Kid Zaman Now dan Update Status Beraksara Jawa

spot_img

PEMBELAJARAN Bahasa Jawa, khususnya Aksara Jawa di sekolah bagi sebagian besar siswa sangat menyengsarakan dan menjadi momok yang menakutkan. Kebanyakan siswa menganggap bahwa Aksara Jawa adalah materi yang sulit karena mempunyai berbagai macam bentuk dan aturan penulisan yang rumit.

Mata pelajaran Bahasa Jawa menjadi satu di antara tiga mata pelajaran yang ditakuti siswa, selain Matematika dan Bahasa Inggris. Padahal sebagai mata pelajaran muatan lokal, Bahasa Jawa berasal dari akar budaya siswa sebagai orang Jawa. Namun mirisnya pelajaran Bahasa Jawa khususnya Aksara Jawa bagi siswa adalah materi pelajaran yang membosankan dan kurang diminati.

Sebagian besar siswa menganggap bahwa Aksara Jawa itu kuno dan tidak ada manfaatnya bagi mereka. Kendala lain kurang mampunya siswa menguasai Aksara Jawa adalah karena kurangnya secara intensif siswa diajarkan Aksara Jawa itu saat mereka duduk di bangku sekolah dasar (SD).

Apalagi diperparah dengan tidak adanya penggunaan Aksara Jawa dalam kehidupan sehari-hari siswa. Misalnya, buku-buku yang beraksara Jawa yang bisa dibaca sebagai referensi dan berbagai aktivitas lain yang berhubungan dengan penggunaan Aksara Jawa.

Baca juga:   Kalimat Ajaib untuk Menghafal Rumus Trigonometri

Sebagai seorang guru yang mengajar mata pelajaran Bahasa Jawa di sekolah menengah pertama (SMP), kendala tersebut menjadi pekerjaan rumah yang sangat rumit untuk dipecahkan. Sekaligus sebagai tantangan yang harus segera diselesaikan. Pasalnya, Bahasa Jawa menjadi muatan lokal yang memiliki nilai adiluhung.

Momok yang menakutkan dicoba diubah menjadi menyenangkan dan menggembirakan saat siswa mengikuti mata pelajaran. Caranya melalui pendekatan minat siswa terhadap apa yang sering mereka lakukan.

Satu di antara yang menjadi kebiasaan anak zaman sekarang alias kid zaman now tak lepas aktivitas mereka dengan media sosial atau medsos. Setiap hari mereka seakan tak pernah lepas berinteraksi di dunia maya melalui Facebook, WhatsApp dan Instagram.

Siswa seakan telah didera ketergantungan media sosial. Sehingga keseharian mereka tak bisa lepas dari medsos tersebut. Mereka cenderung menggunakan medsos sebagai alat komuniksi belaka. Belum mempergunakan sebagai sarana pembelajaran yang maksimal. Fungsi pendidikan perlu ditanamkan oleh guru kepada siswa.

Author

Populer

Lainnya