33 C
Semarang
Sabtu, 19 September 2020

Jugun Ianfu Termuda Meninggal Dunia

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

RADARSEMARANG.COM, SALATIGA – Elizabeth Sri Sukanti, 84, eks jugun ianfu paling muda pada masanya, meninggal dunia Rabu (20/12) malam. Jenazah telah dimakamkan di Pemakaman Umum Kelurahan Gendongan, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga.

Sri Sukanti nasibnya kembali mengemuka kala Staf Kedeputian V Kantor Staf Presiden Munajat menengoknya usai mengikuti acara di IAIN beberapa bulan lalu. Kala itu saat ditengok, kondisi Sri Sukanti memprihatinkan karena terbaring di rumah dalam kondisi sakit dan dibawa ke RSUD untuk mendapatkan perawatan medis.

Suami Sri Sukanti, Sidik Tonys, 74, menuturkan, sejak 4 bulan yang lalu, istrinya mengalami sakit parah. Tidak bisa berbicara, tidak bisa melihat. Bahkan ia hanya makan garam yang ditaruh di sendok terus dikasih susu. Kalau mau minta minta makan, hanya minum susu dengan cara disuapi.

Sidik mengaku, sebelum Sri Sukanti meninggal, sekitar empat hari lalu didatangi orang dari Korea Selatan. Kedatangan orang Korea Selatan tersebut bermaksud mencari tahu cerita Sri Sukanti dan menyampaikan keinginannya akan membuat film dokumenter.

Sementara itu, Munajat yang mendapatkan kabar meninggalnya Sri Sukani dari koran ini terkejut. Ia kebetulan sedang dalam perjalanan pulang ke Salatiga.

Ia mengatakan, Sri Sukanti dulu merupakan jugun ianfu atau perempuan yang dipaksa melayani tentara Jepang pada masa Perang Dunia II. “Berdasarkan dokumen dari aktivis, Mbah Sri ini merupakan jufun ianfu termuda se-Asia Tenggara. Pada masa penjajahan Jepang 1942-1945, saat itu usia Mbah Sri baru 9 tahun,” kata Munajat usai melayat di rumah duka Jalan Umbulrejo, Kelurahan Gendongan, Kecamatan Tingkir.

Munajat mengaku mendapatkan data tentang Sri Sukanti dari teman-teman aktivis. Bahkan sebelum Sri Sukanti meninggal, ia telah beberapa kali berkunjung di rumah sederhana tersebut. Kendati demikian, ia pun tidak bisa memperoleh informasi banyak dari Sri Sukanti karena faktor usia.

“Para jufun ianfu itu, pada masanya diambil secara paksa oleh tentara Jepang. Setelah kembali ke masyarakat, mereka ini masih menanggung beban,” ujar Munajat. (sas/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Terancam Hukuman Mati

MAGELANG–Tim Satuan Narkoba Polres Magelang Kota menangkap residivis pengedar narkoba, Agus Setyo Arianto, 34, warga Kampung Tuguran, Kelurahan Potrobangsan, Kamis (7/12) lalu. Tersangka ditangkap...

Tarif Naik, Layanan Diminta Ditingkatkan

SEMARANG – Pimpinan DPRD Jateng menilai banyak berita hoax yang meresahkan masyarakat terkait Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 60 Tahun 2016 tentang Jenis dan Tarif...

Pendongeng Michio Kaku dari Ciheras

Oleh: Dahlan Iskan Saya ingin ke Ciheras lagi. Kangen Ricky Elson. Yang kini punya gelar baru: angoneering.  Kemampuan engeneeringnya telah dia plesetkan menjadi angoneering. Ricky...

Hindari 4T, Bentuk 250 Kampung KB

TEMANGGUNG–Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Temanggung akan menekan populasi atau laju pertumbuhan penduduk. Caranya, menggiatkan pembentukan Kampung KB. “Sampai saat ini telah terbentuk 250 Kampung KB....

PBSI Kota Magelang Gelar Tidar Cup XIX

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG - Pengurus tingkat kota atau pengkot Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Magelang kembali menggulirkan kejuaraan daerah. Turnamen bertitel Djarum Foundation Kejurkot Bulutangkis...

SDN 2 Kebonharjo Spesialis Bidang Olahraga

KENDAL - Kiprah SD Negeri 2 Kebonharjo Kecamatan Patebon Kendal dalam mengikuti berbagai setiap ajang perlombaan tak pernah sia-sia. Terbukti, siswa-siswa ini mampu mengoleksi...