33 C
Semarang
Minggu, 27 September 2020

Tak Siap Cantrang Dilarang, Sebut Terjadi Kiamat

Baca yang Lain

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak...

RADARSEMARANG.COM, BATANG – Enam elemen Kelompok Perikanan yang tergabung dalam Komunitas Perikanan Batang menolak Permen KP. No. 2 Tahun 2015 tentang larangan penggunaan alat penangkapan ikan cantrang jenis Pukat Hela (Trawls) dan Pukat Tarik (Seinse Nets). Mereka juga menolak Permen KP No 71 Tahun 2016 yang akan berakhir masa transisinya pada 1 Januari 2018. Nelayan menyatakan belum siap dan jika benar aturan itu diterapkan maka akan terjadi kiamat di wilayahnya.

Keenam elemen tersebut antara lain, DPC HNSI Kabupaten Batang, LSM Pemberdayaan Nelayan Batang Rukun Agawe Santosa, Paguyuban Nelayan Lautan Sehat Batang, KUD Ngupoyo Mino Batang Matsofa, LPL Mina Samudra Batang dan Himpunan Bakul Ikan Batang (HBIB).

“Kalau benar diterapkan, pasti akan terjadi kiamat disini. Ekonomi akan mati total, karena 90 warga sini bergantung pada cantrang,” ucap Ketua LSM Pemberdayaan Nelayan Batang Rukun Agawe Santosa, Karbukti, Minggu (24/12).

Dijelaskan, pihaknya sudah menggelar demonstrasi kecil sejak Jumat lalu bersama komunitas ynag bergerak di sektor perikanan di Batang. Sikap tersebut, mereka buat karena mayoritas nelayan di Batang menggunakan alat tangkap cantrang. “Kalau disuruh pindah, alih alat belum tentu menguntungkan, dan terbukti tidak menguntungkan,” serunya lagi.

Ditegaskan pula, pihaknya sudah mencoba saran pemerintah untuk beralih ke alat penangkap ikan lain. Bahkan sudah berhutang ke bank. Namun ternyata alat baru tersebut tidak kunjung membuahkan hasil.

Ia juga mengatakan bahwa alat tangkap cantrang yang dianggapnya merusak lingkungan, ternyata setelah melalui uji petik secara ilmiah oleh IPB tidak masuk dalam kategori tak ramah lingkungan, dan tidak ditemukan alat cantrang merusak lingkungan. “Maka harapan kami alat tangkap cantrang untuk dapat dilestarikan karena itu hasil produk nenek moyang kita sebelum Indonesia merdeka hingga sekarang,” tegasnya.

Disampaikan juga jikalau Permen tersebut akan tetap diberlakukan, secara otomatis ekonomi sosial masyarakat nelayan akan terganggu, karena tidak bisa melakukan kegiatan ke laut untuk mencari nafkah. “Jujur saja kami nelayan dari bagian Jawa Tengah wilayah Pantura Barat berharap Permen tersebut untuk dicabut atau direvisi,” pintanya.

Ia juga mengatakan di Kabupaten Batang ada 10.000 nelayan yang akan menganggur, jika Permen tersebut akan diberlakukan. Bahkan akan berdampak pada sosial ekonominya pada nelayan di Batang beserta keluarganya.

“Banyak yang akan terkena dampak terutama bakul entek, bakul warung di tepian pantai, buruh songkro, buruh bongkar muat, buruh angkut, itu semuanya akan drastis mengalami kurangnya penghasilan,” ungkapnya lagi.

Di juga menjelaskan bahwa di Batang ada dua kelompok nelayan yaitu kelompok 31 GT keatas dan 31 GT ke bawah yang total ada 400 kapal lebih yang menggunakan alat cantrang. Hanya ada beberapa kapal yang menggunakan alat seperti Holler dan 4 kapal menggunakan jaring milenium itupun harus mencari orang yang ahli. (han/ric)

Berita sebelumyaPantai Wates Tercemar
Berita berikutnyaBKD Mudahkan Modal UMKM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...

Resesi

HARAPAN apa yang masih bisa diberikan kepada masyarakat? Ketika pemerintah secara resmi menyatakan Indonesia sudah berada dalam resesi ekonomi? Yang terbaik adalah menceritakan keadaan apa...

Setuju BTP

BTP kini sudah menjadi ''orang dalam" BUMN. Posisinya bisa dibilang menentukan, bisa dibilang kejepit. Tergantung pemegang sahamnya. Secara resmi pemegang saham BUMN itu adalah Menteri Keuangan....

Artikel yang Lain

- Advertisement -

Populer

Semarang 10K, Cetak Atlet Sekaligus Kenalkan Wisata 

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang akan mengadakan event lari 10K pada 16 Desember 2018 mendatang. Rencananya kegiatan tersebut akan menjadi agenda tahunan. Selain...

Apersepsi, Pembangkit Motivasi Dan Minat Siswa

RADARSEMARANG.COM - DARI tahun pelajaran 2016/2017 sampai dengan saat ini, terdapat kebijakan baru terhadap pelaksanaan Ujian Nasional (UN) pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)....

Sport Center Bisa Tingkatkan Prestasi

SEMARANG - DPRD meminta agar Pemprov dan kabupaten/kota lebih serius menggarap potensi atlet di Jateng. Salah satunya dengan meningkatkan dan menambah keberadaan pusat olahraga...

Booking 1 Jam Rp 600 Ribu, Sehari Bisa Layani 4 Tamu

RADARSEMARANG.COM-Lokalisasi Sunan Kuning (SK) bakal ditutup Pemkot Semarang pada 2019. Namun praktik prostitusi di Kota Atlas dipastikan tak pernah mati. Justru kini semakin marak,...

Headline Radar Semarang Terbaik se-Jawa Pos Group

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG—Jawa Pos Radar Semarang meraih penghargaan bergengsi dalam Kompetisi Product Quality Jawa Pos Group 2017-2018. Headline Jawa Pos Radar Semarang berjudul “Pabrik Pil...

Teknologi Augmented Reality untuk Kelas Inspiratif

RADARSEMARANG.COM - PERKEMBANGAN teknologi menuju era digitalisasi sudah merambah ke bidang pendidikan. Siswa dengan istilah “anak zaman now” tidak dapat lepas dari teknologi. Hampir...