33 C
Semarang
Kamis, 24 September 2020

Sedih, Bangunan Cagar Budaya Dicat Warna-Warni

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Gedung eks Van Dorp di Kawasan Cagar Budaya Kota Lama Semarang belakangan ini menjadi kontroversi yang ramai diperbincangkan di media sosial. Pasalnya, bekas gedung tua tersebut dicat warna-warni dan disulap menjadi museum 3D (tiga dimensi) bernama Dream Museum Zone (DMZ) Semarang. Cat warna-warni ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa gedung eks Van Dorp tersebut dinilai tidak memiliki nilai sejarah. Hal tersebut langsung menuai kontroversi.

Seorang arsitek senior di Semarang, Satrio Nugroho, saat dimintai pendapat mengenai permasalahan tersebut mengungkapkan kesedihannya. “Saya melihat dari sudut pandang arsitek, bangunan (Van Dorp) warna-warni di Kota Lama itu menjadi kehilangan unity,” kata Satrio kepada Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (30/12).

Kota Lama telah menjadi kawasan cagar budaya. Kalau berbicara ‘kawasan,’ jelas dia, tentu saja bukan hanya berbicara gedung per gedung. Kawasan Cagar Budaya Kota Lama itu sendiri telah diatur di dalam Perda Kota Semarang Nomor 8 Tahun 2003.

“Bangunan itu memiliki nilai sejarah. Bahkan sejarahnya wartawan di Semarang ada di situ. Saya pikir akan lebih elegan dengan bangunan yang tetap menjaga keaslian. Fungsinya monggo mau dibikin apapun oke,” ujarnya.

Hal yang tampak saat ini, menurutnya, tidak pas dan tidak sesuai. Sebab, unity fasad bangunan eks Van Dorp tersebut terkesan aneh dan menonjol. Tidak disesuaikan dengan bangunan Kota Lama. “Tetapi problem paling berat itu sebetulnya mengenai Perda yang sudah dibuat oleh Pemkot Semarang justru malah ditabrak sendiri. Problemnya ada di sana. Sebetulnya bangunan aslinya sudah seksi banget. Cuma cara menanganinya saja. Pihak investor harusnya juga lebih arif (bijaksana). Kalau dibikin seperti itu, jadinya malah kayak bangunan ecek-ecek itu,” katanya.

Dijelaskan, cat warna-warni bukan menjadi hal yang dilarang. Tetapi, cat warna-warni itu ketika diterapkan di bangunan kawasan cagar budaya, apalagi di jalan utama, mestinya menyesuaikan dengan bangunan di sana. “Tidak harus warnanya putih nyemplak juga nggak. Tapi dibikin yang elegan. Sehingga ketika orang di Kota Lama terasa cirinya begini lho. Memang banyak di kota-kota dunia yang warna-warni dan dapat penghargaan dari world heritage, karena memang sejarahnya seperti itu. Di Malaka juga ada warna-warni, karena memang ada sejarahnya kenapa warna merah,” ungkapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Bullying Berefek Jangka Panjang

SEMARANG – Seminggu penuh dimanfaatkan oleh mahasiswa program studi D3 Hubungan Masyarakat Universitas Diponegoro (Undip) untuk melakukan rangkaian kampanye stop bullying. SD Negeri Kramas...

Tuk Lumpang, Jadi Destinasi Wisata Menarik

RADARSEMARANG.COM, BATANG - Desa Sendang terletak di Kecamatan Tersono, ibarat intan yang belum terpoles. Banyak lokasi wisata menarik tapi belum dieksplorasi secara profesional dan masih...

Waktu Zakat Fitrah

Assalamu’alaikum Warahmatullah Pak Izzuddin yang saya hormati, terkait dengan zakat fitrah, benarkah zakat itu sebelum salat Id? Lalu bagaimana dengan kebiasaan masyarakat kita yang...

Kursi Pesawat Terisi 82 Persen

SEMARANG – Tingkat keterisian penumpang pesawat tahun ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini seiring dengan geliat pertumbuhan ekonomi serta pariwisata yang mendorong...

Diguncang ”Gempa”, PNS Pemprov Panik

SEMARANG – Ratusan pegawai negeri sipil (PNS) yang tengah bekerja di kompleks kantor Gubernur Jateng, berteriak panik, Rabu (26/4) pagi. Mereka berlairan berusaha keluar...

ASN Kumpulkan Rp 2 M per Bulan

SEMARANG - Potensi zakat pendapatan Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemprov Jateng yang mencapai sekitar Rp 2 miliar per bulan, menjadi sumber dana...