33 C
Semarang
Minggu, 20 September 2020

Konsumsi Pil PCC, Dikira Kesurupan

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

PIL PCC ternyata sudah beredar luas di kalangan siswa sekolah, termasuk siswa SMP di Kota Semarang. Salah satu orangtua siswa yang anaknya pernah mengonsumsi pil PCC hingga dirawat di rumah sakit, Efra, warga Tugu, Semarang, menuturkan, ia mengetahui anaknya menenggak pil PCC setelah melihat tingkah laku anaknya tidak wajar, seperti orang gila. Peristiwa itu terjadi pada 13 Oktober 2017 lalu.

“Anak saya masih berusia 14 tahun. Masih kelas VIII SMP. Sepulang bermain bersama teman-temannya malam itu, anak kedua saya ini minta dibeliin roti. Anehnya, roti itu tidak dimakan, tapi dimasukan ke kipas angin. Sandal dipakai dolanan seperti handphone, kepalanya juga dibentur-benturkan,” ungkap Efra kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (5/12) kemarin.

Melihat kejanggalan pada anaknya itu, Efra menjadi panik. Saat itu, ia menduga anaknya kesurupan. Bahkan, ia sempat meminta bantuan kenalannya yang bisa mengobati orang terkena hal-hal gaib.

“Saya kira kesurupan. Kemudian saya bawa ke orang pintar pukul 02.00 malam di daerah Mijen. Tapi, sampai di tempat yang dimaksud, dikatakan kalau anak saya tidak kemasukan hal-hal gaib. Hal ini semakin membuat saya panik,” ceritanya.

“Di tempat orang pintar itu, anak saya dikasih banyu (air), saya tunggu 30 menit tidak ada perkembangan. Saya bilang ke teman, anak ini tidak kemasukan barang halus. Saya ngobrol-ngobrol sebentar sama teman saya, ada kecurigaan anak saya mengonsumsi pil atau barang-barang lain,” bebernya.

Tak ingin terjadi apa-apa dengan anaknya, Efra langsung membawa anaknya ke Rumah Saki Tugurejo sekitar pukul 03.00. Sampai di rumah sakit, dilakukan diagnosa kejiwaan dan dikasih obat penenang dengan dosis lebih tinggi.

“Dikasih penenang 1 dosis itu hanya menteleng, padahal kalau orang dewasa dikasih setengah (dosis) pasti sudah anteng tidur. Tapi, anak saya mendelik, gak bisa tidur, ngomnyang sak karepe dewe (bicara sendiri ngelantur),” katanya.

Demi keselamatan, akhirnya Efra mengikat kedua kaki anaknya tersebut. Selanjutnya dibawa ke ruang rawat inap untuk menjalani perawatan lebih lanjut. “D isini masih ngomyang belum bisa tidur. Baru bisa tidur itu pukul 11.00 siang (Sabtu). Setelah itu, pukul 14.00 baru mulai sadar bisa nangis,” terangnya.

Kasus anaknya itu baru terkuak keesokharinya atau Minggu (15/10). Itu setelah delapan teman anaknya, bermain di rumahnya. Salah satu teman korban mengaku membawa 10 butir pil warna putih yang diduga pil PCC.

“Jadi, ada 8 anak, termasuk dua anak saya saat bermain dikasih satu-satu. Kemudian anak saya yang besar tidak diminum, tapi dibuang. Lha anak saya yang kecil ini dikasih temene minuman es teh, gak tahu diminum anak saya,” terangnya.

Tak hanya anaknya saja, tiga bocah lain yang ikut menjadi korban keganasan pil PCC juga baru bisa ditemukan keluarganya beberapa hari setelah terkena pil PCC. “Tiga korban lainnya itu ketemune Sabtu malam. Kendaraane (sepeda motor) hilang. Minumnya di Jalan Pemuda. Waktu kumpul di rumah saya ya ngakunya baru pertama kali dibawa,” katanya.

Dari pengakuan teman anaknya, pil setan itu dibeli dari seseorang di daerah Tugu, Semarang. Pil tersebut dibeli seharga Rp 150 ribu mendapat 10 butir. “Bilangnya beli 10 harganya Rp 150 ribu, Pilnya warna putih. Beli sama seseorang di daerah Tugu. Sempat urusan sama polisi juga, tapi mengingat dia masih kecil ya akhirnya kita selesaikan dengan cara kekeluargaan. Ya, kasihan juga,” ujarnya.

Atas kejadian ini, Efra lebih ketat mengawasi anaknya, termasuk teman pergaulannya. Selain itu, pihaknya juga berharap kepada aparat kepolisian terus memberantas peredaran narkoba di Kota Semarang. “Antisipasi ke anak-anak, sudah saya warning ndak boleh keluar malem,” tegasnya.

Pihaknya juga meminta kepada pemerintah untuk lebih selektif dalam penggunaan kartu BPJS. Menurutnya, pada saat anaknya menjadi korban pil PCC, tidak bisa menggunakan kartu BPJS. “Pemerintah harus bisa selektif, pemakai itu korban. Ibarate narkoba aja rehabilitasi dibiayai negara. Tapi ini tidak ada kepedulian,” katanya. (mha/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Puskesmas Rawat Inap Harus Direalisasikan

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Kalangan anggota DPRD Kota Magelang mendesak agar puskesmas dengan fasilitas rawat inap segera hadir di Kota Magelang. Pasalnya, keberadaan puskesmas rawat...

Lomba Melukis Helm

MUNGKID—Bertempat di depan gedung SIM Polres Magelang, Minggu (17/9) kemarin, berlangsung lomba melukis helm. Pesertanya, pelajar tingkat SMA se-Kabupaten Magelang. Kegiatan tersebut dalam rangka...

Elpiji 3 Kg Salah Sasaran

SALATIGA – Dinas Perdagangan Kota Salatiga mengimbau kepada semua warga kalangan ekonomi menengah ke atas untuk tidak menggunakan gas elpiji 3 kg dan beralih...

Dorong KIM sebagai Humasnya Desa

WONOSOBO—Kelompok Informasi Masyarakat (KIM), digadang mampu terlibat aktif dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya penguasaaan informasi dan komunikasi. Selain itu, KIM juga digadang mampu...

Tiga Burung Diembat Maling

SALATIGA-Gerombolan pencuri semakin merajalela di Kota Salatiga. Bahkan burung peliharaan pun tak luput dari incaran maling. Mulis Fanusi, 32, warga Pungkursari, Kecamatan Sidorejo, Kelurahan Salatiga,...

Pilpres 2019, Gubernur NTB Jajaki Jawa Tengah

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Dr TGH Muhammad Zainul Majdi MA yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) mengaku telah didekati...