30 C
Semarang
Senin, 12 April 2021

Budaya Baca di Kalangan Mahasiswa Rendah

spot_img
spot_img

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG Budaya literasi masyarakat Indonesia masih rendah. Masyarakat lebih sering menonton atau mendengar dibanding membaca, apalagi menulis. Termasuk di kalangan mahasiswa.

Mahasiswa belum terbiasa menggunakan literasi dan tidak terbiasa berpikir kritis, serta melakukan telaah ulang atas segala hal yang ada di sekitarnya.

“Hal ini tentu saja sangat mengkhawatirkan. Untuk itu perlu kita dorong budaya literasi ini, harus ditanamkan sejak dini kepada siswa,” kata Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud Prof Dadang Sunendar, dalam Seminar Nasional Literasi ‘Pemartabatan Bahasa Indonesia melalui Budaya Literasi dan Optimalisasi Ipteks’ di kampus IV Upgris Semarang, kemarin.

Sebagai mahasiswa, lanjutnya, terutama pada mahasiswa yang merupakan calon guru, harus bisa mendongkrak budaya literasi. Tujuannya agar mereka bisa berpikir kritis dan bisa memajukan kualitas pendidikan di Indonesia.

“Mengutip data statistik Unesco 2012, minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca,” paparnya.

Ia juga memberi gambaran tingkat membaca pelajar Indonesia yang masih sangat rendah berdasarkan hasil tes PISA dari tahun ke tahun. Yakni  urutan ke-39 dari 41 negara (2002), ke-39 dari 40 negara (2003), ke-48 dari 65 negara (2006), ke-57 dari 65 negara (2009), ke-64 dari 65 negara (2012), dan ke-69 dari 76 negara (2015). Tingkat membaca penduduk Indonesia tertinggal dari Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Singapura.

“Data tersebut terlihat jika masyarakat belum terbiasa melakukan sesuatu berdasarkan pemahaman dari membaca, sehingga belum dapat mengaktualisasikan diri melalui tulisan,” bebernya.

Sementara, Ketua Panitia yang juga dosen FPBS Upgris Muchlis menuturkan, kegiatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan minat dan budaya literasi di kalangan mahasiswa. “Selama ini kita melihat, rata-rata mahasiswa ini tidak suka membaca, apalagi menulis. Harapannya dengan ini budaya literasi tumbuh. Hal tersebut bisa dituangkan dalam bentuk apasaja, termasuk dalam cerpen, puisi , blogger atau novel,” ujarnya. (den/zal)

spot_img

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here