33 C
Semarang
Sabtu, 11 Juli 2020

Selamatkan Diri, 11 Jam Sembunyi di Septic Tank

Kisah Warga Kedondong Demak Sebulan Disandera KKB di Papua (2-Habis)

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Meski sudah merasa lega setelah terbebas dari penyanderaan dan dipulangkan ke kampung halaman di Desa Kedondong, Demak, rata-rata para korban masih memendam rasa trauma. Mereka enggan bekerja lagi ke Papua.

M HARIYANTO

NYALI Suwarto dan warga yang disandera lainnya benar-benar menciut saat Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kimbely dan Banti, Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua menyampaikan kalau warga tidak akan dilepas sebelum pemerintah Indonesia mengakui kemerdekaan Papua.

“Mereka bilang begitu. Tidak akan melepaskan kami. Kami pun akhirnya pasrah antara hidup dan mati. Tekanan mental luar biasa. Pokoknya suasananya mencekam siang malam selama sebulan. Kami pun berharap cepat dibebaskan. Alhamdulillah,akhirnya terkabulkan,”kata Suwarto.

Awal pembebasan ketika warga mendengar suara tembak-menembak antara aparat dengan KKB. Suara mortir keras sekali. Warga pun melihat aparat TNI Kopasus bersama Polri telah menguasai kawasan yang menjadi tempat penyanderaan tersebut.

Nuryanto, warga Desa Kedondong lainnya mengatakan, ia dan warga lainnya turut ke Papua mendulang limbah emas Freport karena hasilnya menggiurkan. “Namun dengan kejadian itu, kami masih trauma. Tidak tahu apakah nanti bekerja di sana lagi atau tidak. Yang penting sekarang sudah aman dulu di rumah bersama keluarga,”ujarnya.

Selamet Riyadi, warga Kedondong lainnya merasa plong begitu turun dari pesawat Sriwijaya Air di Bandara Internasional Ahmad Yani. “Saya lega, karena satu bulan saya di tempat penyanderaan,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Menurut Selamet, suasana selama penyanderaan sangat mencekam. Setiap malam, para pekerja termasuk dirinya hanya bisa ngobrol ketika pagi hari. Sedangkan di malam hari harus diam membisu di dalam rumah yang disewa bersama empat temannya yang berlokasi di Kampung Longsoran, Mimika, Papua. “Setiap malam kita memilih diam. Takutnya mereka datang. Mereka kalau malam berkeliaran, bawa senjata, kampak, parang,” ujarnya.

Wilayah yang dikuasai oleh kelompok bersenjata ini, selain di Longsoran, juga ada di Banti dan Kimbely, satu lokasi dengan Mimika, Papua. Selama insiden terjadi, ia merasa mengalami hidup yang sangat menderita.

“Selama satu bulan makan nasi pakai garam. Kalau malam kan tidak boleh keluar. Kalau kita buang air besar, biasanya bawa air dalam botol mineral buat cebok,” kenangnya pilu.

Selain penderitaan ini, pemuda berusia 26 tahun ini juga merasakan pukulan dari senjata laras panjang. Hanya gara-gara menjawab panggilan telepon dari temannya.  “Pernah ada teman nelpon, terus ditanya kamu nelpon siapa? Saya jawab teman. Dia bentak saya: ‘Kamu nipu?’ Sambil pintunya didobrak dan saya dipukul laras panjang,” ceritanya.

Melihat hal itu, Selamet langsung kabur melarikan diri dan bersembunyi di balik bebatuan. Beruntung, orang bersenjata laras panjang tersebut tidak menemukan. Namun, pada suatu hari lagi, Selamet mengalami sial lantaran larinya menyelamatkan diri terperosok ke dalam lubang septic tank sedalam kurang lebih 1 meter.

“Dua kalinya dikejar pakai senjata, tapi saya tetap lari. Saya kira kandang ayam, ternyata septic tank. Kena kotoran semua, dalamnya segini,” katanya sambil menunjukkan pinggangnya.

Dari kejadian ini, Selamet harus bertahan hidup untuk menyelamatkan diri dari rasa ketakutannya. Bahkan, mulai malam sampai pagi, harus bertahan di dalam kubangan yang berisi kotoran manusia tersebut. “Saya di septic tank mulai pukul 20.00 malam sampai pukul  07.00 pagi, baru keluar. Ya, sekitar 11 jam. Teman-teman pada mencari saya,” ujarnya.

Sekarang Selamet mengaku merasa lega meski masih menyimpan trauma atas kejadian tersebut. Dikatakan, warga bisa lepas dari penyanderaan kelompok bersenjata ini setelah TNI datang menyelamatkannya. “Ditolong pas ada Kopasus, kita langsung bebas. Masih takut saja, kalau malam terdengar suara tembakan,” akunya.

Selamet mengakui, berada di tanah Papua sejak kecil ketika masih duduk di bangku kelas 1 SD. Awalnya, ke Papua karena mengikuti orangtuanya yang sebelumnya mencari nafkah di Bumi Cenderawasih tersebut. “Dari kecil di sana, ada bapak sama kakak. Kalau mamak sudah balik ke sini (Demak),” katanya.

Ia bekerja mendulang emas di sungai. Dari penghasilan per bulan, bisa mengumpulkan uang mencapai belasan juta kepotong patungan membayar uang sewaan rumah.

“Naik ke gunung barusan 6 bulan, kerja mendulang emas. Sewa 1 bulan Rp 6 juta bayarnya sewa sama mereka. Dia datang mengambil uang. Kalau penghasilan Rp 10 sampai Rp 15 juta,” bebernya.

Selamet sendiri mengakui sangat berat meninggalkan Papua. Namun demikian, hal ini terpaksa dilakukan lantaran kondisi masih belum aman. Selain itu, sekarang ini belum bisa menentukan untuk mencari penghasilan di tempat asalnya. “Belum tahu mau apa? Padahal kalau hari-hari ini ramai, kalinya ada air emasnya banyak,” ujarnya.

Warga Kedondong lainnya, Sadiman juga merasa lega ketika dibebaskan dari tempat sandera oleh TNI. “Saya lega karena satu bulan saya di tempat penyanderaan,” tuturnya.

Ia mengatakan telah bekerja di Papua selama bertahun-tahun. Namun kejadian tersebut membuatnya enggan kembali bekerja di Mimika. “Saya masih trauma untuk bekerja di sana,” tuturnya.

Bupati Demak, HM Natsir, saat menyambut warga Kedondong menyampaikan rasa syukurnya karena warga Demak sudah kembali lagi ke keluarganya. “Alhamdulillah, semua sudah kembali ke Demak lagi,”katanya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian (Dinakerin) Demak, Eko Pringgolaksito mengatakan, dari 39 warga yang diajak pulang, hanya 1 yang bertahan di Papua karena tetap ingin bekerja.

“Karena itu, yang pulang ke Demak hanya 38 orang dan 5 orang lainnya dari Rembang,”ujar Eko. Menurutnya, setelah dibebaskan tersebut, kebutuhan warga Demak di Timika menjelang dipulangkan dipenuhi paguyuban warga Demak yang telah sukses. (dilengkapi wahib pribadi/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Jaga Kerukunan dan Toleransi Antar Etnis

RADARSEMARANG.COM - KOTA Salatiga merupakan mininya Indonesia. Meski wilayahnya kecil, masyarakatnya sangat majemuk. Berbagai etnis dari Indonesia tinggal di kota yang berada di lereng...

Pecah Kaca Mobil, Rp 47 Juta Raib

TEMANGGUNG—Komplotan pecah kaca mobil kembali beraksi. Kali ini, sasarannya Suzuki Pajero warna hitam milik nasabah BCA. Kejadian berlangsung saat mobil diparkir di depan diler...

BPJSK Bayar Klaim Rp 1,4 M

SEMARANG- Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJSK) secara simbolis menyerahkan klaim sebesar Rp 1,4 miliar kepada ahli waris Stephen Harso Budi, di PT New...

Berharap Jamu Bisa Diresepkan Dokter

SEMARANG – Jamu herbal mulai banyak digunakan masyarakat untuk mengobati penyakit. Sayang, hingga saat ini, jamu herbal belum direkomendasikan di dunia kedokteran. Karena itu...

Menuju Kurikulum yang Integral (3)

RADARSEMARANG.COM - KAJIAN terhadap kurikulum pendidikan musti dilakukan. Hemat penulis, sudah saatnya Indonesia menerapkan kurikulum integratif. Yakni, mengintegrasikan ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Terkait...

Pilkada Tidak Berpengaruh Signifikan

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Tahun politik kali ini dinilai tidak akan memberikan pengaruh yang cukup signifikan bagi industri jasa pengiriman. Hal tersebut terkait dengan kian...