24 C
Semarang
Senin, 19 April 2021

Akhirnya Divonis 10 Tahun Penjara

Bantu Pelaku Bunuh Dosen Undip

spot_img
spot_img

SEMARANG–Supardi, 22, seorang penjaga indekos divonis pidana penjara 10 tahun penjara dan biaya perkara Rp 2500 oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Semarang yang dipimpin, Edy Suwanto. Setelah tujuh hari masa pikir-pikir yang diberikan terhadap terdakwa, kuasa hukum dan Jaksa Penuntut Umum (JPU)  Kejari Kota Semarang tak ada upaya banding, sehingga telah berkekuatan hukum tetap.

Dalam hal ini, Supardi didudukkan sebagai salah satu pelaku perampokan dan pembunuhan terhadap dr Nanik Trimulyani Arifin, seorang dokter spesialis jantung yang juga dosen tamu di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. “Tidak ada upaya banding dari para pihak. Hari ini (Selasa, red) resmi berkekuatan hukum tetap, karena semua pihak, baik klien kami maupun jaksa sudah menerima vonis 10 tahun penjara,” kata kuasa hukum Supardi, Andi Dwi Oktavian kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (5/12) kemarin.

Atas vonis tersebut, dikatakan Andi, meneruskan masa penahanan yang telah dijalani di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas I Kedungpane Semarang. Sebelumnya, JPU Kota Kejari Kota Semarang, Indah Laila menjerat Supardi dengan primair Pasal 339 ke-1 KUHP dan subsidair Pasal 365 ayat 3 KUHP. Menurut JPU, atas perbuatan terdakwa korban mengalami kerugian mencapai Rp 150 juta.

Padahal dalam persidangan pemeriksaan terdakwa Supardi terungkap, adanya penyidikan yang tidak patut terjadi, yakni memaksa pelaku mengakui perbuatan yang sebenarnya tidak dilakukan, yang diduga dilakukan penyidik Polrestabes Semarang. Saat diperiksa di hadapan majelis hakim, Supardi mengaku ditembak kakinya oleh polisi, kemudian dipaksa penyidik untuk mengakui perbuatan yang sebenarnya tidak dilakukannya.

“Saya diminta ngaku sama polisi. Padahal saya tidak melakukan pembunuhan, tapi kaki saya ditembak pas diperiksa di Polsek. Kemudian dipaksa mengaku, akhirnya saya ngaku saja,” kata Supardi saat diperiksa di persidangan.

Namun demikian, ia mengaku turut membantu Suparman (masuk Daftar Pencarian Orang) terkait pencurian sejumlah barang yang dimiliki korban. Hanya saja, itu dilakukan sejak korban masih pergi berlibur. Ia juga mengaku menjaga kos tersebut digaji sebesar Rp 1,7 juta setiap bulan, dengan tugas membersihkan kos dan membuka pintu saat mobil anak kos masuk. Ia juga mengaku Suparman satu daerah dengan dirinya asal Wonosobo.

“Niat kami cuma mengambil TV, uang dan perhiasan. Saya ambil sedikit demi sedikit. Waktu itu Parman mengancam saya pakai parang dan dia mabuk, kemudian mengajak mencuri,” sebutnya.

Ia mengaku, Suparman bisa masuk ke kamar korban karena ia yang menunjukkan. Kemudian jendela dicongkel memakai obeng. Ia mengaku hanya bertugas di parkiran untuk melihat apakah ada orang atau tidak. “Waktu itu anak-anak kos tidak ada, pada pulang. Pertama Parman keluar bawa uang dan perhiasan, awalnya lewat dapur. Saya dikasih Rp 1 juta sama Parman,” katanya.

Untuk pencurian kedua, lanjut Supardi, Suparman masuk melalui lubang angin mengambil TV dan uang. Ia sendiri hanya diberi bagian Rp 500 ribu. Selain itu, ia mengaku sebelum korban pulang, rekaman CCTV terlebih dahulu dipotong. Terkait pembunuhan itu ia menyebutkan, pelakunya adalah Suparman. Ia juga mengatakan bahwa mayat korban dibungkus menggunakan sprei, kemudian ditaruh di dalam bagasi dilakukan sendiri oleh Suparman.

“Korban digulung pakai sprei dan digotong parman sendirian ke dalam mobil. Posisi mayat ditaruh belakang bagasi, mobil langsung di bawa ke Wonosobo yang nyetir Parman, yang buang mayatnya juga dia, mayatnya dibuang ke selokan di daerah Banjarnegara,” sebutnya. (jks/ida)

spot_img

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here