33 C
Semarang
Kamis, 13 Agustus 2020

Asep Terima Rp 100 Juta, Heru Siswanto Rp 60 Juta

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

SEMARANG- Uang fee mencapai Rp 60 juta hingga Rp 110 juta diduga diterima tiga terdakwa kasus dugaan korupsi pengadaan pupuk urea tablet dalam 3 triwulan, yakni triwulan IV 2010, I 2011 dan IV 2011 di Perusahaan Umum (Perum) Perhutani Unit I Jawa Tengah. Hal itu terungkap dalam agenda dakwaan penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Pengadilan Tipikor Semarang, Kamis (14/12).

Ketiga terdakwa adalah mantan Kepala Perum Perhutani Unit I Jateng Heru Siswanto, Kepala Biro Pembinaan Sumber Daya Hutan Perum Perhutani Unit 1 Jateng Bambang Wuryanto, dan mantan Direktur Utama PT Berdikari Asep Sudrajat Sanusi. Dalam dakwaan KPK, ketiganya disidang secara terpisah dan dianggap menerima fee atas proyek itu dengan nominal beragam.

“Ketiganya kami dakwa menerima fee. Untuk Heru mendapat fee dari Siti Marwah Rp 60 juta. Asep dapat fee Rp 110 juta, sedangkan Bambang dapat fee Rp 65 juta,” beber salah satu Penuntut Umum KPK, Mohammad Nur Azis, usai sidang, kemarin.

Dalam dakwaannya, ketiganya dijerat pasal 2 ayat (1) atau pasal 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 Jo. Pasal 64 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Usai mendengar dakwaan tersebut, baik terdakwa maupun kuasa hukum tidak mengajukan eksepsi. Majelis hakim yang dipimpin M Sainal menunda sidang selanjutnya dengan agenda pemeriksaan saksi pekan depan.

Dalam kasus itu juga menjerat mantan Direktur Utama PT Berdikari Persero, Librato El Arif, dan mantan Kepala Perum Perhutani Unit I Jateng, Teguh Hadi Siswanto. Dengan demikian, masing-masing dua pimpinan di periode berbeda yang ada di dua instansi, yakni Perhutani dan Berdikari terjerat secara bersamaan, hanya saja sidangnya digelar terpisah.

Secara keseluruhan atas kasus itu, lanjut Mohammad, negara dirugikan mencapai Rp 12 miliar lebih, yang diduga mengalir ke pihak individu dan korporasi.

Seperti diketahui, kasus tersebut merupakan pengembangan dari perkara dugaan korupsi pengadaan pupuk di PT Berdikari Persero. Sejumlah terpidana yang telah divonis di Pengadilan Tipikor Jakarta, yakni Komisaris CV Timur Alam Raya, Sri Astuti, dan Direktur Utama CV Jaya Mekanotama, Aris Hadiyanto.

Mantan Direktur Keuangan PT Berdikari Siti Marwah divonis 4 tahun penjara dan membayar denda Rp 500 juta subsider 3 bulan kurungan. Siti terbukti menerima fee sebesar Rp 2,2 miliar terkait kesepakatan jual-beli pupuk urea dari sejumlah perusahaan rekanan PT Berdikari. (jks/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Bagi Nasi Bungkus

Polwan dan Polki Polres Wonosobo membagikan nasi bungkus kepada buruh gendong, tukang parkir dan pedagang kaki lima area pasar induk Wonosobo, Rabu (8/3). Sedikitnya...

Tumbuhkan Motivasi Belajar dengan Outing Class

RADARSEMARANG.COM - BELAJAR merupakan kewajiban bagi peserta didik. Namun kata belajar bagi peserta didik, kadang menjadi kata yang menakutkan. Hal ini dapat terlihat dari...

Pembina Perbasi Dituntut 5 Tahun

SEMARANG - Setelah tiga kali berturut-turut agenda tuntutan batal digelar, kali ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kota Semarang resmi menuntut Ketua RT 2...

Kinerja SMK dalam Menyiapkan Tamatan Siap Kerja

“SMK Gagal Cetak Lulusan Siap Kerja.” Itulah judul salah satu berita di Suara Pembaharuan (edisi Sabtu-Minggu, 21-22 April 2018). Data Badan Pusat Statistik (BPS)...

Bupati Zaenal Arifin Kembali Raih Top Pembina BUMD 2017

MUNGKID - Bupati Magelang Zaenal Arifin SIP, kembali meraih penghargaan sebagai “Top Pembina BUMD 2017 “ dalam anugerah Top BUMD 2017 dari majalah BusinessNews...

Hoax A.M. Hendropriyono Meninggal Dunia

JawaPos.com – Akhir-akhir ini mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) A.M. Hendropriyono kerap dihantam kabar hoax. Tak hanya disebut kolaps sehingga harus dilarikan ke...