27 C
Semarang
Kamis, 10 Juni 2021

Vonis Lima Taruna Akpol Ditunda

SEMARANG – Lima taruna tingkat III Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang yang diduga melakukan pengeroyokan berujung kematian terhadap Brigadir Taruna Dua Muhammad Adam batal menjalani sidang pembacaan vonis di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Kamis (7/12) kemarin. Pasalnya, majelis hakim pemeriksanya beralasan putusan belum siap disampaikan dalam sidang.

Sidang dengan terdakwa taruna Akpol ini dibagi menjadi dua berkas perkara. Berkas perkara pertama bernomor 648/Pid.B/2017/PN Smg menjerat empat terdakwa, yakni, Christian Atmadibrata Sermumes Bin Yohanes Murdiyanto, Gibrail Charthens Manorek Bin Arfi Manorek, Martinus Bentanone Bin Jondarius Bentanone dan Gilbert Jordi Nahumury Al Jordi  Bin Jhon Dominggus Nahumury. Persidangan dipimpin majelis hakim Antonius Widijantono, dengan jaksa penuntut umum (JPU), Slamet Margono.

Sedangkan berkas perkara kedua dengan terdakwa tunggal, Rinox Lewi Wattimena alias Rinox Bin Jehosua Wattimena, dengan nomor perkara: 647/Pid.B/2017/PN Smg. Majelis hakim dipimpin Abdul Halim Amran didampingi dua hakim anggota, yakni Manungku Prasetyo dan Pudji Widodo. Adapun jaksanya adalah Efrita dan Yosi Budi Santoso.

Ketua Majelis Hakim, Antonius Widijantono, mengatakan, pihaknya masih memerlukan tambahan waktu untuk merampungkan pertimbangan putusan, sehingga sidang ditunda. “Sidang ditunda Rabu, 13 Desember 2017,” kata Antonius saat menunda sidang dalam berkas terpisah.

Usai sidang, kuasa hukum terdakwa, Andreas Haryanto, mengatakan, pihaknya berharap hakim segera memutuskan kasus yang menimpa ke empat terdakwa tersebut. “Sepengetahuan saya, ada pertimbangan hukum yang perlu ditambah, harapannya segera diputus. Kasihan mereka (terdakwa, Red) sudah terlalu lama ditahan,” kata Andreas kepada wartawan.

Menurutnya, apapun putusan hakim nantinya akan menentukan nasib keempat terdakwa. Pihaknya sendiri menyatakan masih tetap pada pembelaan. Karena ia menilai pengeroyokan bisa terjadi apabila dilakukan di tempat terbuka, dan tidak secara sembunyi-sembunyi.

“Dari awal mereka sembunyi-sembunyi, di tempat tertutup. Itu bukan pengeroyokan, tapi penganiayaan biasa. Harusnya pasal 351 KUHP, bukan pasal 170,” kilahnya.

Andreas juga berharap agar hakim memperhatikan seksama nota pembelaan yang telah disampaikan. “Kalaupun ada pendapat lain, putuskan seadil-adilnya. Masa depan mereka (terdakwa, Red) masih panjang,” ujarnya.

Latest news

Garuda Ayolah

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here