EMAS HIJAU: Petani tembakau di Temanggung tengah menanam bibit tembakau di lahan mereka. Mereka berharap, tembakau yang nantinya besar, akan berubah menjadi Srintil. (DOK JAWA POS RADAR KEDU)
EMAS HIJAU: Petani tembakau di Temanggung tengah menanam bibit tembakau di lahan mereka. Mereka berharap, tembakau yang nantinya besar, akan berubah menjadi Srintil. (DOK JAWA POS RADAR KEDU)

Tembakau menyimpan sejuta asa. Meski keberadaannya terus dihantam polemik yang sarat kepentingan, menanam tembakau juga berarti bergulat dengan tradisi di dalamnya. Karena tembakau tidak hadir begitu saja. Tapi setelah petani menempuh proses yang cukup melelahkan, hingga melakoni laku ritual yang sudah mentradisi.

AGUS HADIANTO

KABUT tipis masih merebah di Dusun Lamuk, Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung, akhir Agustus lalu. Pukul 07.00, Juwadi, 35, petani tembakau asal Dusun Lamuk, tengah bersiap menuju pasar desa. Jarak antara Legoksari dengan pasar kira-kira 4 km. Hari itu, ia berencana memanen tembakau di lahannya, di lereng Sumbing.

Sebelum memanen pukul 08.00 WIB bersama sejumlah kerabat dekatnya, Juwadi membeli ubo rampe di pasar untuk laku ritual. Kembang kantil, kenanga, melati, mawar merah, mawar putih dan cempaka. Tak lupa, rokok klobot dan telor ayam lokal. “Ini tradisi wiwit namanya, sebelum memanen, dilakukan ritual di ladang tembakau, sebagai wujud ungkapan terima kasih kepada Sang Illahi. Tradisi ini sudah turun-temurun,” ucapnya.

Bagi petani tembakau di Legoksari, menanam tembakau bukan semata urusan menggali tanah maupun menyemai bibit. “Tapi ada urutan doa dan adat yang harus dilakukan, mulai dari proses menanam hingga pada waktu memanen.” Ajaran tata cara menanam tembakau dari lelulur, merupakan sebuah pakem yang musti dipatuhi. Harapannya, agar saat panen menghasilkan daun tembakau yang berkualitas tinggi. “Syukur-syukur yang muncul adalah Srintil,” ucap Juwadi, penuh harap.

Ritual yang dilakukan oleh petani, tentu bukan bermaksud menyekutukan Tuhan mereka. “Kami berdoa tentu hanya kepada Allah SWT, memanjaatkan rasa syukur atas panen tembakau. Doa agar panen kali ini menghasilkan kualitas daun tembakau yang terbaik.”

Kepala Dusun (Kadus) Lamuk, Lukman Sutopo, menuturkan, tradisi wiwit yang dilakukan oleh para petani, lantaran mereka berkeyakinan bahwa perlakuan yang baik terhadap tanaman tembakau, maka akan menghasilkan daun tembakau yang juga baik. Mereka percaya, hasil panen tidak lepas dari kehendak Sang Illahi. Tradisi yang demikian bagi petani tembakau, bagian dari tata cara bertani yang benar. “Doa yang tulus dan cara memperlakuan daun tembakau yang baik, akan mendatangkan berkah pada saat panen.”