ADA dua kalimat yang saya ingat ketika masih kecil. Orang tua sering mengatakan “le sekolah sing bener yo besuk ben dadi wong pinter !” (nak kamu sekolah yang baik ya, biar kelak jadi orang pandai). Satu lagi ketika seorang anak berbuat nakal atau dianggap tidak baik, orangtua mengatakan “ngono kok jarene wis sekolah..!” (begitu kok katanya sudah sekolah).

Di balik ucapan tersebut, sadar atau tidak mengandung nilai bahwa orang tua memiliki harapan dengan menyekolahkan anaknya kelak menjadi orang pandai dan baik. Bahkan, sadar atau tidak, orang tua menyekolahkan anaknya sebagai upaya menanam investasi bagi dirinya, keluarga dan anak yang bersangkutan. Karena anak adalah aset berharga bagi orang tua.

Sepenggal tulisan di atas menyadarkan kita bahwa pendidikan merupakan investasi sumber daya manusia untuk masa depan, dalam ruang yang lebih luas untuk membangun bangsa. Yaitu warga negara yang disiapkan membangun dan mengisi cita-cita dalam mencapai tujuan bangsa. Beberapa negara bangkit dengan cepat, karena kemampuan memprioritaskan dan mengelola sektor pendidikan sebagai investasi sangat tepat, sehingga mampu mengubah negara menjadi tumbuh, berkembang, maju, mandiri dan terhormat.

Menilik pernyataan Menteri Keuangan Amerika Serikat Lawrence Summer bahwa salah satu dari lima penyebab kegagalan Negara berkembang adalah kurang perhatian investasi di bidang pendidikan (Kompas, 7 Juli 2000). Hal itu dapat diartikan bahwa pendidikan bagi manusia di era sekarang ini adalah kebutuhan yang menentukan masa depan. Tanpa melalui proses pendidikan yang baik, sulit kiranya seseorang menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Bahkan pendidikan tidak hanya penting bagi kehidupan orang secara individual, tetapi juga penting dalam tata kehidupan kolektif bagi Negara (Wibawa, 2017). Beberapa pendapat di atas menunjukkan bahwa investasi pendidikan dan pertumbuhan ekonomi memiliki hubungan sangat erat dan saling berkaitan.

Teori Human Capital berpendapat bahwa pendidikan adalah investasi sumber daya manusia yang memberi manfaat moneter maupun non moneter (Dianacyber 2017). Namun demikian, investasi pendidikan tidak boleh hanya dilihat dalam pandangan murni berdasarkan kacamata ekonomi. Namun, kemajuan dan kemandirian bangsa juga harus mampu membangun martabat dan jati dirinya melalui program pendidikan yang direncanakan dalam rangka menyiapkan sumber daya manusia seutuhnya.

Pasal 31 pasal 31 ayat (3) UUD 45 amandemen keempat tahun 2001 berbunyi Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistim pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak yang mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. Dari pasal tersebut, kita dapat melihat bahwa negara mendahulukan upaya meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak yang mulia dalam menyelenggarakan pendidikan. Artinya penyelenggaaraan pendidikan SDM harus didahului dengan membangun manusia yang beriman dan bertaqwa bagi warga negaranya, sebagai landasan terbentuknya sumber daya manusia yang bermoral. Sebab, sumber daya manusia adalah modal pokok yang mempunyai peran dinamis dalam menggerakkan dan mengelola sumber daya yang lain, dalam rangka memajukan negara untuk mensejahterakan masyarakatnya.