32 C
Semarang
Kamis, 24 Juni 2021

Keleleran, Pelajar “Disapu” Mobil Polisi

MAGELANG—Ratusan pelajar dan warga Kota Magelang yang sehari sebelumnya tidak mendengar kabar akan adanya mogok beroperasi para sopir angkot, kemarin, keleleran di pinggir-pinggir jalan. Beruntung, Polres, Dishub, dan Satpol PP Kota Magelang sigap.

Ratusan pelajar yang keleleran menunggu angkutan umum sejak pagi hari, “disapu” alias diangkuti oleh mobil-mobil dinas tiga instansi tersebut. Pelajar dan warga pun diangkut ke titik-titik sekolah dan pasar-pasar tradisional.

Seperti diketahui, pada Senin (4/12) kemarin, ratusan angkot dan taksi konvensional melakukan aksi mogok masal. Tindakan itu sebagai bentuk solidaritas, karena pada hari yang sama, ada unjuk rasa rekan-rekan mereka ke kantor gubernur Jateng di Semarang.

Mereka menuntut pemerintah bersikap tegas atas kehadiran transportasi berbasis aplikasi online. Para sopir angkot dan taksi konvensional yang mogok bersama, mereka yang tergabung dalam Forum Komunikasi Awak Angkutan Kota Magelang (Forkam).

Pantauan Jawa Pos Radar Kedu, ada sekitar 20 unit mobil dikerahkan untuk mengangkut para pelajar dan warga yang hendak bepergian. Petugas menyisir sejumlah titik yang biasa digunakan warga dan pelajar untuk menunggu angkutan umum. Seperti di pertigaan Canguk Jalan Soekarno-Hatta, Pasar Kebonpolo, Jalan Ahmad Yani, dan pertigaan Universitas Tidar Magelang, Jalan Tidar. Juga Jalan Pemuda, Jalan Gatot Soebroto, Jalan Magelang-Semarang, dan seluruh halte di wilayah kota.

Salah satu pelajar SMPN 10 Kota Magelang, Bida, 13, asal Tegalrejo, mengaku tidak tahu ada aksi mogok angkutan umum. “Tidak biasanya tadi pagi sepi, saya juga sempat berpikir kok tidak ada angkot, ternyata pada mogok. Untungnya, tadi ada petugas yang bantu mengantar kami ke sekolah, ” ujar Bida.

Selain Bida, ada Tri, 25, warga asal Payaman Magelang yang sempat lama menunggu angkot di halte Menowo Jalan Ahmad Yani Kota Magelang. Tri hendak berbelanja ke Pasar Rejowinangun.

“Saya diantar suami dari Payaman ke halte. Tidak tahu kalau angkot tidak ada. Sempat nunggu lama, tapi untungnya ada mobil bapak polisi yang mengantar, ” ucap Tri.

Wakil Kepala Polres Magelang Kota, Kompol Prayudha Widiatmoko saat dihubungi koran ini menjelaskan, pihaknya menerjunkan sekitar 11 unit mobil untuk mengangkut para pelajar di Kota Magelang.

“Kami sudah mengetahui adanya aksi mogok dari Forkam. Langsung kami tindaklanjuti dengan menerjunkan mobil untuk antisipasi telantarnya para pelajar,” kata Prayudha.

Prayudha merinci, pihaknya menerjunkan 4 pikap double cabin dari Polsek, 3 mobil patroli Lantas, 2 truk Dalmas, 1 pikap Sabhara dan 1 unit mobil L 300 Binmas. “Kita siapkan mengangkut. Kami terjun sejak pukul 06.00 pagi. Kami juga tetap standby hingga sore hari, kembali mengangkut para pelajar, ” jelas Prayudha.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kota Magelang, Singgih Indri Pranggana, mengatakan, pihaknya menerjunkan 6 unit mobil untuk menyisir dan mengangkut para pelajar. “Kami terjunkan 1 unit truk, 3 unit mobil patroli, dan 2 unit mobil jabatan. Kami turunkan pagi untuk antar para pelajar dan standby hingga siang/sore penjemputan.”

Kepala Bidang Lalulintas Dinas Perhubungan Kota Magelang, Chandra Adi W, mengatakan hal yang sama. Kata Chandra, Dishub menerjunkan 6 unit mobil operasional dan pribadi untuk mengangkut para pelajar. “Selain itu, Pemkot juga menerjunkan bus inventaris sebanyak 3 bus untuk mengantar anak-anak sekolah.”

Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito menyayangkan aksi mogok awak angkutan di Kota Magelang yang berimbas pada telantarnya para pelajar dan masyarakat. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Sigit memerintahkan seluruh kendaraan dinas milik Pemkot Magelang untuk mengangkut para pelajar.

“Saya sudah berpihak pada angkutan legal yang ada (konvensional). Sudah lah aksi ke sana (Semarang) cukup, tapi pelayanan masyarakat jangan sampai terganggu. Pemkot Magelang sudah jelas (menolak ojek online),” kata Sigit, Senin (4/11).

Meski demikian, Sigit mempersilakan awak angkutan konvensional dan ojek online untuk bisa duduk bersama mencari solusi terbaik. “Biar dikomunikasikan, biar rembukan sendiri. Sebenarnya kita tahu, tapi kita kan harus berpihak pada yang sudah legal,” jelas Sigit.

Sigit prihatin dengan dampak aksi mogok angkutan kota menyebabkan siswa dan masyarakat terkena imbasnya. Ia mengimbau kepada para pejabat di Pemkot Magelang untuk menyediakan kendaraan mereka bagi masyarakat.”Saya sudah perintahkan, sekali-sekali asisten dan pejabat eselon dua tanpa sopir pribadi. Saya juga boleh,” tandas Sigit. (cr3/isk)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here