33 C
Semarang
Sabtu, 30 Mei 2020

Meski Kalah, Sambutan Hangat Warga Mengharukan dan Menguatkan

Achmat Syarif, 18 Besar AKSI Indosiar 2016 yang Kini Jadi Dai

Another

Dari ”Terminal Tirtonadi” ke ”Pantai Klayar” lewat ”Dalan Anyar” (9)

Pola yang dipakai Didi Kempot dalam ”Stasiun Balapan” diterapkan pula pada lagu-lagunya yang mengambil nama tempat: memadukannya dengan kisah...

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma...

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos...

Lahir dari anak petani dengan kehidupan pas-pasan tak membuat Achmat Syarif putus asa. Berkat tekad kuatnya bisa masuk nominasi 18 besar AKSI Indosiar 2016. Kini jadi penceramah atau dai. Seperti apa?

JOKO SUSANTO

BAGI penikmat stasiun televisi swasta tentu masih ingat program AKSI (Akademi Sahur Indonesia) yang tayang 2016 lalu. Achmat Syarif salah satu kontestannya. Namun, pria kelahiran, Batang, 23 April 1999 ini, sudah beberapa kali mencatat juara pada beberapa event besar tingkat Jawa Tengah dan nasional. Pertama kali saat masih duduk di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Tambakboyo, Batang selalu juara khitobiyah di sekolahnya. Bahkan, saat mengikuti lomba pidato tingkat Jateng di Kendal yang diadakan FUKAR (Forum Komunikasi Antar Anak Rifaiyah) berhasil juara harapan 1. Kemudian duduk di bangku SMP Negeri 3 Reban, selalu juara pidato. Puncaknya saat duduk di bangku Madrasah Aliyah (MA) Nahdatul Ulama (NU) O6 Cepiring, rutin mengikuti perlombaan dan selalu memboyong juara.

Anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Kulari dan Siti Wasiah ini berhasil meraih juara 1 lomba pidato bahasa Jawa tingkat Jateng yang diadakan UIN Walisongo. Kemudian juara 2 se-Jateng lomba Dai Unisbank, juara 1 lomba puisi se-Jateng di Jepara, dan paling rendah adalah juara 1 se-Kecamatan Cepiring ajang lomba fashion show.

Sedangkan dalam AKSI, ia berhasil meraih 18 besar dari 38 peserta dari seluruh Indonesia. Untuk bisa membuktikan kemampuannya dalam ajang tersebut, tidaklah mudah. Semula mengikuti audisi di Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Amanah, Kendal, tempatnya belajar. Dia bersaing dengan 50 kontestan lainnya. Namun yang lolos audisi hanya 2 orang, yakni dirinya dari Batang dan Ifti dari Tegal. “Selanjutnya ada seleksi lagi di Jakarta bersaing dengan ribuan kontestan dari seluruh Indonesia. Saya juga tak menyangka bisa lolos 38 besar se-Indonesia,” ujarnya.

Kendati begitu, mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas) ini mengaku sempat bingung. Dirinya maupun orangtuanya tidak memiliki sedikitpun uang saku untuk ke Jakarta. Dirinya bersyukur Kepala Desa Tambakboyo, Sodikin memiliki jiwa sosial. Saat orangtuanya mengadu memang sempat ragu, karena dikhawatirkan penipuan. Namun setelah surat ditunjukkan, akhirnya Sodikin mulai percaya dan tanpa berpikir panjang, Syarif diajak menuju swalayan untuk dibelikan semua fasilitas manggung dalam AKSI.

“Tekad saya waktu itu ingin membuktikan, bukan cuma orang kaya dan mampu dari segi ekonomi saja. Namun sekalipun dari keluarga kurang mampu, saya pun bisa dengan berpedoman kesempatan Allah untuk semua umat tanpa ada pembeda,” kata Achmat Syarif kepada Jawa Pos Radar Semarang di kampusnya, kemarin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Dari ”Terminal Tirtonadi” ke ”Pantai Klayar” lewat ”Dalan Anyar” (9)

Pola yang dipakai Didi Kempot dalam ”Stasiun Balapan” diterapkan pula pada lagu-lagunya yang mengambil nama tempat: memadukannya dengan kisah...

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma diproduksi 100 biji kaset itu,...

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos pulang. Sempat membuatkan lagu khusus...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi, Jawa Pos — KATA sang kakak, ”Pas kecil...

Karya Didi Kempot: Ditulis Sekarang, Terkenal Puluhan Tahun Kemudian (5)

Manisnya karir tak didapat Didi Kempot begitu saja. Ada perjuangan berat yang dilalui. Kuncinya adalah terus berjalan di jalur yang diyakini. Tak berhenti meski...

More Articles Like This

Must Read

 Ejekan Teman Dibalas dengan Prestasi

RADARSEMARANG.COM - Berat badan berlebih kerap menjadikan seseorang tidak percaya diri. Namun tidak bagi Davina Endrianta dan Vico Rohmat S. Bagi keduanya, ejekan dari...

Salah Tak Masalah, Yang Penting Jujur

DI tengah kesibukkannya sebagai dosen, mahasiswa S3, dan humas, tidak membuat Nuswantoro kehilangan quality time bersama keluarganya. Menurutnya, kesibukannya di Undip masih terbilang normal. Baca...

Tangkal Radikalisme, Perkuat Peran Babinsa

KAJEN – Bupati Pekalongan Asip Kholbihi bersama Pangdam IV/Diponegoro Mayjend TNI Tatang Sulaeman, dan Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya, Kamis (14/9)...

Beda 10+5 dan 10-3 untuk Cantik

Oleh: Dahlan Iskan Inilah prinsipnya: 10  + 5 = 15.  Itu benar. Bukan baik. Tapi 10 – 3 = 9, itu salah. Bukan jelek. ”Ilmu itu...

Pemudik Jalur Laut Mulai Padat

RADARSEMARANG.COM - LEBARAN masih dua minggu lagi, namun pemudik dari luar Jawa sudah memadati Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Minggu (3/6) kemarin, sebanyak 708 pemudik...

Foto di Jembatan Gantung, Unggah ke Medsos

WONOSOBO—Ada objek wisata baru di Desa Slukatan Kecamatan Mojotengah. Akhir-akhir ini, puluhan wisatawan lokal tiap hari datang ke Desa Slukatan untuk bisa berfoto di...