33 C
Semarang
Selasa, 14 Juli 2020

Warung Makan Khas Dibanjiri Pengunjung

Libur Akhir Tahun

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN – Libur pergantian tahun, menjadi berkah bagi beberapa warung makan khas di Kabupaten Semarang. Pasalnya saat libur pergantian tahun, dibanjiri pengunjung. Seperti halnya warung makan Mbak Toen yang berada di Kecamatan Banyubiru. Warung makan yang menyajikan kuliner khas daerah setempat yaitu pecel keong sudah dibanjiri pengunjung sejak Minggu pagi (31/12) kemarin.

Menurut pemilik warung, Romjatoen, 57, mengakui jika kedatangan pengunjung lantaran rasa penasaran bagaimana rasa pecel keong yang ada di warungnya. Di atas lahan sekitar 300 meter persegi tersebut warung berdiri. Lokasi tepatnya yaitu persis di depan Pemandian Muncul, Kecamatan Banyubiru. “Sudah belasan tahun warung ini berdiri, dari dulu ya yang dicari pecel keongnya,” ujarnya.

Selain pecel keong, lanjutnya, menu spesial lain yang ditawarkan yaitu pecel belut maupun kolak ketan. Kemudian soal harga sangat terjangkau. Namun untuk memesan harus antre dan sabar menunggu giliran. Bagi pecinta kuliner yang belum pernah mencobanya, ketika datang langsung mencari tempat duduk yang kosong.

Dikatakannya, satu hari rata-rata menghabiskan 25 kilo gram keong. Ia yang dulunya hanya berjualan di bawah pohon munggur depan Pemandian Muncul, kemudian pindah di seberang jalan yaitu lokasinya yang sekarang. “Dari dulu menu spesialnya pecel keong,” katanya.

Beberapa pengunjung mengaku jika baru pertama kali mencoba pecel keong khas Kecamatan Banyubiru tersebut. salah satu pengunjung yaitu Eko Sus, 43. Menurut warga Kota Solo tersebut, ia baru pertama kali mencoba pecel keong khas Banyubiru. “Baru sekali datang ke sini. Belum tahu, terus duduk menunggu dan pesan sama yang melayani dibilang antre dulu. Kami disarankan untuk menuliskan menu di meja kasir,” kata Eko Sus.

Untuk pecel yang ada di Warung Makan ‘Mbak Toen’ hampir sama dengan pecel pada umumnya. Hanya saja ada tambahan masakan keong. “Awalnya saya berpikir keongnya berupa sate, ternyata masakan keong. Soal rasa oke juga,” ujar pria berambut putih ini.

Satu porsi pecel keong Rp 10 ribu, pecel belut Rp 20 ribu dan kolak ketan Rp 5 ribu. Selain itu, menjajakan berbagai rempeyek baik peyek kacang, wader maupun lainnya. Hal serupa juga terjadi di warung makan Tanto Tanti di Desa Kenteng Kecamatan Bandungan.

Warung makan yang menyajikan kuliner khas bandungan yaitu olahan daging kelinci juga dibanjiri pengunjung saat libur pergantian tahun. Pemilik warung, Tanti, 38, mengungkapkan daging kelinci yang ia jual diolah menjadi berbagai macam masakan. Mulai dari sate hingga rica-rica.

Saat libur pergantihan ini ia bisa menghabiskan 500 tusuk sate kelinci dalam sehari. “Kalau pada hari-hari biasanya hanya 50 sampai 100 tusuk,” ujar Tanti. Selain dari penjualan sate kelinci, pemasukan yang lain juga dari penjualan rica-rica daging kelinci. (ewb/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Olah Rebung Jadi Kuliner Khas Desa

Tak banyak yang tahu, jika tunas muda yang tumbuh dari akar bambu atau yang lebih familiar dengan sebutan rebung dapat diolah menjadi berbagai aneka...

Waspadai 4 Bencana Terbanyak

DEMAK-Pemkab Demak selalu siaga dalam mewaspadai 4 macam bencana yang kerap melanda wilayah Demak. Yaitu, banjir, orang tenggelam, kebakaran dan puting beliung. Hal ini...

Bersama Menjaga Kesejukan di Jateng

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Ketua DPRD Jateng, Rukma Setyabudi mengajak seluruh elemen masyarakat turut dalam menjaga kondusifitas dan kesejukan di Jateng. Masyarakat diminta jangan mudah...

PMI Kekurangan Stok Darah

RADARSEMARANG.COM, KENDAL - Palang Merah Indonesia (PMI) Kendal mengaku kekurangan stok kantong darah selama Ramadan ini.  Kekurangan ini lantaran minimnya pendonor darah selama bulan...

Nyaman dan Aman di Cluster Gardenia

SEMARANG - Harga properti khususnya rumah tinggal terus naik. Hal tersebut membuat konsumen makin selektif menentukan pilihan dalam membeli rumah hunian atau sekadar untuk...

Semarang Automotive Club (SAC), Klub Otomotif Tertua di Kota Semarang

Membentuk komunitas, sebenarnya bukan hal yang mudah. Apalagi bisa tetap eksis dalam jangka waktu yang lama di dunia otomotif. Hal itu dirasakan, pimpinan komunitas...