33 C
Semarang
Sabtu, 30 Mei 2020

Kembangkan Bisnis Sapi Perah

Desa Jetak, Kecamatan Getasan

Another

Dari ”Terminal Tirtonadi” ke ”Pantai Klayar” lewat ”Dalan Anyar” (9)

Pola yang dipakai Didi Kempot dalam ”Stasiun Balapan” diterapkan pula pada lagu-lagunya yang mengambil nama tempat: memadukannya dengan kisah...

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma...

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos...

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN – Pertanian saat ini tidak terlalu dilirik oleh warga Desa Jetak, Kecamatan Getasan. Pasalnya, hasil dari sektor pertanian dinilai menjadi faktor utama warga setempat meninggalkan profesi warisan nenek moyang tersebut.

Kades Jetak, Sutrimo mengungkapkan warga setempat sejak enam tahun terakhir lebih memilih menggeluti bisnis sapi perah dan pengolahan susu. Menurutnya hasil yang diperoleh dari beternak sapi perah lebih besar jika dibanding bertani sawah.”Karenannya semua warga disini berpindah haluan ke peternak sapi perah,” ujar Sutrimo, Kamis (4/1).

Dijelaskannya pada awalnya masyarakat setempat banyak yang menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian. Karena kondisi cuaca yang tidak menentu serta masa panen yang hanya setahun dua kali membuat warga Desa itu mencari cara lain meningkatkan perekonomiannya. Ide beternak sapi perah kemudian muncul dan coba dikembangkan segelintir warga saja.

Karena berhasil, kemudian warga yang lain mengikuti hal serupa. Saat ini sudah ada ribuan peternak sapi perah yang tergabung dalam 12 kelompok. Kondisi tersebut menyita perhatian Pemkab Semarang dan pihak perbankan.

Beberapa bantuan dari Pemkab Semarang sudah dikucurkan ke Desa tersebut untuk memperbesar ternak sapi perah. Bahkan pihak perbankan saat ini tidak segan-segan memberikan bantuan kredit tanpa menggunakan agunan.

”Jadi agunannya hanya kepercayaan saja. Disini khan ada 12 dusun, jadi satu dusun ada yang satu kelompok, ada yang lebih dari satu kelompok. Bahkan dua sampai tiga kelompok,” katanya.

Karenannya, Desa tersebut saat ini dijuluki dengan Desa Sentra Komoditas Unggulan Susu (Sepaku). Nampaknya, warga tidak puas dengan hanya beternak sapi perah saja. Kemudian warga melebarkan sayap bisnisnya dengan pengolahan susu sapi perah tersebut.“Dulu susu dari hasil perahan sapi dibeli perusahaan susu besar. Kemudian saat ini kami membuat pengolahan sendiri, karena mendapat pinjaman mudah dari bank,” katanya.

Jumlah sapi perah sendiri di desa tersebut terhitung ada 1000 lebih. Pengolahannya kini tidak hanya jadi susu siap konsumsi saja, namun juga menjadi makanan. ”Satu ekor untungnya 15 ribu per 10 hari. Pemasaran ke pabrik susu besar,” katanya. Sistem pemasaran sendiri saat ini tidak melalui jemput bola.

Namun pihak pembeli datang langsung ke desa tersebut untuk membeli hasil perahan dan olahan. Seperti halnya Koperasi Unit Desa (KUD) dari Kabupaten Boyolali. KUD tersebut langsung datang ke lokasi peternak untuk mengambil langsung susu hasil perahan peternak. (ewb/bas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Dari ”Terminal Tirtonadi” ke ”Pantai Klayar” lewat ”Dalan Anyar” (9)

Pola yang dipakai Didi Kempot dalam ”Stasiun Balapan” diterapkan pula pada lagu-lagunya yang mengambil nama tempat: memadukannya dengan kisah...

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma diproduksi 100 biji kaset itu,...

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos pulang. Sempat membuatkan lagu khusus...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi, Jawa Pos — KATA sang kakak, ”Pas kecil...

Karya Didi Kempot: Ditulis Sekarang, Terkenal Puluhan Tahun Kemudian (5)

Manisnya karir tak didapat Didi Kempot begitu saja. Ada perjuangan berat yang dilalui. Kuncinya adalah terus berjalan di jalur yang diyakini. Tak berhenti meski...

More Articles Like This

Must Read

Bangun Karakter Lewat Ilmu Agama

PABELAN – Desa Semowo sangat menyadari pentingnya karakter bagi generasi muda. Untuk itu, pendidikan karakter dilakukan di Desa ini sejak dini. Salah satu cara yang...

Bentuk Forum Anak, Sekolah Ramah Anak, serta Puskesmas Ramah Anak

DPRD Kabupaten Magelang menyetujui Rancangan Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Kabupaten Layak Anak dalam rapat paripurna, beberapa waktu lalu. SETELAH melalui proses pembahasan di Pansus IV,...

Otonomi Daerah Masih Jadi Batu Ganjalan Pengembangan Wilayah

Oleh: Mursid Zuhri Bappeda Prov Jateng RADARSEMARANG.COM - Kerjasama pembangunan antardaerah serta melibatkan peran swasta menjadi segitiga aktor yang sangat menentukan kualitas/keberhasilan implementasi otonomi daerah. Sayang,...

Digital Economy dan Pusaran Disrupsi

RADARSEMARANG.COM - Tata ekonomi telah bergeser menuju pada tata ekonomi baru yang disebut dengan digital economy, yaitu tata ekonomi yang didasarkan pada ilmu pengetahuan,...

Tiga Pelaku Aborsi Diringkus

SALATIGA-Tiga pelaku yang diduga terlibat dalam pengguguran bayi atau aborsi berhasil diringkus Resmob Polres Salatiga. Penangkapan tersebut hasil dari pengembangana perkara yang menyeret Clara,...

Tiga Burung Diembat Maling

SALATIGA-Gerombolan pencuri semakin merajalela di Kota Salatiga. Bahkan burung peliharaan pun tak luput dari incaran maling. Mulis Fanusi, 32, warga Pungkursari, Kecamatan Sidorejo, Kelurahan Salatiga,...