26 C
Semarang
Minggu, 6 Juni 2021

Kemenag Bedah 20 Rumah Warga Miskin

RADARSEMARANG.COM, DEMAK – Kementerian Agama (Kemenag) Demak melakukan terobosan penting dalam mengentaskan kemiskinan di wilayah Demak. Yakni, melalui penggalangan dana zakat profesi PNS di lingkungan Kemenag, digunakan untuk bedah rumah warga miskin yang tidak layak huni.

Pelaksana bantuan bedah rumah Kemenag Demak, Ali Mustofa mengatakan, pada tahap 2 ini, Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Kemenag menargetkan bedah 20 rumah milik warga kurang mampu. “Jumlah itu, setiap 4 bulan sekali dibedah 3 rumah,” katanya.

Dana yang terkumpul melalui UPZ sebesar Rp 90 juta. Sedangkan 30 persen diserahkan ke Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Demak dan 70 persen lainnya dikelola sendiri oleh UPZ, termasuk untuk kegiatan bedah rumah tersebut. “Bedah rumah kali ini, membangun rumah Mbah Satuni, 65, warga RT 2 RW 2, Desa Mlekang, Kecamatan Gajah,” katanya, kemarin.

Menurutnya, keluarga Satuni sudah bertahun-tahun tinggal di rumah kayu bambu yang sudah lapuk dan tidak layak huni. Karena itu, rumah mirip kandang kambing tersebut dibantu UPZ Kemenag Demak sebesar Rp 16 juta. Dari bantuan itu, dilakukan pembangunan dari nol, mulai pembuatan fondasi cakar ayam, slup, herbel, dan atap asbes. Sementara, dari warga sekitar juga ikut berpartisipasi membantu kekurangannya, termasuk membangun lantai dengan keramik. “Masyarakat ikut berpartisipasi,” ujar dia di sela meninjau bangunan rumah Satuni berukuran 6×8 meter persegi yang dibangun UPZ, kemarin.

Kepala Kemenag Demak HM Thobiq melalui Koordinator UPZ, Ali Sugiyanto mengatakan bahwa pengumpulan dana bedah rumah dari UPZ cukup efektif membantu dan meringankan beban warga miskin yang rumahnya tidak layak huni. “Kami akan jalankan program bedah rumah ini terus menerus, agar dapat membantu warga tidak mampu secara ekonomi,” katanya.

Satuni mengungkapkan, dirinya sudah lama menjanda. Suaminya, Wagiran, telah lama meninggal dunia. Ia pun hidup bersama tiga anak laki-lakinya. Yaitu, Nasirin, 51, Sunardi, 47, dan Kasbun, 42. Dari tiga anaknya itu, hanya Nasirin yang dapat membantu ekonomi keluarganya. Ia sudah berkeluarga.

Sedangkan, Sunardi sebelumnya sempat mengalami gangguan jiwa sehingga tidak bisa bekerja, namun bisa sembuh lagi. Sedangkan, Kasbun dari kecil matanya tidak bisa melihat (buta). “Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, saya menjadi tukang pijat. Tapi, sekarang sudah tua tenaganya tidak kuat lagi. Saya dan dua anak saya, Sunardi dan Kasbun hanya bisa di rumah setiap hari. Suami saya (Wagiran) sudah meninggal saat usia Kasbun baru 40 hari,” kata Mbah Satuni. (hib/sct/ida)

Latest news

Garuda Ayolah

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here