23.5 C
Semarang
Selasa, 20 April 2021

Satu Divonis 1 Tahun, Tapi 3 Dibebaskan

Vonis Pengeroyokan Taruna Akpol Janggal

spot_img
spot_img

VONIS : Majelis hakim Antonius Widijantono terlihat tertawa di hadapan kuasa hukum dan keempat terdakwa usai sidang dengan agenda vonis terhadap kelima terdakwa. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
VONIS : Majelis hakim Antonius Widijantono terlihat tertawa di hadapan kuasa hukum dan keempat terdakwa usai sidang dengan agenda vonis terhadap kelima terdakwa. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Sontak, begitu keluar sidang, Christian yang awalnya menahan tangis, langsung berderai air matanya. Bahkan keluarganya sempat menahan tangis dan sesekali terisak, sebelum putusan dibacakan. Dipelukan orangtuanya, Christian menangis hebat. Orangtuanya sempat berkeluh kesah sembari memeluk Christian, “Kenapa dalam putusan tersebut, padahal perbuatannya sama, namun putusan tak sama,” keluhnya. Dengan menangis sesenggukan, orangtuanya mengatakan, “Tuhan kenapa putusannya bisa demikian?” tanyanya.

Sementara itu, dalam pertimbangannya, hakim Antonius menyebutkan ada luka memar merah di dada Muhammad Adam dari hasil visum. Christian dinilai terbukti melakukan pelanggaran Pasal 170 ayat (2) ke-3 yang menyebabkan korban meninggal dunia.

Adapun tiga terdakwa lainnya, Gibrail, Martinus, dan Gilbert dikenakan Pasal 170 ayat (2) ke-1 yang menyebabkan luka. Putusan kepada empat terdakwa tersebut lebih ringan dibandingkan tuntuan sebelumnya yakni 3 tahun penjara. Hal itu berdasar pertimbangan, terjadi putusan damai antarkeluarga korban dan terdakwa.

“Mengadili menyatakan para terdakwa tidak terbukti secara sah dan menyakinkan melanggar dakwaan primair, membebaskan para terdakwa dari dakwaan pertama jaksa. Menyatakan keempatnya terbukti secara sah dan menyakinkan sebagaimana dakwaan kedua dan menjatuhkan pidana selama 1 tahun terhadap Christian, sedangkan Gibrail, Martinus, dan Gilbert dengan pidana 6 bulan 20 hari,” kata hakim Antonius dalam amar putusannya.

Usai sidang, kuasa hukum keempat terdakwa, Aris Bonggasalu menilai ada yang aneh dalam putusan Christian. Pasalnya hanya dia yang berbeda. Ia mengatakan, dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) gabungan dari Kejati Jateng dan Kejari Kota Semarang dan tuntutan semua sama. Namun ia mempertanyakan mengapa dalam vonis bisa berbeda.

“Ada kejanggalan. Kami akan koordinasi dengan tim untuk melakukan upaya hukum banding. Ini perbuatan saling berkaitan, tapi putusan bisa beda, kami akan tanggapi dalam banding. Klien kami (Christian, red) dikecualikan, padahal dalam kesaksian perannya sama,” kata Aris Bonggasalu.

Ia juga menyebutkan, kalau ketiga kliennya kecuali Christian bisa langsung bebas begitu vonis selesai, karena masa penahanannya sudah habis. “Kalau pemecatan tergantung institusi bukan kewenangan hakim,” ujarnya.

Sembari berlalu pergi, Jaksa Nur Azizah menyatakan sikapnya hanya pikir-pikir. Ia beralasan masih ada waktu 7 hari. “Tadi sudah dengar dengan putusan majelis hakim, kami pikir-pikir dulu. Kami akan koordinasi denga pimpinan,” kata Nur Azizah sambil berlalu.

Sebelumnya, Rinox dijerat JPU dengan pasal berlapis yakni bersalah melanggar sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 170  ayat (2) ke-3 KUHP jo Pasal 56 ayat (2) KUHP. Selain itu, melanggar Pasal 170 ayat (1) KUHP jo Pasal 56 ayat (2) KUHP.

Sedangkan keempat lainnya, didakwa pertama pidana dalam Pasal 338 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Kedua diancam pidana dalam Pasal 170  ayat (2) ke-3 KUHP dan kedua sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 170 ayat (1) KUHP. Detail dakwaan tersebut juga diupload secara lengkap dalam website resmi PN Semarang yakni, http://sipp. pn-semarangkota.go.id/ index.php/ detil_perkara, kemudian memasukkan nomor perkara yang tertera. (jks/ida)

spot_img

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here