MENGANYAM: Siti Khoiriyah (42) warga dusun Senggrong Desa Terban sedang memilih bambu untuk dianyam menjadi peralatan dapur. Sebagian besar warga Senggrong merupakan pengrajin anyaman bambu dengan hasil yang masih dipasarkan di pasaran lokal. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENGANYAM: Siti Khoiriyah (42) warga dusun Senggrong Desa Terban sedang memilih bambu untuk dianyam menjadi peralatan dapur. Sebagian besar warga Senggrong merupakan pengrajin anyaman bambu dengan hasil yang masih dipasarkan di pasaran lokal. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

PABELAN – Di Desa Terban Kecamatan Pabelan terdapat sentra pembuatan kerajinan dari anyaman bambu. Sejumlah produk seperti besek, tompo, tenggok dan beberapa kerajinan lainnya dibuat oleh sebagian besar warga dusun Senggrong di Desa ini.

Kebanyakan warga di dusun ini memang memiliki keahlian membuat peralatan untuk kebutuhan sehari-hari dari anyaman bambu. Menyusuri dusun Senggrong, hampir di setiap rumah akan dijumpai potongan bambu yang terkadang disampingnya terdapat hasil kerajinan yang sudah, maupun yang baru setengah jadi. Jika beruntung, akan ditemui warga yang sedang mengerjakan kerajinan anyaman ini.

Sekdes : Adi Suseno. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Sekdes : Adi Suseno. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Hasil anyaman dari desa ini juga terbilang cukup banyak. Sayangnya, kata Adi Suseno sekdes Terban, hasil kerajinan masih dijual di pasaran lokal. Warga hanya bisa menjual produknya di Pasar Desa setempat setiap hari pasaran yakni Legi dan Wage.

”Memang banyak pengrajin anyaman bambu di sana. Tapi sayangnya ya masih sebatas pembuatan peralatan rumah tangga yang tergolong biasa. Jadi mereka berpikirnya yang penting laku,” kata Adi.

Dirinya mengatakan, jika saja para perajin mau berinovasi untuk membuat kerajinan yang tidak hanya itu-itu saja, menurutnya akan semakin meningkatkan harga jual. ”Misal membuat kap lampu, atau hiasan gitu kan bisa menaikkan niai jual. Tapi ini memang perlu contoh yang berhasil dulu agar masyarakat mau bergerak ke situ. Arahan sudah ada sebenarnya,” jelasnya.

Dalam hal ini, pemerintah desa juga tidak diam saja. Adi mengatakan, sejumlah pelatihan nantinya akan diberikan kepada para perajin anyaman bambu ini. Diharapkan pelatihan yang akan diberikan mampu memberikan dampak pada meluasnya jangkauan pasar hasil kerajinan warga Senggrong.

”Kalau sudah ada berbagai inovasi mungkin nanti penjualannya juga bisa dilakukan secara online. Nanti akan mengarah ke sana,” tegas Adi didampingi Muh Fauzan, staf Desa Terban saat menemui Jawa Pos Radar Semarang.

Tidak menutup kemungkinan, usaha ini juga akan dimasukkan dalam BUMDes di Desa Terban. Saat ini, BUMDes baru menjalankan unit usaha pasar desa dan pengelolaan air bersih untuk memperoleh pendapatannya.

Siti Khoiriyah (42) salah satu pengrajin anyaman bambu di dusun Senggrong mengatakan bahwa kebanyakan perajin memang belum tahu hendak menjual kemana selain ke pasar Desa. Selain dekat, hanya pasar Desa yang memungkinkan para perajin untuk menjual hasil kerajinannya tanpa harus mengeluarkan banyak biaya.

”Soalnya dekat. Kalau di bawa ke pasar yang jauh biayanya akan banyak. Selain di pasar situ, kami juga menerima pesanan membuat apa saja,” ujar Khoiriyah sembari menunjukkan hasil kerajinannya berupa dinding dari anyaman bambu yang baru setengah jadi.

Khoiriyah berharap adanya bantuan dalam hal pemasaran sehingga produk yang mereka hasilkan bisa menjagkau pasar yang lebih luas. (cr4/bas)