Budayakan Membaca untuk Generasi Muda

spot_img

PEPATAH Mengatakan, buku adalah jendela dunia, sedangkan membaca adalah kuncinya. Jika ingin melihat (menguasai) dunia, kita harus membaca. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat diserap dan diimplementasikan melalui membaca. Sejarah masa lampau dapat dipelajari dengan membaca.

Di Finlandia, pasca jam sekolah anak-anak wajib membaca 1 buku perminggu. Di Amerika Serikat, warga berusia 18 tahun ke atas membaca 11-20 buku dalam 1 tahun. Di Jepang, ada tradisi membaca 10 menit sebelum masuk kelas (dengan reward dan funishment). Bagaimana di Indonesia? Berapa jumlah buku yang kita baca dalam 1minggu, 1 bulan, 1 tahun? Bagaimana program literasi yang dicanangkan oleh Pemerintah? Fakta di lapangan beberapa sekolah membiarkan rak buku di ruang kelas kosong tanpa buku.

Pada jam-jam istirahat kantin lebih meriah dari pada perpustakaan. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan minat baca anak Indonesia 17,66 persen, mendengarkan (radio) 40.3 persen, dan menonton 91,67 persen. Menurut Unesco, indeks minat baca Indonesia 0,001 persen, artinya dari 1000 penduduk hanya 1 orang yang serius membaca. Menurut penelitian Central Coneticut State University (Maret 2016), budaya literasi (baca-tulis) Indonesia peringkat 60 dari 61 negara yang diteliti, di bawah Thailand (59), Singapura(36).

Baca juga:   Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika melalui Lidi

Sebagai praktisi pendidikan, penulis paham betul karakter peserta didik. Ketika diberi tugas membaca (buku), siswa satu kelas (±35) yang benar-benar membaca dengan tingkat penguasaan isi bacaan tinggi (≥80 persen) hampir tidak ada. Belum 5 menit membaca mereka sudah gaduh dan bahkan ada yang tidak membaca sama sekali. Namun, ketika kegiatan apresiasi film (drama) atau menyaksikan video musik mereka sangat antusias dan fokus. Bahkan mereka hafal nama-nama tokoh beserta karakternya. Ini membuktikan bahwa menonton lebih diminati dari pada membaca.  

Author

Populer

Lainnya