33 C
Semarang
Senin, 25 Mei 2020

Tidak Akan Mengubah, Dulu Rumah Lurah

Must Read

Di Bus Kota Nyanyi Lagu Indonesia, di Bus AKAP Lagu Jawa (3)

Bahkan saat mulai awal mengamen di Solo pun, Didi Kempot sudah membawakan lagu ciptaan sendiri, Cidro salah satunya. Suaranya...

Mengenang Didi Kempot: Balik Solo, Jual Sepeda, Beli Gitar (2)

Selain supaya bisa bersekolah lagi, Didi Kempot dititipkan ke sang pakde yang personel militer agar tidak mbeling. Di Samarinda bakat...

Dari Cidro sampai Ojo Mudik: Mengenang Hidup dan Karir Didi Kempot (1)

Dengan segala popularitasnya, Didi Kempot tak pernah repot dengan riders tiap kali manggung. Meninggalkan satu lagu lagi bertema virus...

RADARSEMARANG.COM – Berakhirnya era kolonial, membawa banyak perubahan. Termasuk desain hunian yang keluar dari standar bangunan khas ala Belanda. Adalah Rumah Jengki, yang cukup ngetren di era 50-60-an. Rumah berciri khas atap pelana, bangunan asimetris, batuan alam yang menempel di dinding serta sejumlah lubang angin, hingga kini masih cukup banyak ditemui di Semarang. Seperti apa?

RUMAH dengan gaya arsitektur Jengki dapat ditemukan di salah satu sudut Kampung Bustaman. Di RT 5 RW 3 perkampungan ini, tepatnya di samping WC umum terdapat dua rumah kuno dengan arsitektur yang disebut-sebut bernada perlawanan di masa kolonial ini.

Dua rumah di Kampung Bustaman ini memiliki sudut rumah yang tidak seperti rumah pada umumnya. Meski demikian, dari sekian banyak Rumah Jengki, terdapat beberapa persamaan. Ventilasi bundar yang disusun rapi dengan sedikit moncong di atasnya. Selain itu, dinding rumah juga dihiasi motif alam dengan susunan tidak rata.

Febri, 37, sang pemilik rumah mengaku tidak mengetahui jenis arsitektur apa yang digunakan untuk membangun rumah yang kini ia tempati, terlebih nama perancangnya. Yang dia tahu, rumah yang ditempati merupakan rumah kuno peninggalan sang kakek. ”Di kampung ini, ada dua rumah kuno. Ini, sama sebelah. Kebetulan masih saudara,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Diceritakan olehnya, sang kakek dulunya berprofesi sebagai lurah. Dari sejak lahir, dirinya sudah tinggal di rumah dengan bentuk bangunan yang cukup unik, bila dilihat dari luar. Namun begitu masuk ke dalam rumah, ruangan sudah seperti rumah pada umumnya. Rumah yang ditempati Febri memiliki 3 kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga yang masing-masing berukuran kurang lebih 3×3 meter. ”Yang sini memang sudah diganti lantainya. Kalau rumah sebelah itu masih asli lantainya,” jelasnya.

Selain lantai, semua bagian rumah yang ia tempati masih asli. Kusen jendela hingga ventilasi jendela, semuanya masih asli dari awal berdirinya rumah ini. Dirinya mengatakan akan tetap mempertahankan keaslian bentuk rumahnya, lantaran peninggalan yang diberikan secara turun temurun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Di Bus Kota Nyanyi Lagu Indonesia, di Bus AKAP Lagu Jawa (3)

Bahkan saat mulai awal mengamen di Solo pun, Didi Kempot sudah membawakan lagu ciptaan sendiri, Cidro salah satunya. Suaranya...

Mengenang Didi Kempot: Balik Solo, Jual Sepeda, Beli Gitar (2)

Selain supaya bisa bersekolah lagi, Didi Kempot dititipkan ke sang pakde yang personel militer agar tidak mbeling. Di Samarinda bakat musiknya mulai terasah, juga kegemarannya...

Dari Cidro sampai Ojo Mudik: Mengenang Hidup dan Karir Didi Kempot (1)

Dengan segala popularitasnya, Didi Kempot tak pernah repot dengan riders tiap kali manggung. Meninggalkan satu lagu lagi bertema virus korona. ANTONIUS CHRISTIAN, Solo-DUWI SUSILO, Ngawi, Jawa...

Utang Besar

Kalau diterjemahkan, nama perusahaan ini berarti 'sejahtera'. Di Singapura ia didaftarkan dengan nama Hin Leong Trading Ltd --bahasa daerah Hokkian, tempat lahir pendiri perusahaan...

LP3ES

Sudah lebih enam tahun saya puasa bicara BUMN di depan umum. Senin kemarin pecah telur. Minggu lalu saya memang dalam kebimbangan besar. Mau atau tidak....

More Articles Like This