Melindungi Siswa dari Jajanan Berbahaya di Sekolah

spot_img

Alternatif cara yang  dapat ditempuh oleh pihak sekolah, orang tua, maupun masyarakat, di antaranya,  pertama, menanamkan konsep hidup sehat kepada anak-anak baik di rumah dalam keluarga dan lingkungan sekitar dan di sekolah. Penanaman konsep hidup sehat ini dapat dilakukan oleh pihak sekolah melaui pembelajaran yang diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran. Utamanya mata pelajaran pendidikan kesehatan. Demikian pula orang tua dapat menamamkan kesadaran hidup sehat itu di rumah melalui berbagai teknik. Apalagi di era sekarang ini berbagai media mudah diakses dalam kebutuhan untuk berbagai hal termasuk imbauan, ajakan dan motivasi untuk berhidup sehat.

Kedua, orang tua perlu membudayakan kebiasaan  putra-putrinya  tidak membeli jajan sembarangan. Hal ini dapat ditekan melalui kebiasaan menyiapkan bekal makanan atau minuman sehat yang dibuat atau dibeli sendiri. Dengan membawa bekal sendiri dari rumah sedikit banyak akan mengurangi kebiasaan jajan di sekolah.

Hal semacam ini sudah banyak dilakukan di berbagai sekolah baik di Taman Kanak-Kanak /Bustanul Atfal, Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah dan Sekolah Umum Tingkat Pertama/ Madrasah Tsanawiyah. Dengan kebiasaan seperti itu ada dua manfaat sekaligus. Disamping anak akan lebih terjaga kesehatannya, juga ada kecenderungan peningkatan angka menabung, karena uang jajan mereka sebagian besar lebih diutamakan untuk menabung.

Baca juga:   PTM di PAUD, Siapkah?

Ketiga, jika memungkinkan pihak sekolah atau bersama wali murid membangun kantin sekolah sehat yang akan lebih bertanggung jawab menyediakan jenis makanan sehat bagi murid-muridnya. Dengan berbagai macam makanan yang dapat dipertanggungjawabkan unsur kesehatannya, kantin sekolah akan diburu oleh siswa-siswinya. Hanya saja dalam hal ini pihak sekolah harus lebih bertanggungjawab menyediakan makanan sehat. Bukan malah menyediakan makanan semacam yang dijual di luar sekolah yang sebagian besar membahayakan.

Keempat, mengadakan pendekatan kepada para pedagang di luar sekolah yang menjual jenis jajanan. Pendekatan ini dilakukan dengan tujuan agar mereka ikut bertanggung jawab dalam menjaga kesehatan anak-anak.  Ajakan pihak sekolah dan wali murid melalui komite sekolah dapat dilakukan agar para pedagang menjajakan jajanan sehat dan berkualitas. Perlu pula disepakati bagi para pelanggar untuk  mendapatkan sanksi yang ketat. Sanksi itu dapat berupa larangan berjualan lagi di sekitar sekolah atau tidak boleh menjual makanan yang telah terindikasi membahayakan bagi kesehatan. Apabila hal tersebut telah disepakati bersama, maka pihak sekolah maupun orang tua tinggal betugas untuk mengawasi atau mengontrol para pedagang tersebut secara rutin agar tidak terjadi pelanggaran.

Baca juga:   Bisnis Online Sebagai Media Belajar Wirausaha

Banyak hal lain yang mungkin dapat dilakukan oleh berbagai pihak untuk menyelamatkan anak-anak dari jajanan berbahaya. Mengingat pengawasan di sekolah tentu tidak dapat dilakukan secara maksimal, maka dibutuhkan kerja sama dengan pihak orang tua siswa maupun pihak lain yang peduli menjaga kesehatan anak di masa depan.

Apabila berbagai hal tersebut dapat dilakukan oleh para pihak, maka akan dapat menekan angka kasus keracunan makanan yang selama ini terus menimpa anak-anak di sekolah. Harapannya, tidak lagi terdengar kasus-kasus keracunan makanan sebagaimana sering kita dengar baik melalui media cetak maupun media elektronika.

Hal-hal di atas sudah banyak dilakukan, utamanya sekolah-sekolah yang sudah menjalankan program adiwiyata. Apalagi yang sudah mendapat predikat sekolah adiwiyata kabupaten, provinsi, nasional, ataupun adiwiyata mandiri. (*/aro)

Guru/Tim Sekolah Adiwiyata Nasional SMP Negeri 7 Pati

Author

Populer

Lainnya