MEMPRIHATINKAN: Anwar di depan rumah reyotnya. (kanan) Mbah Ngatirah dan Sodikin menunjukkan dapur rumah yang ditempati keluarga Anwar. (FOTO-FOTO: WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MEMPRIHATINKAN: Anwar di depan rumah reyotnya. (kanan) Mbah Ngatirah dan Sodikin menunjukkan dapur rumah yang ditempati keluarga Anwar. (FOTO-FOTO: WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Pasangan suami istri (pasutri) Anwar dan Sumiati, warga Dukuh Pilang RT 3 RW 5, Desa Pilangsari, Kecamatan Sayung ini adalah salah satu warga miskin di Kabupaten Demak. Keluarga ini tinggal di gubug reyot yang jauh dari layak. Seperti apa?

WAHIB PRIBADI, Demak

DILIHAT dari potret kehidupan Anwar dan Sumiati ini memang sungguh menyayat hati. Keluarga ini sedang dalam kondisi sulit secara ekonomi. Tidak hanya itu. Anwar sebagai kepala rumah tangga menderita kelumpuhan sejak tujuh bulan terakhir. Sedangkan, istrinya, Sumiati, mengalami kebutaan sejak 4 tahun ini. Praktis, keduanya tidak bisa bekerja. Dampaknya, salah satu anaknya terpaksa putus sekolah.

Keluarga kategori miskin ini menempati sebuah dapur ukuran 3 x4 meter persegi. Tepatnya di rumah bagian belakang Mbah Ngatirah, ibu kandung Sumiati atau mertua Anwar. Kondisi dalam rumah kecil yang bersambung menjadi satu dengan rumah kayu nenek Ngatirah ini jauh dari layak untuk ditempati. Selain berdinding anyaman bambu yang sudah lapuk dibalut terpal, lantainya juga masih alami atau berupa tanah liat. Terdapat dua kamar di dalamnya. Kamar itu dijadikan sebagai ruang istirahat Anwar dan Sumiati, serta tiga anaknya. Yakni, Eka Widiatutik, Eva Dewi Putri Siskanada, dan Bagus Hermawan.

Eka sudah lulus sekolah dari Madrasah Aliyah (MA) Hidayatul Mubtadiin, Desa Bulusari, Kecamatan Sayung. Ia kini bekerja di sebuah pabrik pengolaha kayu triplek (playwood) di kawasan Pedurungan, Semarang. Putri kedua, Eva Dewi, siswi kelas 1 MA Hidayatul Mubtadiin yang dalam perkembangannya terpaksa putus sekolah, karena faktor ekonomi keluarga. Eva sekarang membantu kakaknya, Eka, bekerja di pabrik kayu triplek tersebut. Sedangkan, adiknya, Bagus Hermawan, masih tercatat sebagai siswa kelas 2 SDN Blerong.

Saat koran ini mengunjungi rumah Anwar dan Sumiati, keduanya kebetulan masih “mengungsi” atau tetirah sementara di rumah orang tua Anwar, di Desa Blerong, Kecamatan Guntur. Mereka pindah sejak rumahnya terendam banjir beberapa bulan lalu. Karena itu, kemarin koran ini hanya bisa bertemu dengan Mbah Ngatirah (mertua Anwar) dan adik iparnya, Sodikin, 27.

Menurut Sodikin, kakaknya Sumiati dan Anwar sementara tinggal di Desa Blerong, sekitar 15 km dari Desa Pilangsari. Sesekali mereka pulang ke Desa Pilangsari. Namun, kondisi mereka yang lagi menderita sakit menyulitkan mobilitasnya sehari-hari.

Sodikin menceritakan, kondisi kakak iparnya itu sebelumnya sehat-sehat saja. “Dia ikut kerja sebagai tukang las di daerah Pucanggading, Mranggen. Biasanya kerja ngelas pembuatan papan reklame, pagar rumah dan lainnya. Itupun, bekerja kalau pas ada order saja. Kalau tidak ada order ya di rumah,”ujarnya.