33 C
Semarang
Selasa, 14 Juli 2020

Cintai Kopi Karena Sang Ayah

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

BERAWAL dari kebiasaan membuatkan kopi sang ayah semasa SMA, mahasiswi jurusan hubungan internasional Fisip Undip, Vinia Esti Damaryanti, jadi ikut ketagihan mengonsumsi kopi.

“Dulu sering nyicipi kopi yang dibuat untuk bapak, kopi instan. Setelah kuliah, sering nongkrong di kedai kopi, makin suka sejak itu. Hampir tiap hari kopi nggak ketinggalan,” ungkap dara kelahiran 14 Juli 1994 ini kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (21/11) kemarin.

Gadis yang kerap disapa Vinia ini mengaku mulai mempelajari kopi sejak tahun 2014 lalu. Awalnya, hanya mempelajari hal-hal dasar seperti jenis-jenis kopi dan beragam minuman berbahan dasar kopi. Baru pada awal tahun 2017, petualangannya bersama kopi semakin mendalam.

Salah satunya dengan membaca buku-buku tentang kopi, menonton film bertemakan kopi, hingga belajar langsung dengan sejumlah barista di tempatnya nongkrong. Tak jarang, ia membuat kopinya sendiri ketika datang ke kedai kopi.

“Belajar manual brewing, belajar bagaimana caranya bikin espresse, latte. Sampai sempat belajar gimana sih prosesnya ngerawat buah kopi, ngupasnya, kemudian biji kopinya siap,” terangnya.

Ia mengaku, kecintaannya terhadap kopi sempat menimbulkan kontra dari orang-orang di sekitarnya, khususnya keluarga. Apalagi, Vinia memiliki riwayat asam lambung. Umumnya, orang dengan riwaat sakit tersebut, akan menghindari mengonsumsi minuman berkafein.

“Dulu itu sehari bisa 5 sampai 6 gelas, terus ibu tahu. Akhirnya diingatin. Teman-teman juga banyak yang protes, sekarang paling banyak sehari 3. Itupun diselang-seling,” beber dara kelahiran Kudus ini.

Vinia mengatakan bahwa kopi sangat istimewa baginya. Pasalnya pengolahan biji kopi setiap orang, akan menghasilkan rasa yang berbeda pula. Bahkan, setelah mempelajari kopi, ia pun menemui banyak rasa dan harum yang baru dari sebuah biji kopi.

“Orang kan tahunya, kopi ya kopi instan, rasanya pahit kalau tanpa gula. Padahal ada loh kopi rasanya asam, bahkan bisa jadi asin, tergantung yang brew kopinya,” kata dia.

Ia berharap, seiring berjalannya waktu, kopi kini telah menjadi lifestyle bukan sekedar teman minum. Semakin banyak orang tertarik, kini kopi menjadi primadona layaknya zaman dulu. Bisa mendekatkan banyak orang dari semua golongan. “Kopi Indonesia juga makin dikenal. Buat yang cewek, jangan takut minum kopi atau jadi barista. Karena kopi itu universal bukan sekedar minuman yang identik sama cowok,” pungkasnya. (tsa/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Relokasi Warga BKT Ditunda Pasca Lebaran

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Proses relokasi sebagian warga penghuni dan pedagang kaki lima (PKL) di bantaran Banjir Kanal Timur (BKT) yang belum dipindahkan, ditunda dan dilanjutkan setelah...

Tinggalkan Zona Nyaman, Berdayakan Warga Desa Mijen

RADARSEMARANG.COM - Tujuh tahun berada di zona nyaman sebagai pilot penerbangan swasta, Ershad justru banting setir menjadi pengusaha logam. Ia pun memberdayakan warga sekitar...

Tunggakan Pajak Capai Rp 2,1 T

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–Tunggakan pajak hingga pertengahan tahun 2018 ini mencapai Rp 2,1 triliun. Dari total jumlah tersebut, diperkirakan tidak lebih dari 50 persen yang dapat...

Tarik Mahasiswa Magang

RADARSEMARANG.COM - Dra Hj Amelia Rahmi MPd, dosen pembimbing Fakultas Dakwah UIN Walisongo Semarang, yang diterima Redaktur Pelaksana Jawa Pos Radar Semarang, Ida Nor...

Banjir Bandang Empat Tewas dan Dua Hilang

MUNGKID-Hujan deras yang melanda kawasan Gunung Merbabu sepanjang Sabtu sore (29/4) kemarin, menyebabkan banjir bandang di Hulu Sungai Elo Kabupaten Magelang. Banjir menerjang permukiman...

Berdoa Bersama untuk Pilkada Damai

RADARSEMARANG.COM, TEMANGGUNG - Ribuan jamaah dari berbagai daerah di wilayah Kabupaten Temanggung membanjiri pelataran Makam Ki Ageng Makukuhan Desa Kedu Kecamatan Kedu, Kamis (15/3)...