32 C
Semarang
Selasa, 22 Juni 2021

Berawal Memajang Karya, Kini Biayai Kuliah Sendiri

Lebih Dekat dengan Tias Navyana, Penghobi Doodle Art

RADARSEMARANG.COM – Dianugerahi tangan kreatif dari Yang Maha Kuasa yang bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah,sungguh patut disyukuri. Sebagaimana yang dirasakan Tias Navyana dengan kreasi doodle art-nya. Seperti apa?

JOKO SUSANTO

TIAS Navyana, alumni Universitas Semarang (USM) ini sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD), sudah dianugerahi kepandaian mengkreasikan doodle art. Keterampilannya terlihat saat membatik dalam mata pelajaran seni budaya di bangku SD.

Dan saat memasuki bangku kuliah, justru banyak yang mengapresiasi karyanya. Bahkan, gadis 23 tahun ini, mampu mendapatkan penghasilan tambahan saat duduk di bangku kuliah.

“Saya memang senang membatik. Ketika melihat hasil karya dari membatik cukup bagus, akhirnya beberapa hasil karya batik saya pajangkan untuk diabadikan,” tuturnya.

Semula beragam karyanya dipajang rapi di dinding kamar kos, tanpa berniat membisniskan. Namun saat teman-temannya berkunjung ke kos, justru banyak dipuji dan banyak yang memesan. Dari disitulah, ia semakin intensif membuat doodle art yang dipesan teman-temannya di lingkungan kampus.

“Intensif bikin doodle art justru pas mulai ada wisuda tahun lalu. Waktu itu, kepikiran mau memberikan kado untuk ucapan buat temen yang berkesan. Akhirnya, kepikiran membuat doodle art. Terus banyak yang tahu dan laku. Ya sudah kulanjutin bikinnya jadi lebih sering,” kata mahasiswi alumni jurusan manajemen USM, Senin (8/1) kemarin.

Menurutnya, doodle art adalah karya yang dituangkan di atas kertas sketch, umumnya seperti gravity. Biasanya digambar dengan nama atau ucapan selamat. Ia sendiri lebih menyukai model sketch hitam putih, ketimbang warna-warni.

“Aku pernah nyoba bikin warna-warni, tapi ndak bagus. Jadi lebih menggunakan warna hitam-putih. Pakainya drawing pen, terus membuat sketsa dulu baru di-block semuanya,” ungkapnya.

Gadis kelahiran Gunung Kidul, 20 November 1994 ini mengaku tak terlalu kesulitan mengerjakan doodle art. Hanya saja, untuk satu gambar bisa membutuhkan waktu satu hari, karena semua tergantung dari mood yang sedang baik. “Bila mood sedang tidak baik, waktu yang dibutuhkan bisa lebih dari satu hari untuk satu gambar,” katanya.

Apalagi, ia memang membutuhkan waktu senggang untuk mengerjakannya. Tias sendiri memiliki pekerjaan, selain harus kuliah. Setidaknya, dari doodle art memberinya penghasilan tambahan untuk biaya menyelesaikan kuliahnya.

“Kalau penghasilaannya relatif. Tidak banyak, juga tidak sedikit. Aku mengerjakan tergantung ada yang memesan. Tapi banyak yang memesan, kalau musim wisuda. Jadi lumayanlah hasilnya,” tutur putri pasangan suami istri Sarto dan Darmi ini.

Adapun setiap gambar dihargai Rp 65 ribu, jumlah tersebut sudah termasuk bingkai figuranya. Bila hanya gambar, ia menawarkan jasa dengan biaya Rp 40 ribu. Bagi Tias angka tersebut sudah cukup sebagai bagian dari apresiasi karyanya. Sedangkan untuk memperkenalkan karyanya, Tias lebih menggunakan media sosial, whatsapp dan Instagram. “Biasanya usai bikin gambar yang aku kerjain, langsung upload ke medsos. Bagaimanapun, melalui medsos cukup bisa memberikan gambaran,” ujarnya.

Tias juga berjanji akan terus mengasah kemampuannya, dengan membuat sebuah karya yang lebih baik dari sebelumnya.  Termasuk melakukan beragam modifikasi karya yang lebih beragam. Namun demikian, ia sendiri belum menjadikan hobinya sebagai prioritas untuk mendapatkan penghasilan. “Bagiku seni itu dikerjakannya saat sedang memiliki suasana hati yang bagus. Selebihnya, tetap terus belajar membuat karya yang lebih baik lagi,” ungkapnya. (*/ida)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here