Strategi Membangun Kemandirian Ibadah Siswa

  • Bagikan
Oleh: Ali Mustofa Lc
Oleh: Ali Mustofa Lc

RADARSEMARANG.COM – KEMANDIRIAN anak dalam beribadah menjadi salah satu keinginan dan harapan orangtua. Banyak kita dapati anak-anak yang sudah aqil baligh belum mandiri dalam menjalankan ibadah. Untuk salat lima waktu saja, orangtua harus mengingatkan setiap saat. Bahkan tidak sedikit yang harus adu mulut agar anak melaksanakan salat maupun mengaji Alquran. Berbagai macam upaya dilakukan oleh guru agar siswa dapat membiasakan ibadah dengan penuh tanggung jawab. Namun usaha guru seringkali sia-sia atau tidak mendapat hasil yang maksimal dikarenakan beberapa faktor.

Di antara faktor tersebut adalah, tidak adanya dukungan dari sekolah, tidak ada teladan dari guru, minimnya fasilitas ibadah, serta sedikitnya wawasan keislaman siswa terutama terkait dengan keutamaan ibadah. Maka dari itu, seorang guru harus memiliki strategi dalam mengawal ibadah siswa. Dibutuhkan pendekatan yang tepat kepada semua  pihak agar mereka mendukung guru dalam mengembangkan pendidikan karakter yang religius.

Guru agama harus memiliki semangat dakwah. Ia harus mau mengajak semua pihak untuk bersama membangun religiusitas di sekolah. Perlu melakukan pendekatan kepada kepala sekolah agar membuat regulasi, aturan, dan tata tertib yang dapat mendukung terciptanya budaya religius.  Menghidupkan taklim atau sekedar tausiah singkat juga sangat diperlukan untuk menyegarkan semangat menjalankan ibadah.

Tidak jarang kemalasan siswa dalam menjalankan ibadah juga disebabkan karena minimnya pengetahuan tentang konsep keagamaan. Bisa jadi ada anak yang belum mengetahui salat itu wajib, belum mengetahui keutamaan ibadah, belum mengetahui ancaman bagi yang meninggal salat, atau bahkan belum mengetahui tentang pertanggungjawaban di hari akhir. Maka dari itu, guru agama harus memastikan anak mendapat konsep ibadah yang utuh dan benar, tidak hanya pengetahuan tentang ibadah saja melainkan mengetahui tentang konsep iman.

Untuk meraih kompetensi pengetahuan tersebut, guru dapat memaksimalkan proses kegiatan belajar mengajar. Guru juga bisa memanfaatkan program literasi sekolah dengan mengarahkan siswa untuk  memperbanyak membaca buku agama. Di samping itu, bisa dengan menganjurkan siswa untuk aktif mengikuti taklim, tablig, dan tausiyah. Karena untuk menambah wawasan tersebut, tidak harus secara langsung seperti di masjid, melainkan juga bisa melalui media massa seperti televisi dan radio.

Selain itu juga bisa mengakses pengetahuan agama secara online dan tetap menyarankan kepada siswa agar berdiskusi tentang pengetahuan barunya kepada gurunya. Pengetahuan saja tudak cukup, siswa harus dilatih dalam bentuk praktik serta dibiasakan untuk menjalankan ibadah. Hal itu butuh dukungan dari sekolah agar mau memfasilitasi tempat ibadah yang memadahi. Dibutuhkan juga aturan dan tata tertib siswa yang dapat mendukung hal tersebut. Guru juga wajib memberikan teladan  untuk bersama-sama dengan siswa menjalankan ibadah salat, memulai, dan mengahiri kegiatan dengan doa, serta merutinkan dzikir dan doa setelah salat. Dan tidak kalah penting, bekerja sama dan menjalin komunikasi intensif dengan orang tua untuk mengawal ibadah anak di rumah.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *