33 C
Semarang
Selasa, 20 Oktober 2020

Cara Asyik Bayu Widagdo Angkat Eksistensi Wayang

Baca yang Lain

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak...

RADARSEMARANG.COM – KECINTAANNYA terhadap budaya Jawa, terutama wayang, sudah muncul sejak kecil. Bahkan saat duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), Muhammad Bayu Widagdo sudah menjadi dalang cilik, membawakan wayang syahadat. Cerita wayang yang digunakan sebagai media dakwah.

Beranjak ke sekolah menengah, dirinya merasa banyak teman-temannya yang lebih menyukai lagu-lagu Barat, sementara dirinya menyukai kebudayaan Jawa.

”Saat itu mulai masuk musik seperti Duran Duran, kemudian New Kid on the Block. Sedangkan saya suka dengan wayang dan kebudayaan Jawa, sehingga seperti tidak nyambung gitu. Mereka bahkan tidak mengenal wayang yang saya sangat sukai,” kenang pria yang memang dibesarkan dalam keluarga seniman ini. Sang ayah, Dariono Hendry Soewignjo adalah seorang dalang, sementara sang ibu, Tri Warsini dan kakaknya adalah perias manten tradisional Jawa.

”Sampai kuliah saya kemudian ikut seni Jawa dan saya lihat di situ juga kontemporer, tidak Jawa yang murni,” imbuh pria yang membuka studio kaos lukis di rumahnya ini.

TULARKAN ILMU : Muhammad Bayu Widagdo bersama buah hatinya, Kinanthi Mustikaning Widya Hapsari.
TULARKAN ILMU : Muhammad Bayu Widagdo bersama buah hatinya, Kinanthi Mustikaning Widya Hapsari.

Kecintaannya pada budaya Jawa ini masih melekat sampai dirinya mengajar di tempat ia menimba ilmu, yakni di Universitas Diponegoro (Undip). Ketika mengajar, Bayu melihat banyak mahasiswa yang tertarik ketika dirinya bercerita tentang wayang. Hanya saja, para generasi muda ini kesulitan dalam hal bahasa.

Dari situlah, tercetus ide memperkenalkan wayang dengan kombinasi kekinian. Bayu kemudian menciptakan wayang batik. Pertunjukan wayang dengan iringan musik blues jazz, gabungan pentatonik dan diatonik. Penyampaian ceritanya pun dilakukan dengan menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia. Bukan untuk keluar dari pakem, Bayu hanya ingin apa yang disampaikan dapat dengan mudah diterima oleh kalangan anak muda.

”Di wayang batik ini, saya menampilkan wayang tidak secara mendetil dengan menggunakan bahasa pedalangan seperti halnya wayang klasik,” katanya.

Tidak hanya menampilkan sisi putih lawan hitam, di wayang Batik ini Bayu berusaha menunjukkan sisi abu-abu pada wayang. Bahwa apa yang selama ini selalu dianggap baik juga memiliki sisi buruk. Begitu pula sebaliknya. ”Di wayang Batik, ditunjukkan bahwa para Pandawa juga melakukan kecurangan,” jelasnya.

Tidak mudah mengenalkan seni tradisional di tengah perkembangan teknologi. Bukan kemudian menjauhi, keberadan teknologi ini justru dimanfaatkan Bayu untuk membuat seni tradisional dengan mudah diterima oleh kalangan anak muda.

”Sehingga saya tidak menolak musik elektrik pada wayang batik ini. Memanfaatkan teknologi untuk membuat manusia kembali menjadi manusia. Bukan membuat mereka tenggelam dalam teknologi,” ujar pria yang menjadikan Ki Narto Sabdo sebagai kiblat dalam Ndalang ini.

Tidak hanya melalui pertunjukan wayang batik saja, Bayu juga mengenalkan wayang kepada generasi muda melalui workshop pembuatan wayang batik dengan menggunakan duplex. Tidak hanya mengenalkan secara fisik, namun juga nilai-nilai yang ada di dalamnya.

”Saya hanya ingin menghindari mereka merasa bosan duluan. Saya ingin membuat mereka kenal dan selanjutnya bisa membawa mereka untuk ingin tahu bagaimana sih yang aslinya,” ujarnya.

Selain itu, ia juga mengenalkan wayang melalui kaos lukis yang ia buat menggunakan pendekatan Pop Art dengan dasar bentuk wayang. ”Ini lebih simple dan lebih mudah untuk dikenal,” ujar dosen yang juga mengajar DKV ini.

Ke depan, ia ingin bersinergi dengan para pegiat seni budaya untuk menjaga kebudayaan Jawa agar bisa mentransformasikn kepada anak-anak muda. Sehingga, kebudayaan Jawa tidak hilang begitu saja. ”Tidak hanya yang tampak, tapi juga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,” harapnya. (sigit adrianto/zal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...

Resesi

HARAPAN apa yang masih bisa diberikan kepada masyarakat? Ketika pemerintah secara resmi menyatakan Indonesia sudah berada dalam resesi ekonomi? Yang terbaik adalah menceritakan keadaan apa...

Setuju BTP

BTP kini sudah menjadi ''orang dalam" BUMN. Posisinya bisa dibilang menentukan, bisa dibilang kejepit. Tergantung pemegang sahamnya. Secara resmi pemegang saham BUMN itu adalah Menteri Keuangan....

Artikel yang Lain

- Advertisement -

Populer

Booking 1 Jam Rp 600 Ribu, Sehari Bisa Layani 4 Tamu

RADARSEMARANG.COM-Lokalisasi Sunan Kuning (SK) bakal ditutup Pemkot Semarang pada 2019. Namun praktik prostitusi di Kota Atlas dipastikan tak pernah mati. Justru kini semakin marak,...

Apersepsi, Pembangkit Motivasi Dan Minat Siswa

RADARSEMARANG.COM - DARI tahun pelajaran 2016/2017 sampai dengan saat ini, terdapat kebijakan baru terhadap pelaksanaan Ujian Nasional (UN) pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)....

Semarang 10K, Cetak Atlet Sekaligus Kenalkan Wisata 

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang akan mengadakan event lari 10K pada 16 Desember 2018 mendatang. Rencananya kegiatan tersebut akan menjadi agenda tahunan. Selain...

Sport Center Bisa Tingkatkan Prestasi

SEMARANG - DPRD meminta agar Pemprov dan kabupaten/kota lebih serius menggarap potensi atlet di Jateng. Salah satunya dengan meningkatkan dan menambah keberadaan pusat olahraga...

Traveling di Sela Kerja

DUNIA memang tidak selebar daun kelor. Ungkapan itu yang dipegang Ratih Mega Rizkiana. Wanita kelahiran Ambarawa Kabupaten Semarang, 8 Maret 1988 ini selalu menyisihkan...

Headline Radar Semarang Terbaik se-Jawa Pos Group

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG—Jawa Pos Radar Semarang meraih penghargaan bergengsi dalam Kompetisi Product Quality Jawa Pos Group 2017-2018. Headline Jawa Pos Radar Semarang berjudul “Pabrik Pil...