33 C
Semarang
Sabtu, 19 September 2020

Terus Kembangkan Pengolahan Biogas

Desa Samirono, kecamatan getasan

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

RADARSEMARANG.COM, GETASAN – Desa Samirono menargetkan 2019 bisa menjadi Desa mandiri energi. Keberanian menetapkan target ini bukan tanpa alasan, saat ini di Desa Samirono sudah memiliki sejumlah penampungan untuk pengolahan biogas dari kotoran hewan ternak warga.

”Di sini ada digester yang sepertinya terbesar, ukurannya 100 meter kubik. Ini dipakai untuk satu RT. Sementara itu ada juga sejumlah penampungan kotoran hewan denga ukuran yang lebih kecil, 40, 20, 10 dan 6 meter kubik,” jelasnya.

Slamet Juriono (SIGIT ANDRIANTO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
Slamet Juriono (SIGIT ANDRIANTO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

Pemanfaatan kotoran hewan menjadi biogas ini dikatakan oleh Juriono memberikan sejumlah dampak bagi warga. Dampak tersebut diantaranya adalah pada penghematan. Sebab, warga tidak perlu membeli gas elpiji untuk memasak.

Selain itu, adanya biogas ini juga ditujukan untuk menyikapi gas alam yang mulai berkurang. Pengembangan biogas diharapkan bisa menjadi alternatif pilihan jika gas alam habis. ”Ini juga untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Karena setelah dibuat biogas, kotoran sapi ini keluarnya sudah tidak bau. Juga mencegah wabah yang bisa muncul akibat banyaknya kotoran sapi,” jelanya.

Upaya untuk menuju Desa mandiri energy ini dilakukan pemerintah desa melalui berbagai hal. Mulai dari mencari bantuan Provinsi, Kabupaten maupun bekerjasama dengan pihak ke-tiga atau pengusaha yang ada di Desa ini. ”Nanti para pengusaha itu akan kami minta untuk membuat penampungan sehingga dapat menghasilkan biogas yang dapat dimanfaatkan warga,” kata dia.

Rebin, bendahara desa Samirono menambahkan, untuk membuat biogas ini sebenarnya kotoran dua sapi dewasa saja sudah cukup. Hanya saja, dengan dua sapi gas yang dihasilkan juga tidak terlalu banyak. ”Kalau banyak kotorannya, maka semakin banyak juga hasilnya,” jelasnya.

“Di sini baru beberapa yang menggunakan. Kedepan kita dorong agar semuanya bisa menggunakan. Terlebih kalau jumlahnya melimpah mungkin bisa kita jual juga sehingga bbisa menambah penghasilan Pemerintah Desa,” imbuh pria yang gemar tersenyum ini.

Adanya biogas ini tentu membuat warga sangat senang. Pasalnya, mereka tidak perlu mengeluarkan biaya untuk bisa memasak. Cukup dengan mengisikan kotoran sapi ke penampungan tiap pagi dan sore, mereka sudah bisa menggunakan energi yang berasal dari kotoran sapi ini. ”Ya seneng. Nggak harus beli gas yang mahal. Dengan ini sudah bisa masak,” ujar Saminah, salah satu warga desa Samirono.

Tidak hanya sebatas untuk memasak saja, energy ini juga dapat dimanfaatkan untuk menyalakan lampu petromax. (sga/bas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Tidak Akan Mengubah, Dulu Rumah Lurah

RADARSEMARANG.COM - Berakhirnya era kolonial, membawa banyak perubahan. Termasuk desain hunian yang keluar dari standar bangunan khas ala Belanda. Adalah Rumah Jengki, yang cukup...

Singapore Mencari Generasi Keempat

Oleh: Dahlan Iskan Hari ini ada Pemilu di Singapura. Pemilu di intern partai penguasa: PAP (People’s Action Party). Itu lebih penting. Dibanding pemilu sungguhan: yang pemenangnya...

Jika Aplikatif, Gubernur Siap Beli Jaring Apollo

PEKALONGAN–Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo mendorong para kreator dan inovator untuk diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Sehingga hasil kreasinya, tidak hanya menjadi prototipe untuk memenuhi perpustakan...

Derby Megono Milik Persip

BATANG-Pertandingan dua klub sepakbola bertetangga yang memiliki kultur dan sejarah yang sama, Persibat Batang dan Persip Pekalongan, dengan titel Derby Megono (diambil dari nama...

1,5 Bulan, Kebut 3 Raperda

MAGELANG – Meski menyisakan masa kerja tahun 2017 kurang dari 1,5 bulan, DPRD Kota Magelang terus mengebut pembuatan rancangan peraturan daerah (raperda). Dewan optimistis...

Kaligrafi TKW

Oleh: Dahlan Iskan Beredar luas: video TKW yang ahli menulis kaligrafi huruf Mandarin. Seseorang minta saya menulis di disway.id: benarkah itu? Seseorang itu adalah orang yang...