Pikma Upgris Siap Terima Curahan Hati

Must Read

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau...

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Keberadaan peer counseling (konseling sebaya, red) dinilai penting. Pasalnya remaja lebih sering menceritakan permasalahan yang sedang dihadapi dengan teman sebaya, dibandingkan dengan orang tua, pembimbing, guru di sekolah atau dosen di kampus.

Hal tersebut disampaikan Kepala Pusat Kependudukan Perempuan dan Perlindungan Anak LPPM Universitas PGRI Semarang (Upgris) Dr Arri Handayani, disela pelantikan 18 pengurus Pusat Informasi dan Konseling Mahasiswa (Pikma) Edukasia Upgris di Gedung Pascasarjana, Kampus I Sidodadi Semarang, kemarin.

Mahasiswa yang dilantik pun berasal dari masing-masing fakultas. Pihaknya mendorong pengurus Pikma menjadi konselor untuk menjadi pionir tentang generasi berencana (Genre), terutama dalam menyiapkan kehidupan berkeluarga.

“Nantinya, adik-adik mahasiswa atau teman sebaya yang ingin berbagi cerita, atau ingin mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi bisa datang dan berdiskusi dengan para konselor ini,” terangnya.

Harapannya, permasalahan yang dihadapi bisa mereka selesaikan dengan baik. Selain itu, adanya konselor sebaya ini juga menjadi antisipasi salah alamat bagi mereka yang sedang memiliki masalah sehingga tidak menambah persoalan mereka sendiri.

“Biasanya, remaja akan merasa bahwa orang dewasa tidak dapat memahami persoalan yang mereka hadapi, sehingga lebih mempercayai teman sebayanya,” tambahnya.

Keterbukaan dan perasaan senasib di antara mereka ini, dapat menjadi upaya memfasilitasi perkembangan remaja. Di sisi lain, beberapa karakteristik psikologis remaja seperti emosional dan labil, menjadi tantangan bagi efektivitas layanan konseling teman sebaya.

“Ada satu hal yang harus diingat, bahwa konselor sebaya bukan pemberi solusi, namun membantu remaja atau mahasiswa atau klien, dalam menemukan solusi yang terbaik untuk permasalahan yang mereka hadapi,” pungkasnya. (tsa/zal)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini hadir dengan keunggulan internal memori...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau SARS 18 tahun lalu. SARS: yang...

Wajah Baru Warnai Ofisial Tim PSIS

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – PSIS Semarang resmi memperkenalkan ofisial tim musim depan. Terdapat beberapa nama baru yang akan bahu-membahu membantu pelatih Dragan Djukanovic mengarsiteki Mahesa Jenar...

Lomba Cepat

Berita buruknya: korban virus Wuhan bertambah terus. Sampai kemarin sudah 106 yang meninggal. Hampir semuanya di Kota Wuhan --ibu kota Provinsi Hubei.Berita baiknya: yang...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -