31 C
Semarang
Selasa, 11 Mei 2021

Dibohongi PT Waskita, Warga Blokir Proyek Tol

RADARSEMARANG.COM, KENDAL-Puluhan warga  dari tiga desa di Kecamatan Ringinarum, Kendal melakukan aksi pemblokiran proyek jalan tol Semarang-Batang, Selasa (19/12). Mereka menanam pohon pisang di tengah proyek tol yang tengah dalam pengurukan. Pemblokiran itu dilakukan lantaran warga merasa telah dibohongi PT Waskita  Karya  selaku pelaksana  proyek.

Koordinator lapangan, Sukis Jureg, mengatakan, belasan warga itu berasal dari Desa Tegorejo, Wungurejo dan  Ringinarum, Kecamatan  Ringinarum, Kendal. Mereka menutup jalan dengan cara  menanam pohon pisang di jalan yang dilewati truk proyek tol. Hal itu dilakukan sebagai bentuk protes kepada PT Waskita Karya yang dinilai ingkar janji. Sebelumnya, PT Waskita Karya menjanjikan akan memberikan uang ganti rugi kepada para petani tembakau yang gagal panen akibat terkena debu proyek tol.

“Adanya proyek tol ini mengakibatkan tanaman tembakau di sekitar lokasi rusak terkena debu,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin (19/12).

Karena telah dirugikan, para petani akhirnya mengajukan protes ke PT Waskita selaku pelaksana. “Mereka (PT Waskita) menyanggupi akan memberikan ganti rugi karena petani banyak yang gagal panen,” tandasnya.

Akhirnya, kedua belah pihak membuat kesepakatan bersama. Surat kesepakatan yang ditandatangani pada 23 Oktober 2017 lalu itu berisi kesanggupan PT Waskita Karya memberikan  uang ganti rugi yang akan dibayarkan pada tiga  minggu ke depan atau sekitar pertengahan November 2017. Namun  kenyataannya  hingga kini, belum ada  kejelasan.  Tentu saja, warga   menjadi berang hingga nekat memblokade jalan dengan menanam pohon pisang.

“Warga  kecewa karena janji  PT Waskta  Karya  membayar kompensasi ganti rugi tanaman tembakau tak kunjung dilakukan,” katanya.

Samsudin, tokoh masyarakat Wungurejo mengaku, warga telah dibohongi PT Waskita Karya. Sebab, kesepakatan sudah ditandatangani antara perwakilan  petani  dari tiga desa dengan PT Waskita  Karya. “Warga   tidak menuntut lebih, hanya  menuntut haknya  sesuai  dengan kesepakatan bersama, namun  sampai sekarang  sudah ditanyakan jawabnya  masih dalam proses,” ujar Samsudin

Humas PT  Waskita  Karya  seksi  III, Andika , mengatakan, tuntutan  warga  di tiga  desa tadinya  minta  kompensasi sebesar  Rp 2 miliar. Namun  berdasarkan  perhitungan  ulang  dari PT Waskita Karya, hanya Rp  500 juta. Akibatnya, proses pencairan  agak lama  karena terdapat data yang berbeda.

Dikatakan, warga  minta kompensasi satu  lupit  sebesar Rp  10 juta. Padahal kerusakan  tanaman  tembakau bukan  murni karena terkena  debu proyek jalan tol. “Saat ini  masih dalam  proses, diharapkan masyarakat untuk bersabar, kami lagi menghitung ulang  terkait dengan  jumlah  luasan lahan pertanian yang terdampak dari pembangunan jalan tol,” kata  Andika. (bud/aro)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here