Berinovasi di Pembelajaran Karakter PAUD

spot_img

RADARSEMARANG.COM –¬†PENDIDIKAN karakter berfungsi sebagai penyeimbang dalam proses perkembangan ognitif peserta didik. Dalam kegiatan pendidikan terdapat proses transformasi pengetahuan dan transformasi nilai. Transformasi pengetahuan akan menghasilkan peserta didik yang cerdas secara intelektual, sedangkan transformasi nilai menghasilkan peserta didik yang berkarakter. Kedua proses tersebut harus berjalan secara seimbang. Sebab mengedepankan salah satu proses dan mengabaikan salah satunya akan menghambat pencapaian tujuan pendidikan secara keseluruhan.

Banyak sekali contoh kasus tentang merosotnya moral anak bangsa yang dilakukan oleh seorang yang memiliki latar pendidikan tinggi. Kasus korupsi, pelanggaran asusila, praktek ketidakjujuran hampir disetiap lini masyarakat, rendahnya kesadaran menjaga alam, telah memberikan pelajaran berharga bahwa pendidikan belum mampu membentuk karakter yang kuat.

PAUD sebagai bagian dari  layanan pendidikan, memiliki posisi yang strategis dalam membentuk karakter anak. Mengingat masa usia dini adalah masa keemasan untuk menanamkan nilai dan mengembangkan seluruh potensi kecerdasan anak. Pada masa ini perlu kerjasama antara orangtua, guru dan lingkungan untuk membentuk karakter anak usia dini. Mengapa kerjasama ini perlu dilakukan sebab proses terbentuknya karakter membutuhkan keteladanan, intervensi dan pembiasaan yang terus menerus dan berlangsung secara konsisten dan terus diberi penguatan. Adanya inkonsistensi antara pendidikan dan pembiasaan yang dilakukan di sekolah dengan pembiasaan di rumah, akan membuat anak bingung dalam memahami nilai.

Baca juga:   Asyik Belajar Bahasa Inggris

Di sisi lain program pembelajaran karakter di lembaga PAUD selama ini cenderung monoton dan tidak memiliki strategi yang tepat. Anak sering diingatkan dengan kata-kata, ceramah dan nasehat. Sementara anak usia dini masih sulit memahami konsep benar atau salah. Kelemahan lain yang membuat program pembelajara karakter kurang efektif adalah tidak ada perencanaan yang terstruktur. Program dilaksanakan sambil lalu dan tidak ada kesinambungan.

Hasil yang diharapkan menjadi bias karena anak-anak terpola dalam pembiasaan kadang-kadang. Kadang dilarang, kadang diijinkan, kadang diingatkan, kadang dibiarkan. Selain itu belum ada media yang bisa digunakan anak untuk membentuk sikap kebiasaan atau karakter yang baik. Padahal dilihat dari tahapan perkembangan kognitif,anak masih berada dalam tahapan pra operasional konkret. Anak butuh benda nyata untuk memahami sesuatu melalui proses melihat, meraba, mengasosiasi  dan melakukan atau memainkannya.

Author

Populer

Lainnya