Menghilangkan Label Anak Bodoh

spot_img

RADARSEMARANG.COM – ADA yang salah, jika orangtua menganggap anak bodoh karena nilai yang tidak memuaskan. Setiap anak pasti memiliki kelebihan dalam bidang tertentu yang belum diketahui orangtua. Guru maupun orangtua sering terjebak mengukur kemampuan anak hanya pada satu ranah, yaitu ranah kemampuan kognitif. Namun, memang harus diakui hanya kemampuan kognitiflah yang dapat didokumentasikan menjadi rapor. Oleh karena itu, orangtua dan guru sering terjebak memberikan label kepada anaknya, pandai atau tidak hanya berdasarkan lembaran hasil kemampuan kognitif.

Apabila seorang anak berperilaku sopan, menghargai guru dalam mengajar, selalu menolong teman-temannya jika kesusahan, dan patuh pada orangtua tetapi nilai ulangannya mendapat nilai 5, maka seringkali orangtua menilai anak tersebut tidak pandai. Hilang sudah kemampuan afektif yang dimiliki oleh siswa tersebut. Sayangnya, kemampuan anak pada aktivitas psikomotorik maupun afektif belum terekam menjadi sebuah kompetensi. Disamping itu, sistem pendidikan di Indonesia diakui atau tidak, masih menempatkan kemampuan kognitif di atas kemampuan psikomotorik maupun afektif.

Howard Gardener dalam bukunya yang berjudul, Frames of Mind, menolak pemahaman bahwa hanya ada satu macam kecerdasan yaitu, IQ yang menentukan kesuksesan hidup manusia. Bagi Gardener, ada spektrum kecerdasan yang lebar yang dapat dibagi menjadi 8 varietas utama. Dengan mengetahui beragam kecerdasan ini, orangtua maupun guru dapat menentukan di sisi mana anaknya memiliki kelebihan. Selain itu, hal ini juga berguna sebagai langkah awal untuk memupuk bakat anak agar mendapatkan pembinaan yang lebih terarah. Delapan varieties utama itu antara lain:

Baca juga:   Pembelajaran Listrik Searah dengan Media Komik

Pertama, kecakapan linguistik. Kecerdasan ini dimiliki oleh anak yang cakap dalam berkomunikasi, serta mudah untuk menyampaikan gagasan-gagasannya di depan publik. Anak dengan kecakapan linguistik ini memiliki kemampuan besar untuk serius dalam bidang sastra.

Kedua, matematika logika. Kecerdasan ini berada dalam wilayah logka rasional. Kecerdasan logika ini, bukan hanya berlaku dalam bidang perhitungan dan ilmu pasti saja, melainkan juga seluruh sisi kehidupan manusia. Dalam sastra, budaya dan sosial sekalipun kecerdasan logika ini kerap dibutuhkan. Tentu saja tidak dalam bentuk perhitungan melainkan logika hukum sebab akibat.

Ketiga, pemahaman ruang. Kecerdasan ini sangat berarti untuk arsitek dan seniman. Jika orang biasa sulit membayangkan sebuah benda dalam bentuk tiga dimensi di alam khayal, maka tidak demikian dengan orang – orang yag memiliki kecerdasan ini. Anak yang memiliki kecerdasan ini baik jika diarahkan untuk spesifikasi bidang seni. Pemahaman akan warna, komposisi ruang dan eseimbangan bentuk, termasuk keahlian di bidang ini.

Author

Populer

Lainnya