Penderita Difteri Usia 4 Tahun Meninggal

  • Bagikan
RUANG ISOLASI : Petugas RSUP dr Kariadi menunjukkan ruang isolasi para penderita difteri, Rabu (13/12) kemarin. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RUANG ISOLASI : Petugas RSUP dr Kariadi menunjukkan ruang isolasi para penderita difteri, Rabu (13/12) kemarin. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG-Satu dari tiga pasien difteri yang dirawat di RSUP dr Kariadi Semarang meninggal dunia, Rabu (13/12) dini hari sekira pukul 02.00 dinihari. Pasien asal Kabupaten Kendal ini meninggal dunia saat menjalani perawatan di ruang isolasi instalasi gawad darurat (IGD) rumah sakit tersebut.

Dijelaskan oleh dokter spesialis anak RSUP dr Kariadi Semarang, dr Hapsari Sp A (K), bahwa pasien asal Kendal tersebut dibawa ke RSUP dr Kariadi Semarang, Selasa malam (12/12) kemarin. Menurutnya, saat itu kondisi pasien sudah dalam keadaan difteri parah. “Pasien laki-laki usia 4 tahun, rujukan dari RSI Kendal. Saat datang, keadaan sudah komplikasi, mengalami sesak nafas berat. Pembesaran kelenjar, ditengarai komplikasi jantung,” jelasnya di RSUP dr Kariadi Semarang, Rabu (13/12) kemarin.

Pihaknya membeberkan telah melakukan penanganan, salah satunya dengan memberikan anti difteri serum (ADS). Bahkan,  telah dalam persiapan melakukan trakeostomi untuk memasukkan tabung yang dapat membantu pasien bernapas. Pasalnya, selaput membran dari difteri yang ada di tenggorokan tersebut sudah menutup saluran pernafasan. Hingga sang balita mengalami sesak napas. Namun, karena kondisinya yang cukup parah, pasien akhirnya meninggal dunia Rabu dini hari. “Baru sedang dipersiapkan tindakan itu (trakeostomi, red), tapi pasien sudah tidak bisa diselamatkan, sehingga meninggal pukul 02.00 pagi tadi pagi,” jelasnya.

Atas kejadian itu, Hapsari mengaku tidak bisa menyalahkan keluarga yang membawa anak tersebut dalam kondisi parah. Sebab, ada kemungkinan soal ketidaktahuan terkait dengan gejala difteri. “Sudah 5 atau 6 hari (menderita difteri). Gejalanya anakitu, demam tidak tinggi, nyeri telan, ngorok, kemudian dibawa ke RSI Kendal. Kemungkinan ketidaktahuan. Ini meninggalnya karena sumbatan pernafasan,” terang Hapsari.

Sementara itu, dua pasien difteri lainnya yang telah lebih dulu menjalani perawatan di rumah sakit tersebut saat ini telah dalam kondisi baik. Sampai saat ini, keduanya masih berada di ruang isolasi dan baru diperbolehkan keluar hingga dinyatakan negatif kuman difteri. “Kami tinggal melaksanakan pengobatan antibiotik yang harus sampai 10 hari. Kemudian, setiap hari kami lakukan pemeriksaan pengecatan untuk mencari kuman difteri sampai nanti negatif, 2 atau 3 kali baru bisa keluar dari ruang isolasi,” terangnya.

Hapsari mengatakan kategori difteri yang menimpa kedua pasien tersebut adalah ringan. Untuk kriteria difterinya sendiri, lanjut Hapsari, satu pasien di tonsil atau amandel. Satu lainnya berjenis kelamin laki-laki menderita di faring atau tenggorokan. “Sudah oke, kondisi sudah baik. Makan dan minum oke,” katanya.

Ia menegaskan, untuk mencegah kematian karena terlambatnya penanganan secara tepat terhadap penyakit difteri ini, Hapsari menyarankan kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) untuk melakukan vaksinasi di tempat tinggal pasien.

Ia mengharapkan kesadaran masyarakat untuk mau melakukan vaksinasi atau imunisasi khususnya terkait difteri. Bengkak pasca vaksinasi yang seringkali menjadi keluhan, menurut Hapsari tidak boleh dijadikan alasan untuk mangkir. “Harus disterilkan dari difteri. Cuma yang penting vaksinasi lengkap. Bengkak itu kan 2-3 hari hilang, daripada sampai kena seperti ini bisa fatal juga,” tegasnya. (tsa/ida)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *