33 C
Semarang
Senin, 21 September 2020

Selamatkan Diri, 11 Jam Sembunyi di Septic Tank

Kisah Warga Kedondong Demak Sebulan Disandera KKB di Papua (2-Habis)

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Meski sudah merasa lega setelah terbebas dari penyanderaan dan dipulangkan ke kampung halaman di Desa Kedondong, Demak, rata-rata para korban masih memendam rasa trauma. Mereka enggan bekerja lagi ke Papua.

M HARIYANTO

NYALI Suwarto dan warga yang disandera lainnya benar-benar menciut saat Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kimbely dan Banti, Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua menyampaikan kalau warga tidak akan dilepas sebelum pemerintah Indonesia mengakui kemerdekaan Papua.

“Mereka bilang begitu. Tidak akan melepaskan kami. Kami pun akhirnya pasrah antara hidup dan mati. Tekanan mental luar biasa. Pokoknya suasananya mencekam siang malam selama sebulan. Kami pun berharap cepat dibebaskan. Alhamdulillah,akhirnya terkabulkan,”kata Suwarto.

Awal pembebasan ketika warga mendengar suara tembak-menembak antara aparat dengan KKB. Suara mortir keras sekali. Warga pun melihat aparat TNI Kopasus bersama Polri telah menguasai kawasan yang menjadi tempat penyanderaan tersebut.

Nuryanto, warga Desa Kedondong lainnya mengatakan, ia dan warga lainnya turut ke Papua mendulang limbah emas Freport karena hasilnya menggiurkan. “Namun dengan kejadian itu, kami masih trauma. Tidak tahu apakah nanti bekerja di sana lagi atau tidak. Yang penting sekarang sudah aman dulu di rumah bersama keluarga,”ujarnya.

Selamet Riyadi, warga Kedondong lainnya merasa plong begitu turun dari pesawat Sriwijaya Air di Bandara Internasional Ahmad Yani. “Saya lega, karena satu bulan saya di tempat penyanderaan,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Menurut Selamet, suasana selama penyanderaan sangat mencekam. Setiap malam, para pekerja termasuk dirinya hanya bisa ngobrol ketika pagi hari. Sedangkan di malam hari harus diam membisu di dalam rumah yang disewa bersama empat temannya yang berlokasi di Kampung Longsoran, Mimika, Papua. “Setiap malam kita memilih diam. Takutnya mereka datang. Mereka kalau malam berkeliaran, bawa senjata, kampak, parang,” ujarnya.

Wilayah yang dikuasai oleh kelompok bersenjata ini, selain di Longsoran, juga ada di Banti dan Kimbely, satu lokasi dengan Mimika, Papua. Selama insiden terjadi, ia merasa mengalami hidup yang sangat menderita.

“Selama satu bulan makan nasi pakai garam. Kalau malam kan tidak boleh keluar. Kalau kita buang air besar, biasanya bawa air dalam botol mineral buat cebok,” kenangnya pilu.

Selain penderitaan ini, pemuda berusia 26 tahun ini juga merasakan pukulan dari senjata laras panjang. Hanya gara-gara menjawab panggilan telepon dari temannya.  “Pernah ada teman nelpon, terus ditanya kamu nelpon siapa? Saya jawab teman. Dia bentak saya: ‘Kamu nipu?’ Sambil pintunya didobrak dan saya dipukul laras panjang,” ceritanya.

Melihat hal itu, Selamet langsung kabur melarikan diri dan bersembunyi di balik bebatuan. Beruntung, orang bersenjata laras panjang tersebut tidak menemukan. Namun, pada suatu hari lagi, Selamet mengalami sial lantaran larinya menyelamatkan diri terperosok ke dalam lubang septic tank sedalam kurang lebih 1 meter.

“Dua kalinya dikejar pakai senjata, tapi saya tetap lari. Saya kira kandang ayam, ternyata septic tank. Kena kotoran semua, dalamnya segini,” katanya sambil menunjukkan pinggangnya.

Dari kejadian ini, Selamet harus bertahan hidup untuk menyelamatkan diri dari rasa ketakutannya. Bahkan, mulai malam sampai pagi, harus bertahan di dalam kubangan yang berisi kotoran manusia tersebut. “Saya di septic tank mulai pukul 20.00 malam sampai pukul  07.00 pagi, baru keluar. Ya, sekitar 11 jam. Teman-teman pada mencari saya,” ujarnya.

Sekarang Selamet mengaku merasa lega meski masih menyimpan trauma atas kejadian tersebut. Dikatakan, warga bisa lepas dari penyanderaan kelompok bersenjata ini setelah TNI datang menyelamatkannya. “Ditolong pas ada Kopasus, kita langsung bebas. Masih takut saja, kalau malam terdengar suara tembakan,” akunya.

Selamet mengakui, berada di tanah Papua sejak kecil ketika masih duduk di bangku kelas 1 SD. Awalnya, ke Papua karena mengikuti orangtuanya yang sebelumnya mencari nafkah di Bumi Cenderawasih tersebut. “Dari kecil di sana, ada bapak sama kakak. Kalau mamak sudah balik ke sini (Demak),” katanya.

Ia bekerja mendulang emas di sungai. Dari penghasilan per bulan, bisa mengumpulkan uang mencapai belasan juta kepotong patungan membayar uang sewaan rumah.

“Naik ke gunung barusan 6 bulan, kerja mendulang emas. Sewa 1 bulan Rp 6 juta bayarnya sewa sama mereka. Dia datang mengambil uang. Kalau penghasilan Rp 10 sampai Rp 15 juta,” bebernya.

Selamet sendiri mengakui sangat berat meninggalkan Papua. Namun demikian, hal ini terpaksa dilakukan lantaran kondisi masih belum aman. Selain itu, sekarang ini belum bisa menentukan untuk mencari penghasilan di tempat asalnya. “Belum tahu mau apa? Padahal kalau hari-hari ini ramai, kalinya ada air emasnya banyak,” ujarnya.

Warga Kedondong lainnya, Sadiman juga merasa lega ketika dibebaskan dari tempat sandera oleh TNI. “Saya lega karena satu bulan saya di tempat penyanderaan,” tuturnya.

Ia mengatakan telah bekerja di Papua selama bertahun-tahun. Namun kejadian tersebut membuatnya enggan kembali bekerja di Mimika. “Saya masih trauma untuk bekerja di sana,” tuturnya.

Bupati Demak, HM Natsir, saat menyambut warga Kedondong menyampaikan rasa syukurnya karena warga Demak sudah kembali lagi ke keluarganya. “Alhamdulillah, semua sudah kembali ke Demak lagi,”katanya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian (Dinakerin) Demak, Eko Pringgolaksito mengatakan, dari 39 warga yang diajak pulang, hanya 1 yang bertahan di Papua karena tetap ingin bekerja.

“Karena itu, yang pulang ke Demak hanya 38 orang dan 5 orang lainnya dari Rembang,”ujar Eko. Menurutnya, setelah dibebaskan tersebut, kebutuhan warga Demak di Timika menjelang dipulangkan dipenuhi paguyuban warga Demak yang telah sukses. (dilengkapi wahib pribadi/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Suzuki Nex II, Jadi Andalan Rebut Pasar

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) hendak mengulang kejayaannya beberapa tahun lalu. Kini, meluncurkan produk matik terbarunya di wilayah Jawa Tengah (Jateng), yakni low...

Kantongi 24 Nama Pebasket Terbaik

SEMARANG – Sebanyak 24 nama atlet basket cowok dan 24 cewek telah dikantongi tim pelatih, dalam seleksi pemain proyeksi Popnas 2017 tahap pertama yang...

Ahli Waris Kesulitan Cairkan Dana BPJS

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Setelah nasib 58 mantan buruh PT Nyonya Meneer (PT Njonja Meneer) yang didampingi Lembaga Penyuluhan dan Pembelaan Hukum (LPPH) Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi)...

Pejabat Diminta Waspadai WTS

TEMANGGUNG-Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), camat, kepala desa, serta para kepala sekolah di Temanggung, diminta waspada dan hati-hati terhadap orang yang mengaku-ngaku wartawan, namun...

Rumah Makan Paon Rasa

KOTA Semarang memiliki segudang rumah makan dengan beragam kuliner yang ditawarkan. Tidak sedikit yang menonjolkan citarasa nusantara dari Sabang sampai Merauke, namun sedikit yang...

Meja Ukir Asli Semarang

DENGAN memanfaatkankan akar pohon sisa penebangan, Zaenuri, seorang ahli ukir asal Tawang Rajekwesi, Kota Semarang, mampu membuat berbagai macam produk furniture berkualitas tinggi dan...