33 C
Semarang
Jumat, 18 September 2020

Mayoritas Siswa Nyambi Bekerja di Jalanan

Melongok Aktivitas Sekolah Dasar (SD) di Tengah Makam Bergota, Semarang

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

RADARSEMARANG.COM – Sekolah ini berdiri di lokasi yang tidak biasa. Yakni, di tengah kompleks Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bergota. Batu nisan dan pohon kamboja mengelilingi sekolah ini.  Ya, itulah SD PL Servatius Gunung Brintik. Seperti apa?

AFIATI TSALATSATI

MENUJU lokasi SD PL Servatius Gunung Brintik melewati jalan paving yang tidak terlalu lebar. Jalannya naik turun. Saat musim hujan, jalannya cukup licin. Jalan itu hanya bisa dilewati pejalan kaki, pengayuh sepeda dan pengendara motor. Mobil hanya sampai di jalan besar yang membelah makam. Di kanan-kiri penuh batu nisan. Di antara batu nisan itu, para siswa sekolah ini bisa bermain saat jam istirahat maupun sepulang sekolah.

Salah satu guru SD PL Servatius Gunung Brintik, Veronica Suharti, mengatakan, aktivitas di sekolahnya tak beda jauh dengan sekolah lain. Hanya memang, letak sekolah di tengah pemakaman umum. “Pemandangan sehari-hari sekitar sekolah ya batu nisan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dikatakan, sekolah di Jalan Dr Sutomo No 4 Semarang ini memiliki 118 siswa. Di kompleks sekolah  ini juga terdapat Taman Kanak-kanak (TK) yang letaknya di bagian paling bawah. Fasilitas lain yang dimiliki adalah laboratorium hingga ruang pembelajaran dan praktikum. Kelebihan sekolah ini di atas perbukitan, sehingga bisa memandang lepas Kota Semarang dari atas.

Diakui Veronica, beberapa kejadian tak wajar dialami. Misalnya, lampu di sekolah itu mendadak padam. Padahal di permukiman warga sekitarnya tidak. “Pernah saat sedang persiapan akreditasi sekitar magrib, lampu tiba-tiba padam. Setelah kita istirahat dan berdoa bersama, lampu menyala lagi,” tuturnya.

Veronica menjelaskan, sebagai umat Katolik setiap jam 12.00, di sekolah itu dilakukan Doa Malaikat Tuhan. Beberapa kali, jika jam 12.00 dan karyawan serta guru masih bekerja tiba-tiba printer yang digunakan macet. “Awal-awal sempat kaget dengan beberapa kejadian itu. Lama-lama jadi terbiasa. Kami bersyukur karena tidak sampai mengganggu,”katanya.

Meski demikian, kejadian di luar nalar itu tidak menyurutkan semangat para guru untuk memberikan pendidikan yang berkualitas. Sebab, sebagian besar murid SD PL Gunung Brintik berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah. Sehingga membutuhkan bimbingan moral dan etika, selain pendidikan formal.  “Sebagian siswa kita juga bekerja, mereka ada di jalanan. Ini coba kita ubah agar fokus ke sekolah,” sambung Waka Kesiswaan SD PL Servatius Gunung Brintik, Sunaryo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

2017, Tol Semarang-Demak Dibangun

DEMAK-Rencana pembangunan jalan tol Semarang-Demak tahun ini selain untuk akses kendaraan, juga difungsikan sebagai penahan abrasi di wilayah Desa Sriwulan dan Desa Bedono, Kecamatan...

Tingkattkan Ketrampilan, Warga Petungkriyono Membatik

KAJEN–Puluhan warga beberapa desa di Kecamatan Petungkriyono, mengikuti pelatihan membatik dengan motif atau corak lokal, khas Petungkriyono yang mengedepankan flora dan fauna, di Kantor...

1.000 Penari Jaran Kepang akan Tampil di  Depan Gubernur

TEMANGGUNG - Perkumpulan Seni Jaran Kepang (PSJK) Temanggung  akan menggelar even akbar, “Sedekah Turangga Bhumi Phala 2017”.  Kegiatan dengan menampilkan 1.000 penari jaran kepang...

Ida Ziarah ke Makam Sunan Pandanaran

RADARSEMARANG.COM, KLATEN-Calon Wakil Gubernur Jateng, Ida Fauziyah berziarah ke makam Sunan Pandanaran, di Bayat, Kabupaten Klaten. Sunan Pandanaran merupakan bupati kedua Semarang. Ini terkait...

Manfaatkan Gedung PPI Jadi Galeri IKM

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Revitalisasi Kota Lama terus berjalan. Sejumlah gedung telah direnovasi dan mulai dimanfaatkan. Kali ini empat blok bangunan milik PT Perusahaan Perdagangan Indonesia...

OJK Tertibkan Usaha Gadai

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan waktu bagi para pelaku usaha pergadaian untuk mendaftarkan usaha mereka hingga 29 Juli 2018 mendatang. Bagi...