Guru Jangan “Menghakimi” Siswa Tanpa Bukti

spot_img

RADARSEMARANG.COM – “BU, saya mau konsultasi tentang anak saya katanya kok gak mau masuk sekolah, takut sama Pak  X. Kata anak saya Pak X selalu bilang heh kamu minum pil tho? Padahal anak saya sudah jawab “tidak Pak, kata anak saya, tapi Pak  X malah jawab ‘Tidak gimana, lha wong badanmu kelihatan kurus kering gitu. Lalu anak saya menjelaskan kalau semua saudaranya memang kurus semua. Kok bisa Pak X bilang begitu Bu, harusnya kan saya sebagai orang tua dipanggil ke sekolah dulu, jangan langsung menuduh anak saya begitu’. Itulah isi curahan  hati  yang disampaikan orang tua melalui WA dengan guru BK di sekolah.

Dalam blog Kompasiana mengatakan, kata judge yakni menilai, menghakimi, mengadili dan memojokkan. Kata-kata judge itu, otak kita akan merekam predikat tersebut. Hal yang menarik jika men-judge siswa nya dengan kalimat positif, maka otak akan merekam kalimat positif tersebut dan membentuk perilaku menjadi positif pula. Berbeda jika men-judge siswa dengan kalimat negatif, sudah barang tentu otak yang merekam kalimat negatif akan membentuk perilaku negatif.

Ternyata tanpa kita sadari kalimat judge yang terucap dari seorang guru bisa menjadi penyebab siswa tidak mau berangkat ke sekolah. Agar masalah penghakiman ke siswa oleh guru tidak terjadi lagi, mestinya sebelum bertindak lebih jauh, yang pada akhirnya  berdampak kurang baik terhadap perilaku siswa di sekolah, harus ada mekanisme yang jelas dalam menangani siswa yang bermasalah. Berkoordinasi dengan tim yang memang dibentuk khusus dalam penanganan siswa.

Baca juga:   Guru Jadul Vs Students Zaman Now

Dalam setiap penanganan pelanggaran, harus melalui tahapan-tahapan sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan. Namun demikian, menggali keterangan dari siswa tentang alasan melakukan pelanggaran adalah salah satu cara yang lebih bijak dari pada langsung menghakimi. Dengan kita menggali penjelasan dari siswa, selain kita tahu permasalahannya, kita juga mengetahui penyebabnya dan diharapkan memperoleh penanganan atau penyelesaian yang lebih  tepat dan lebih baik.

Pada usia sekolah, merupakan usia pencarian jati diri, usia di mana mereka masih membutuhkan bimbingan, arahan, dan didikan. Perilaku yang muncul pada prinsipnya bukanlah termasuk kategori nakal. Sebab, secara psikologis, pada usia ini selalu mendambakan pujian dan perhatian. Kejiwaan mereka didominasi oleh rasa ingin tahu dan selalu mencoba sesuatu yang baru. Sehingga kadangkala membuat mereka menjadi ceroboh. Namun jika sampai terjadi, tentunya tidak serta merta menyalahkan siswa tersebut. Pihak sekolah  menggali, mengapa siswa sampai bersentuhan dengan obat-obatan terlarang. Misalnya, yang perlu digali adalah dari mana siswa  memperoleh ‘benda’ tersebut? Apakah diberi teman atau beli sendiri?

Baca juga:   Pembelajaran Blended Learning Solusi di Masa Pandemi

Jika dari hasil ‘penggalian’, ternyata siswa mengaku pemakai, tahapan selanjutnya adalah memanggil orang tua dan beri pemahaman tentang kondisi anaknya. Dengan begitu, orang tua merasa bahwa sekolah memperhatikan anaknya dengan cara yang santun, bukan menghakimi. Setelah orang tua bisa menerima penjelasan dari pihak sekolah, barulah disarankan untuk memeriksakan kesehatan anaknya melalui tes urine di klinik atau rumah sakit.

Jika menghakimi tanpa didukung dengan data pendukung yang valid akan membangkitkan jiwa berontak dari dalam diri siswa, karena siswa merasa disalahkan dan mematikan motivasi belajarnya. Sungguh sesuatu yang berbahaya bagi perkembangan siswa. Kerja tim selain  yang dibentuk pihak sekolah, juga ada tim lain yang  terdiri atas orang tua dan guru. Diawali dengan komunikasi yang baik antara orang tua dan guru, pertemuan yang intensif antara keduanya akan saling memberikan informasi yang sangat mendukung bagi pendidikan siswa. Peran lingkungan pun harus lebih peduli, dengan menganggap siswa  yang ada di lingkungannya adalah tanggung jawab bersama. Tentunya lingkungan pun akan dapat memberikan informasi yang benar kepada orang tua tentang tindak tanduk siswa tersebut, dan kemudian dapat digunakan untuk mengevaluasi perkembangannya agar tidak terjebak dalam kenakalan remaja. (*/aro)

Guru SMA Negeri 10 Semarang

Author

Populer

Lainnya