33 C
Semarang
Sabtu, 11 Juli 2020

Literasi Digital, Alternatif Pembelajaran Masa Depan

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

ERA sekarang dan akan datang, dunia pendidikan dihadapkan pada tantangan berat, yakni globalisasi. Globalisasi adalah revolusi dunia yang hampir menyentuh seluruh sendi kehidupan, bahkan sampai relung hati yang paling dalam (Rudi, 2012:197). Dalam kehidupan sehari-hari, semua peralatan bantu manusia sudah serba digital. Mulai dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, manusia sudah sangat bergantung pada peralatan digital.

Dunia digital juga sudah merambah ke pendidikan. Mulai dari absensi guru, pembelajaran menggunakan laptop, LCD dan smartphone, serta evaluasi berbasis komputer yang dikenal dengan nama Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Hasil survei dari Kementerian Komunikasi dan Informatika 2014, dari 30 juta anak usia 10-19 tahun menunjukkan bahwa 52 persen responden dalam mengakses internet sudah menggunakan ponsel (Masitoh, 2017). Hal ini diperkuat dengan data penggunaan smartphone pada 2016 di mana Indonesia menempati posisi ke 5 dunia pengguna smartphone.

Berdasarkan data tersebut, guru memiliki peran yang besar dalam rangka mengawal siswa mengikuti perkembangan zaman. Perkembangan zaman yang menggubah manual menjadi digital bisa disikapi oleh guru dengan mengembangkan konsep literasi digital.

Menurut Glister (1997:1-2) literasi digital adalah kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dengan berbagai format. Literasi digital bukan hanya kemampuan membaca informasi, tapi membaca dengan penuh makna dan mengerti. Pendapat Glister merupakan jawaban yang terjadi di era ini. Pemahaman dan pengetahuan tentang literasi digital bisa dipandu guru masing-masing mata pelajaran, dan bisa langsung menggunakan aplikasi tentang makna literasi tersebut.

Model Pembelajaran

Langkah pertama guru mengembangkan literasi digital adalah membangun kuriositas guru tentang pentingnya literasi digital di era sekarang. Sadar teknologi sejak dini merupakan tuntutan zaman agar kita sebagai guru tak tergilas zaman. Oleh karena itu, semua guru harus sadar akan hadirnya teknologi informasi, guru berbenah diri dan mengembangkan diri.

Setelah kuriositas terbangun, guru dapat mengembangkan literasi digital seperti DOL (Diskusi Online), DOL bisa dilaksanakan dengan menggunakan sosial media seperti Facebook, WhatsApp Group, dan Google Allo. Guru membuatkan grup sekaligus sebagai admin dengan siswa sebagai peserta. Melalui DOL guru dapat melontarkan masalah yang akan ditanggapi oleh siswa. Diskusi bisa berlangsung sepanjang waktu di luar jam sekolah. Melalui DOL, guru juga dapat menyisipkan materi Netiket atau etika berinternet. Materi ini penting untuk memberi pemahaman ke siswa akan berita hoax. Untuk menambah greget diskusi, guru juga bisa menyelipkan isu terkini yang sedang tren di sosial media.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Langgar Tarif Parkir, Dibekukan Setahun

RADARSEMARANG.COM, SOLO – Pemerintah Kota (Pemkot) Solo melarang keras tarikan retribusi parkir melebihi aturan bagi pengunjung New Galabo yang diresmikan Minggu malam. Bila nekat,...

Karnaval Sedot Perhatian Warga

RADARSEMARANG.COM, DEMAK - Karnaval dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Demak ke-515 mampu menyedot ribuan pengunjung. Warga tumplek blek menonton ditepi pinggir jalan protokol....

Tawuran, Satu Siswa Luka

RADARSEMARANG.COM, MUNGKID—Tawuran antarpelajar kembali terjadi. Kali ini terjadi di sekitar traffic light Jumoyo Kecamatan Salam Kabupaten Magelang, Rabu (30/5) sore. Akibat tawuran tersebut,  salah...

Buka Gerai Konsultasi untuk Permudah Investasi

RADARSEMARANG.COM, SALATIGA – Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) kota Salatiga melaunching gerai konsultasi penanaman modal di ruang pelayanan kantor DPMPTSP,...

IAIN Salatiga Tambah Profesor

SALATIGA – Prof Dr H Zakiyuddin Baidhawy MAg menambah jumlah guru besar di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga. Saat ini IAIN Salatiga memiliki...

Awalnya Jadi Beban, Kini Jadi Penyemangat

Setiap musim kompetisi, tim PSIS Semarang selalu merekrut pemain baru. Tak terkecuali saat menghadapi ajang Liga 2 saat ini. Dari 27 pemain yang telah...