33 C
Semarang
Rabu, 8 Juli 2020

Awal Tahun, Perkuat Literasi Menulis Guru

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Damayanti Putri salah satu peserta pelatihan penulisan artikel populer di media massa yang diselenggarakan Jawa Pos Radar Semarang yang bekerjasama dengan Kelas Literasi Guru Jawa Tengah dan Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), tampak serius. Terutama, ketika Redaktur Pelaksana (Redpel) Jawa Pos Radar Semarang, Ida Nor Layla menyampaikan materi pelatihan.

Sejurus kemudian, Damayanti pun mencoba menuangkan opini atau gagasannya pada secarik kertas, yang kemudian dikembangkan menjadi karya tulis berupa artikel populer. Ia coba mengangkat pengalaman selama ia mengajar di SMA N 9 Purworejo, berupa kunci sukses untuk meningkatkan minat belajar siswa.

“Awalnya sih agak susah, mungkin karena belum terbiasa. Dari tips para pemateri, saya mencoba menuangkan apa yang ada di kepala ke dalam sebuah tulisan,” katanya saat pelatihan di ruang seminar Universitas PGRI Semarang, Sabtu (13/1) kemarin.

Arif Riyanto, Pemimpin Redaksi (Pemred) Jawa Pos Radar Semarang, menjelaskan jika penulisan artikel populer di media massa sebenarnya bukan hal yang sulit jika ada kemauan untuk belajar dan mencoba. Para guru bisa menulis pengalaman yang dialami serta pemecahan masalahnya di dunia pendidikan. Para guru juga bisa menulis dari hasil penelitian langsung. “Saya melihat, banyak guru yang sudah inovatif dalam membuat artikel. Buktinya banyak tema menarik yang diulas dari pengalaman sehari-hari. Namun dari segi tulisan, memang masih perlu dipoles lagi agar lebih baik,” jelasnya.

Materi pelatihan yang diberikan sendiri dibagi menjadi dua yaitu prosedur pengiriman tulisan ke media massa dan teori tentang penulisan artikel itu sendiri. Termasuk jenis-jenis tulisan dan karakteristiknya. Kedua materi tersebut disampaikan oleh Ida Nor Layla dan Arif Riyanto. Di tengah-tengah penyampaian materi, keduanya terus memberikan semangat dan dorongan kepada para guru untuk terus produktif dalam menulis. “Selain sebagai salah satu syarat kenaikan pangkat, penulisan artikel populer juga bermanfaat bagi orang lain. Karena tulisan bisa menjadi warisan bagi anak cucu kelak,” tuturnya.

Pada pelatihan tahap III ini, menggandeng Universitas PGRI Semarang. Total ada sekitar 105 guru yang tergabung dalam Kelas Literasi Guru Jawa Tengah. Mereka datang dari berbagai daerah di Jawa Tengah, di antaranya dari Banyumas, Cilacap, Brebes, Banyumas, Batang, Pati, Purwokerto, maupun dari dalam Kota Semarang. “Gerakan literasi ini merupakan bagian dari tantangan pemerintah atas dana sertifikasi guru untuk mengembangkan profesinya secara maksimal,” kata Pembina Kelas Literasi Guru Jawa Tengah, Tukijo.

Menurut Tukijo, gerakan literasi menulis adalah stimulus untuk merangsang para guru agar berani menuangkan ide, gagasan, opini hingga melakukan penelitian. Tujuannya ke depan, bisa memberikan manfaat kepada khalayak luas terutama dunia pendidikan. “Biasanya para guru terkendala oleh terbatasnya waktu untuk menulis,” jelasnya.

Menurut Tukijo, tanggung jawab seorang guru yang memiliki banyak tugas, harus bisa menyelaraskan antara tugas sekolah dan menulis artikel atau karya ilmiah lainnya. Ia pun berharap pelatihan menulis bagi para guru ini, bisa meningkatkan kemampuan menulis. “Awal tahun ini menjadi pembuktian gerakan literasi meningkat dengan banyaknya animo para guru. Ini berarti, guru semakin terdorong untuk melakukan inovasi di dunia pendidikan,” tuturnya. (den/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Munculkan Bibit Petinju Profesional

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Ratusan petinju cilik dari berbagai daerah di Jawa Tengah unjuk kemampuan  dalam kompetisi tinju Rambo YTBK Fighting 2018, yang digelar di...

Atletik Jateng Masih Perkasa

SEMARANG - Tim atletik Jateng menuai hasil positif pada Kejurnas Atletik Jatim Open yang berlangsung di Lapangan Atletik Universitas Negeri Surabaya, akhir pekan kemarin....

Telan Rp 70 M, Kinerja Buruk

BESARNYA subsidi operasional Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang selama 2016 lalu mencapai Rp 70 miliar. Tahun ini, diperkirakan akan menelan anggaran lebih besar...

Video Letusan Merapi Masih Saja Dijadikan Hoax

JawaPos.com - Video tentang Gunung Merapi yang meletus beredar luas di media sosial sejak 5 Maret 2019. Video dengan durasi 30 detik itu memperlihatkan...

Gairah Menurun, Faktor U?

­Tanya dr Andi: RADARSEMARANG.COM - Selamat pagi dr Andi, usia saya 52 tahun. Sudah 3 bulan ini, gairah terasa kurang. Ereksi pagi hari pun kurang...

Bulog Desa Bikin Bangga

Senin kemarin saya tengok kampung: di Magetan. Tepatnya ke desa Tegalarum. Masih 16 kilometer dari kota Magetan. Tiba-tiba saya ingin ke makam ibu. Di desa...