33 C
Semarang
Senin, 10 Agustus 2020

Sepekan Mengajar 24 Jam, Honor Rp 450 Ribu

Guru Tidak Tetap, Pahlawan Tanpa Tanda Sejahtera

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Meskipun sebagian guru sudah menerima sertifikasi dan tingkat kesejahteraan yang lebih baik, namun masih banyak Guru Tidak Tetap (GTT) yang berada di bawah garis sejahtera. Bahkan tak sedikit, honor yang mereka terima jauh dari layak. Bagaimana mereka bertahan antara mengajar dan memenuhi kebutuhan hidupnya? Seperti apa kepedulian pemerintah?

TANGGAL 25 November kemarin diperingati sebagai Hari Guru. Pahlawan tanpa tanda jasa, begitulah sebutan untuk para guru. Namun khusus Guru Tidak Tetap (GTT) ataupun guru honorer, gelar itu diplesetkan menjadi “Pahlawan tanpa tanda sejahtera.” Maklum saja, pendapatan yang mereka terima dari mengajar sangat minim. Linda Fitriastuti, misalnya. Perempuan ini sudah kurang lebih 5 tahun menjadi guru honorer di SDN Langenharjo 1 Kabupaten Kendal.

Dalam seminggu, lajang berusia 33 tahun ini mengajar selama 24 jam. Meski begitu, gaji yang diterima dari dana bantuan operasional sekolah (BOS) hanya Rp 450 ribu per bulan. Jelas gaji itu di bawah standar, atau jauh dari upah minimum Kabupaten Kendal yang besarannya di atas Rp 1,5 juta. “Tapi saya bersyukur masih bisa hidup, dengan usaha dan keringat sendiri,” jelas Linda Fitriastuti kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Linda pun harus pandai-pandai mencari sambilan agar dapur tetap mengepul. “Kebetulan saya juga buka les privat, jadi kebutuhan rumah bisa tercukupi,” katanya.

Dari les privat itu, ia mendapatkan bayaran sekitar Rp 600 ribu per bulan. Hal itu ia lakukan di sela-sela kesibukannya mengajar. Menurut dia, tenaga guru honorer beban kerjanya lebih banyak daripada guru PNS. Namun ia mengaku tidak berhenti bersyukur karena juga mendapatkan tunjangan dari DPRD Kendal sebesar Rp 400 ribu selama 8 bulan. “Beban besar itu karena guru PNS, terkadang belum mengusai masalah IT,” ucapnya.

Ia mengenang, saat awal menjadi GTT, diberi mandat untuk mengajar kelas 2. Namun saat ini, ia mengajar siswa kelas 4, karena ada guru PNS yang diangkat menjadi kepala sekolah. Meski bisa dibilang berat, Linda mengaku ikhlas menjalankan pekerjaannya demi niat tulus mencerdaskan anak bangsa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Gerak Cepat Rekrut Buruan

SEMARANG – PSIS Semarang wajib gerak cepat merekrut buruan mereka di jendela transfer babak 16 Besar untuk menambah kekuatan atau menambal kekurangan mereka di...

Massa Muhammadiyah Baca Qunut Nazilah

SEMARANG-Sekitar 500 warga Muhammadiyah di Kota Semarang, turun ke jalan melakukan aksi bela Palestina, Ahad (17/12) kemarin. Aksi tersebut sebagai bentuk perlawanan atas pernyataan...

Lulus Tapi Pantang Corat-Coret

MAGELANG – Perayaan kelulusan SMK Citra Medika Kota Magelang patut ditiru. Selasa (2/5), usai pengumuman kelulusan, 110 siswa berjalan kaki dari sekolah menuju ke...

Siap Tangkis Hoax

MAGELANG – Relawan pendukung Sigit Widyonindito saat maju Pilkada 2015 siap menangkis berita hoax yang mendiskreditkan Sigit. Tim cyber yang berjumlah 25 orang menamakan...

Diduga Hendak Tawuran, 10 Pemuda Diamankan

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Sebanyak sepuluh pemuda diamankan petugas Polsek Pedurungan, Kamis (17/5) dini hari. Diduga mereka hendak melakukan aksi tawuran di daerah Tlogosari Kecamatan Pedurungan. "Saat menjelang saur...

Tingkatkan IP, Bantu Alsintan

KAJEN–Pemkab Pekalongan berupaya meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) di Kabupaten Pekalongan yang saat ini baru 230 persen menjadi 300 persen. Untuk merealisasikan target tersebut, Bupati...