33 C
Semarang
Kamis, 13 Agustus 2020

Nelayan Kendal Masih Gunakan Pukat Harimau

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

RADARSEMARANG.COM, KENDAL – Meski sudah tidak ada yang menggunakan alat tangkap ikan cantrang, beberapa nelayan Kendal masih menggunakan pukat harimau. Hal ini karena pukat harimau dinilai sangat efektif untuk mencari udang dan kepting di perairan bawah laut.

Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kendal, Zaenal Abidin mengatakan bahwa nelayan Kebupaten Kendal tidak menggunakan  cantrang. “Tapi beberapa kapal dan nelayan masih menggunakan pukat harimau. Itu hanya sebagian kecil saja,” tandasnya.

Diakuinya, penggunaan cantrang maupun pukat harimau sudah dilarang. Karena bentuk lubang jaring yang begitu kecil dan ukuran jaring yang besar, dapat merusak ekosistem ikan laut. Sebab, baik ikan kecil maupun besar, tidak bisa keluar jika sudah terperangkap dalam jaring tersebut.

Larangan penggunaan cantrang itu tertuang dalam surat Edaran Nomor: 72/MEN-KP/II/2016, tentang Pembatasan Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Cantrang di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Indonesia (WPPNRI).

Di sisi lain, KKP telah mengundangkan Permen Nomor 2/PERMEN-KP/2015 tentang Larangan Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela (Trawls) dan Pukat Tarik (Seine Nets) di WPPNRI. Alasan dari penerapan aturan ini, karena alat tangkap tersebut termasuk dalam alat tangkap yang dapat merusak habitat ikan.

Zaenal mengaku telah mengetahui jika cantrang sudah dilarang. Bahkan para nelayan di Kendal sendiri mendapatkan bantuan jaring alat penangkap ikan ramah lingkungan dari Kementrian Kelautan. “Namun karena tidak mendapatkan semua, itulah alasan nelayan masih menggunakan pukat harimau. Selain itu, sebagian nelayan yang mendapatkan jaring ikan malah dijual kepada nelayan lain,” tambahnya.

Menurutnya, bantuan alat penangkap ikan (API) ramah lingkungan dari pemerintah tidak dimanfaatkan dengan baik, karena tidak ada pengawasan dan pengawalan dari pemerintah. “Bbantuan yang sedianya digunakan, malah dijual. Artinya, bantuan tersebut tidak tepat sasaran,” paparnya.

Zaenal berharap, pemerintah dalam memberikan bantuan, dibarengi pengawalan atau pantuan dari dinas terkait. Apakah nelayan yang mendapat bantuan tersebut benar-benar digunakan atau tidak. Sebab, meskipun nilainya tidak begitu besar, hal ini menyebabkan kecemburuan sebagian nelayan yang tidak mendapat bantuan,” tambahnya.

Turmaji, nelayan Kendal mengaku jika nelayan sudah sepakat tidak menggunakan cantrang. Selain dilarang, kebanyakan kapal nelayan Kendal adalah kapal kecil. “Sehingga tidak ada masalah dan mendukung program pemerintah terkait pelarangan cantrang,” katanya. (bud/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Kurir 114.97 Gram Sabu-Sabu Dibekuk

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Seorang sopir berinisial AK, 38, warga Blambangan RT 6 RW 7 Desa Mungkid Kecamatan Mungkid Kabupaten Magelang terancam hukuman penjara seumur...

Gumaya Sasar Segmen Premium

SEMARANG - Jelang tahun baru Imlek, Gumaya Tower Hotel Semarang siap diadu dengan hotel ataupun rumah makan lainnya. Hotel bintang lima ini mengusung tema...

Hendi: Tentukan Arah Keberanian Kita

SEMARANG- Ribuan mahasiswa baru Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) mengikuti pembekalan dalam bentuk talkshow bertemakan “Mewujudkan Mahasiswa Udinus yang cerdas, berkarakter dan berintegrasi dalam rangka...

KPU Kesulitan Kejar Target Partisipasi Pemilih

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN – Pemilih yang datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk menggunakan hak suaranya pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jateng pada 27 Juni 2018...

KSP Mekar Abadi Undi Pemenang

MAGELANG–Empat anggota Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Mekar Abadi Jaya Magelang,  terpilih sebagai pemenang undian sepeda motor dalam pengundian Gebyar Tabungan Berjangka (TAKA) Periode I,...

Pastikan Serpihan Hati, Tanpa Kolesterol, Tinggi Nutrisi

Tiga mahasiswa Politeknik Negeri Semarang (Polines) bekerja sama dengan warga Kelurahan Tandang, Tembalang, Kota Semarang berusaha mengembangkan perekonomian rakyat. Tim yang diketuai oleh Alfianida...