Mengevaluasi Pembelajaran Guru PAI

spot_img

RADARSEMARANG.COM – BANYAK anak didik di sekitar kita yang salah atau perilakunya sangat buruk. Ketika kita sebagai manusia yang diciptakan Allah sebagai insan kamil, yang diberi akal untuk berpikir dan fisik yang luar bisa untuk bertindak. Melihat kerusakan akhlak anak-anak  Indonesia sebagai generasi penerus bangsa, hal tersebut sangat memprihatinkan. Mereka sangat hebat dalam teori tapi nol besar dalam praktik dan minim etika. Lalu, salah siapa sebenarnya hal ini?

Bicara anak, ada anak-anak yang pintar sekolahnya, tapi yang menyimpang akhlaknya. Lalu apa tugas guru selama ini? Novan Ardi Wiyani dalam bukunya ‘Ilmu Pendidikan Islam’ pun mejelaskan bahwa tugas guru adalah pekerja profesional yang secara khusus dipersiapkan untuk mendidik anak-anak yang telah diamanatkan orang tua, untuk dapat mendidiknya di sekolah.

Guru atau pendidik sebagai orangtua kedua, dan sekaligus penanggung jawab pendidikan anak didiknya setelah kedua orangtua di dalam keluarganya, memiliki tanggung jawab pendidikan yang baik kepada peserta didiknya. Dengan demikian, apabila orang tua menjadi penanggung jawab utama ketika anak anak berada di luar sekolah, guru merupakan penanggung jawab utama anak- anak melalui proses pendidikan formal yang berlangsung di sekolah, karena tanggung jawab merupakan konsekuensi logis dari sebuah amanat yang dipikulkan di atas pundak para guru. Tanggung jawab inilah diartikan sebagai suatu kesediaan untuk melaksanakan dengan sebaik-baiknya terhadap tugas yang diamanatkan kepadanya dengan kesediaan menerima segala konsekuensinya.

Ketika guru agama yang mempunyai tanggung jawab menyampaikan ilmu agama kepada siswa-siswinya di sekolah sebagai amanat dari orang tua murid. Mereka para guru agama bisa dan berhasil membuat siswa siswinya paham pelajaran. Misalnya, materi tentang salat, para guru bisa dengan mudah membuat siswa siswinya paham apa itu salat? Berapa kali sehari kita harus salat? Berapa rakaat? Apa saja rukunnya salat?  Apa saja syarat sahnya? dan lain sebagainya.  Tapi kenapa ketika banyak siswa tidak melaksanakan salat, malas salat, susah salat? Padahal mereka paham betul dengan teorinya. Lalu, apa masalah sebenarnya?

Baca juga:   Atasi Masalah Siswa selama Pandemi lewat Konseling Virtual

Coba flashback kembali apa guru-guru agama pernah mengajarkan, kenapa kita harus salat? Apa manfaat salat? Bagaimana salat yang khusyuk? Padahal khusyuk adalah hal terpenting dalam salat, kenapa guru-guru agama tak mengajarkannya? Bagaimana mereka bisa melaksankan ilmu yang sudah didapat dan melaksanakan sesuai teorinya? Padahal ketika mereka tahu maksudnya dan manfaatnya tanpa diminta bahkan disuruh mereka akan melaksanakannya sendiri bukan karena kewajiban tapi karena mereka telah paham maksudnya. Jadi salat tak lagi dilaksanakan sebagai kewajiban, tapi sebagai kebutuhan mereka. Dalam arti lain, mereka itu butuh salat. Jadi dalam keadaan bagaimanapun, mereka akan tetap melaksankana salat.

Nilai PAI mereka tinggi, tapi akhlaknya kosong. Ini kabar buruk untuk semua guru  PAI. Guru hanya menyampaikan materi, tapi tidak memberikan nilai-nilai dari ilmu yang dipelajari. Padahal setiap materi yang terkandung dalam pembelajaran PAI sangat berarti untuk bekal kehidupan anak-anak. Agar anak dapat melaksanakan segala kewajiban kemanusiaannya, melaksanakan salat lima waktu, puasa ramadan, zakat firah, pergi haji bagi yang mampu, itu garis besar sebagai acuannya. Kemudian hal lain mereka harus dapat mengatur akhlaknya. Akhlak yang harus tercermin dalam diri  peserta didik adalah akhlakul karimahnya, sopan santun kepada orang tua, guru,  teman dan masyarakat sekitar.

Baca juga:   Kenapa Siswa Harus Belajar Ekonomi?

Dan usaha yang paling dasar dari seorang guru PAI adalah menyusupkan nilai-nilai dalam setiap pelajaran. Sehingga peserta didik, tidak hanya menyerap materinya saja, tapi kandungan dan makna materi yang disampaikan. Harapannya, mereka dapat mengamalkan dan melaksanakan khasanah-khasanah ilmu yang telah didapat di sekolah, dan diterapkan dalam kehidupannya. Sehingga tidak terdengar lagi, kabar siswa-siswi kita pandai dalam pelajaran, tapi akhlaknya menyimpang.

Tanggung jawab yang diemban guru PAI dalam hal ini tidak hanya pertanggungjawaban dunia, tapi juga pertanggungjawaban akhirat. Guru harus bisa menyampaikan segala bentuk materi dengan tepat dan benar kepada siswanya. Dan yang terpenting, harus terkandung nilai-nilai dari setiap materi yang disampaikan. Mulai dari bagaimana manfaatnya dalam kehidupan siswa. Bagaimana siswa dapat melaksanakan hal-hal baik sebagai buah dari pembelajaran yang didapat di sekolah. Dan instropeksi diri (muhasabah), yakni, bagaimana cara agar anak dapat melaksanakan tugasnya sebagai  insan atau makhluk yang paling istimewa (Khalifah fil ard’) serta melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. (*/aro)

Pengawas PAIS SMP Kabupaten Blora

Author

Populer

Lainnya