sekarang memang memiliki kemampuan multitasking yang hebat, dan tergantung teknologi. Mereka mengalami adiksi (kecanduan) yang menyebabkan tidak bisa lepas dari gawai, yang berdampak kompetensi sosialnya sangat kurang. Teknologi yang semakin canggih kadang menjauhkan yang dekat namun mendekatkan yang jauh. Banyak ditemui orang lebih suka berkomunikasi dengan dunia mayanya daripada dengan orang yang nyata disampingnya. Bertegur sapa dengan orang jarang ditemui bahkan hanya sekedar senyum maupun menganggukkan kepala.

Sebelum teknologi berkembang seperti zaman sekarang, orang bertemu akan saling menyapa meskipun belum kenal. Rasa hormat-menghormati dan tepa slira sangat kental terasa. Di papan umum orang akan bertegur sapa meskipun hanya sekadar basi-basi, sehingga mencairkan suasana beku dan kadang mengakrabkan suasana. Gotong royong banyak ditemui di mana-mana, silaturahmi dan anjang sana sering dilakukan.

Tutur kata dengan orang lain akan terjaga dengan baik. Mereka tidak akan berbicara dengan sesuka hati. Pilihan kata yang digunakan tidak akan menyakiti orang lain dan mengandung penghormatan terhadap orang yang diajak bicara. Sikap akrab memang baik, namun keakraban itu jangan disalahgunakan. Pada masa sekarang guru berusaha dekat dengan siswa agar siswa tidak takut terhadapanya namun sebagai siswa jangan keblabasen. Siswa tetap menerapkan ungguh ungguh dan tata krama. Ketika berbicarapun dengan bahasa yang sopan dan halus dalam bahasa Jawa istilahnnya ora nranyak.

Wulangreh banyak mengajarkan bagaimana bersikap tidak hanya kepada orang lain namun juga bijak terhadap diri sendiri. Menjadi pribadi yang tidak sombong, tidak mengagungkan diri baik dari segi kepandaian, kekayaan maupun jabatan. Pandai mengendalikan diri dan hawa nafsu, serta tidak suka menghujat orang lain. Harus pandai memilih teman yang baik, karena teman akan mempengaruhi diri pribadi. Dalam bahasa Jawa ada istilah cedhak kebo gupak., yang artinya jangan dekat teman yang mempunyai perilaku jelek karena nantinya akan mempengaruhi. Selain itu jangan menjadi pribadi yang egois namun harus mempunyai jiwa sosial yang tinggi dan selalu berpikiran positif.

Serat Wulangreh salah satu materi pembelajaran yang ingin mengembalikan pendidikan karakter ketimuran. Bagaimana bersikap kepada orang yang lebih tua, mempunyai budi pekerti, sikap sosial dan toleransi. Supaya anak tidak mempunyai sikap  skeptis dan sinis yang menjunjung tinggi privasi. (tj3/aro)

Guru Bahasa Jawa SMP Negeri 1 Kertek Wonosobo

Stay Connected

12,288FansSuka
35PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Latest News

Semut Raksasa

Related News

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here